Kisah Pilu Degradasi Leicester City, saat Ambisi jadi Beban Mematikan

- Leicester City terpuruk hingga League One setelah tiga kali degradasi dalam empat tahun, akibat kehilangan arah permainan dan pergantian pelatih yang terlalu sering.
- Kekacauan di jajaran direksi pasca wafatnya Vichai Srivaddhanaprabha memicu keputusan manajemen yang tidak sinkron, memperburuk kondisi tim dan hubungan dengan suporter.
- Ambisi besar tanpa dukungan finansial kuat membuat Leicester City rugi besar, terkena pengurangan poin, dan terjebak dalam krisis ekonomi yang mengancam masa depan klub.
Siapa sangka, sepuluh tahun setelah dunia terperangah dengan capaian Leicester City di English Premier League (EPL) 2015/2016, kini justru berada di titik terendah. Jatuhnya The Foxes ke League One bukan sekadar nasib sial. Ini adalah potret kehancuran sebuah klub yang kehilangan arah dan tak lagi sanggup mereka bayar.
Dalam periode 4 tahun, Leicester City mengalami tiga degradasi, termasuk 2 musim beruntun yang membawa mereka dari Premier League, divisi Championship, lalu ke League One. Tim yang dikenal dulu sebagai batu sandungan bagi The Big Six, kini terlihat jauh dari kata kompetititf. Hal ini menunjukkan kemunduran mereka bersifat sistemik, bukan sekadar penurunan performa sesaat.
1. Pergantian pelatih hingga 7 kali dalam 3 musim membuat Leicester City kehilangan arah
Di atas kertas, skuad Leicester City 2025/2026 merupakan salah satu yang terbaik di divisi Championship. Namun, nama besar tidak menjamin kualitas di lapangan yang terbukti dengan raihan 1 kemenangan dari 18 laga terakhir. Meski bisa dibilang salah satu tim produktif dengan mencetak 56 gol per pekan ke-44, lini belakang mereka menjadi masalah utama dengan catatan 67 kali kebobolan, termasuk yang tertinggi di liga.
Masalah lain muncul dari komposisi skuad yang tidak ideal. The Foxes kekurangan penyerang murni yang konsisten, sementara beberapa pemain dengan gaji tinggi gagal memberikan kontribusi nyata. Kebijakan rekrutmen yang tidak selaras dengan kebutuhan taktis, serta ketergantungan kepada pemain-pemain lama membuat tim kehilangan arah dalam membangun identitas permainan. Krisis ini diperparah dengan peralihan kursi kepelatihan dalam 3 tahun. Dalam rentang waktu itu, Leicester City telah berganti manajer hingga tujuh kali, yang menciptakan inkonsistensi filosofi permainan hingga tak ada satu pun sistem yang benar-benar mengakar. Akibatnya, pemain kesulitan beradaptasi dan memahami peran di lapangan.
Hubungan antara pemain dan suporter juga retak. Sorakan ejekan sudah terdengar bahkan sebelum pertandingan dimulai, fenomena yang jarang terjadi dalam sejarah klub. Insiden Harry Winks yang beradu mulut dengan fans usai kalah dari Portsmouth pada pekan ke-43 liga memperjelas renggangnya jarak emosional yang terjadi di dalam klub.
2. Kacaunya jajaran direksi Leicester City menjadi akar masalah yang merembet ke lapangan
Permasalahan Leicester City yang tampak di lapangan dimulai sejak kehilangan figur sentral mendiang Vichai Srivaddhanaprabha. Anaknya, Aiyawatt Srivaddhanaprabha, yang menggantikan posisi sang ayah dianggap kurang mampu menghadirkan kepemimpinan yang tegas dan visioner. Krisis yang belum tuntas ini kemudian merembet ke bawah hingga menghadirkan berbagai masalah baru.
Struktur manajemen klub yang mandek menunjukkan masalah yang mengkhawatirkan. Ketergantungan kepada figur lama seperti Jon Rudkin, direktur olahraga klub, menciptakan minimnya evaluasi internal. Keputusan-keputusan strategis sering kali terlihat tidak sinkron dengan kebutuhan tim di lapangan memicu protes keras dari suporter kepada jajaran direksi.
