Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Lionel Messi, Antara Ulangi Luka Maradona atau Catat Sejarah di Piala Dunia

Lionel Messi, Antara Ulangi Luka Maradona atau Catat Sejarah di Piala Dunia
Kapten Argentina, Lionel Messi, merayakan gol ke gawang Mesir dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 (AFP / Thomas Coex)
Intinya Sih
  • Messi menyamai capaian Maradona dengan membawa Argentina ke final Piala Dunia dua edisi beruntun, menciptakan situasi mirip antara 1986–1990 dan 2022–2026.
  • Argentina di bawah Messi menghadapi kritik soal permainan keras dan dugaan bantuan wasit, namun tetap melaju ke final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol.
  • Messi kini dihadapkan pada dua pilihan: mengulang kegagalan Maradona tahun 1990 atau menebus luka masa lalu dengan membawa Argentina juara dunia beruntun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Diego Maradona memang pernah jadi juara Piala Dunia 1986. Namun, ada luka yang dideritanya, dan sekarang Lionel Messi berpotensi besar mengulangi atau menghilangkan luka tersebut.

Saat ini, Messi berhasil menyamai capaian Maradona, membawa Argentina ke final Piala Dunia dalam dua edisi beruntun. Maradona melakukannya pada 1986 dan 1990, lalu Messi pada 2022 dan 2026.

Situasi Messi kini serupa dengan Maradona pada final Piala Dunia 1990. Dengan status juara bertahan, Argentina kembali main di final dan membuka peluang juara back-to-back.

1. Maradona tetap membawa Argentina ke final

Maradona, meski berstatus pemain senior dan sudah masuk usia senja, berhasil menunjukkan magisnya dengan membawa Argentina tampil impresif di Piala Dunia 1990. Dihujani kritik karena Argentina tampil terlalu bertahan dan kerap mengandalkan fisik, mereka malah masuk final.

Salah satu performa terbaik Maradona hadir dalam laga semifinal lawan Italia, tatkala bisa menyihir publik Naples untuk mendukung Argentina. Sialnya, Argentina tak berdaya di final.

Berhadapan dengan Jerman Barat, Argentina bertahan total sepanjang laga. Sampai akhirnya, gol Andreas Brehme pada menit 85 gagal membawa Maradona dan Argentina menjadi juara Piala Dunia dalam dua edisi beruntun.

2. Situasi Messi tak jauh beda di edisi 2026

Uniknya, situasi Messi dan Argentina di Piala Dunia 2026 tidak jauh beda dengan 1990 lalu. Jika saat itu Argentina dikritik karena defensif dan kelewat keras, saat ini kritik datang karena dua hal.

Pertama, Argentina dikritik karena dianggap kerap dibantu wasit, terutama dalam laga babak 16 besar melawan Mesir. Kedua, mereka juga disebut kelewat keras, tetapi selalu aman dari pantauan wasit. Terlepas dari itu semua, Messi dan Argentina tetap melaju ke final Piala Dunia 2026 dengan status juara bertahan dan harus berhadapan dengan Spanyol.

3. Ada dua pilihan bagi Messi

Sekarang ada dua pilihan bagi Messi. Dia bisa mengulangi kegagalan Maradona pada 1990, urung membawa Argentina menjuarai Piala Dunia secara beruntun, di tengah kencangnya kritik yang mendera.

Kedua, Messi bisa menepis luka masa lalu Maradona dengan mengalahkan Spanyol di final Piala Dunia 2026. Dengan begitu, Argentina bisa menyamai catatan Italia dan Brasil, yang menjadi juara dunia secara beruntun.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More