Kesalahan demi kesalahan yang dibuat direksi membuat Leicester City kehilangan identitas dalam beberapa musim terakhir. Pemecatan Pelatih Marti Cifuentes saat posisi tim belum sepenuhnya kritis menjadi salah satu contoh keputusan gegabah yang mereka buat. Ini terlihat saat mereka membiarkan kursi kepelatihan kosong hingga 24 hari, sehingga berdampak langsung pada performa tim.
Kebijakan transfer yang acak-acakan kian memperuncing masalah internal, mulai dari pembelian pemain baru minim kontribusi hingga kehilangan aset berharga secara gratis. Situasi ruang ganti pun menjadi panas akibat status kontrak para pemain yang menggantung. Dampaknya, fokus dan semangat bertanding tim merosot karena sulitnya menuntut profesionalisme pemain di tengah krisis manajemen.
3. Leicester City rugi besar akibat ambisi yang tak sebanding dengan kekuatan finansial
Masalah finansial kemudian menjadi faktor krusial yang mempercepat jatuhnya Leicester City. Mereka dikenai pengurangan enam poin karena pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR) akibat melampaui batas kerugian sebesar 20,8 juta pound sterling (Rp483,4 miliar) dalam kurun 3 tahun. Namun, hukuman ini bukan penyebab utama degradasi karena mereka tetap berada di zona merah meski tanpa pengurangan poin.
Laporan keuangan tim menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Dilansir Telegraph, Leicester City mencatat kerugian fantastis sebesar 71,1 juta pound sterling atau setara Rp1,652 triliun pada 2024/2025. Angka ini terlihat lebih tragis karena mereka mengeluarkan uang jauh lebih banyak untuk membayar pemain daripada seluruh pendapatan yang berhasil mereka kumpulkan.
Ketergantungan pada suntikan dana luar membuat kondisi finansial Leicester City makin runyam. Klub memanfaatkan pinjaman dari Macquarie Group, grup perbankan asal Australia, dengan cara menggadaikan pemasukan masa depan. Namun, strategi gali lubang tutup lubang ini justru mengorbankan stabilitas jangka panjang demi mempertahankan status kompetitif yang semu.
Penurunan pendapatan akibat degradasi menjadi pukulan telak berikutnya. Dari sekitar 187 juta pound sterling (Rp4,347 trilun) saat di Premier League, pendapatan mereka turun menjadi sekitar 100 juta pound sterling (Rp2,234 triliun) di Championship, dan diprediksi menurun menjadi sekitar 60 juta pound sterling (Rp1,394 triliun) ketika di League One. Mau tak mau, mereka melakukan penyesuaian besar-besaran dalam struktur pembiayaan.
Regulasi League One yang membatasi pengeluaran gaji hanya 60 persen dari total pendapatan bakal menjadi masalah baru klub untuk mengatur komposisi skuad. Nilai pasar pemain yang anjlok akibat turun kasta makin mempersulit langkah klub untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka. Alhasil, sisa dana parachute payments yang kian menipis tak lagi sanggup menambal lubang finansial akibat kelalaian manajemen pada masa lalu.
Saat ini, mereka harus menerima kenyataan pahit kemampuan keuangan mereka sudah tidak mampu lagi mengimbangi ambisi untuk tetap bersaing di level atas. Ambisi klub untuk tetap kompetitif tanpa landasan keuangan yang stabil menjadi gambaran nyata dari fenomena financial overreach. Pada akhirnya, kejatuhan pun menjadi hal yang tak terelakkan ketika performa di lapangan tak lagi sanggup menopang beratnya beban tekanan finansial yang ada.
Dengan kondisi saat ini, Leicester City harus melakukan perubahan total atau makin hancur. Tanpa adanya transformasi, drama kejatuhan The Foxes bisa saja memburuk pada masa mendatang.

















