Saat Arsenal Membuat Kejutan di Final UEFA Cup Winners’ Cup 1994

- Arsenal melaju ke final Liga Champions 2025/2026 tanpa kekalahan, mengulang prestasi serupa saat menembus final UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994 dengan catatan tak terkalahkan sepanjang turnamen.
- Pada final 1994, Arsenal berstatus underdog menghadapi Parma karena absennya pemain kunci seperti Ian Wright, Martin Keown, dan John Jensen, sementara lawan merupakan juara bertahan dengan performa stabil.
- Gol voli Alan Smith menjadi penentu kemenangan Arsenal atas Parma di Parken Stadium, membawa mereka juara UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994 lewat pertahanan solid dan strategi efektif George Graham.
Arsenal berhasil lolos ke final Liga Champions Eropa (UCL) 2025/2026 usai menyingkirkan Atletico Madrid dengan agregat 2-1 pada semifinal. Namun, mereka mendapat ujian sangat berat untuk mengangkat trofi kompetisi ini untuk pertama kalinya. Tim asuhan Mikel Arteta harus berhadapan dengan Paris Saint-Germain pada laga puncak yang berlangsung 30 Mei 2026 nanti.
Martin Odegaard dan kolega bakal berstatus sebagai underdog pada pertandingan yang berlangsung di Puskas Arena, Hungaria, itu mengingat sang lawan yang merupakan juara bertahan. Namun, mereka tidak perlu berkecil hati. Pasalnya, selain memiliki kualitas, pendahulunya pernah membuat kejutan serupa ketika menjuarai UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994.
1. Arsenal lolos ke final UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994 tanpa terkalahkan
Arsenal lolos ke final Liga Champions 2025/2026 tanpa terkalahkan. Mereka menang 11 kali dan 3 laga lain berakhir seri. Ini mirip seperti ketika menembus partai puncak UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994.
Saat itu, Arsenal juga 3 kali imbang dan menyapu bersih 5 pertandingan lainnya dengan kemenangan. Rinciannya, mereka menang 2-1 dan imbang 1-1 dengan Odense, membantai Standard Liege 3-0 dan 7-0, seri 0-0 dan menang 1-0 atas Torino, serta imbang 1-1 dan menang 1-0 kontra Paris Saint-Germain. Arsenal sendiri tampil di Winner’s Cup 1993/1994 karena menjuarai Piala FA 1992/1993.
Sebagai catatan, seperti tampak dari namanya, Winner’s Cup memang kompetisi yang diikuti para pemenang kompetisi setara Piala FA. Ajang ini eksis pada 1960—1999. Namun, UEFA baru mengelolanya mulai 1963.
2. Faktor internal dan eksternal membuat Arsenal menjadi underdog pada final UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994
Parma menjadi lawan Arsenal pada final UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994. Mereka dijadwalkan bertarung di Parken Stadium, Denmark, pada 4 Mei 1994. Arsenal berstatus sebagai underdog karena beberapa hal. Dari sisi eskternal, Parma lebih diunggulkan untuk menang mengingat mereka merupakan juara bertahan. Performa mereka di liga domestik musim sebelumnya juga lebih baik dengan menempati peringkat ketiga. Sementara, Arsenal cuma bertengger di posisi sepuluh.
Dari faktor internal, Arsenal tidak berada dalam kondisi ideal jelang final. Ian Wright sudah dipastikan absen karena harus menjalani akumulasi kartu usai mengantongi kartu kuning pada leg kedua semifinal melawan Paris Saint-Germain. Ia melakukan tackle kepada Alain Roche dan langsung menyesali aksinya itu sampai menangis usai Peter Mikkelsen memberinya kartu kuning. Ini merupakan kehilangan yang besar mengingat striker asli Inggris tersebut merupakan top skor mereka.
Bukan hanya Wright, pelatih Arsenal, George Graham, juga tidak bisa mengandalkan dua personel kunci lain gara-gara cedera. Pertama adalah bek tengah andalannya, Martin Keown. Kedua adalah John Jensen, gelandang utama sekaligus mesin permainan tim. Bagi Jensen, kegagalan bermain pada final makin menyakitkan mengingat ia merupakan pria asli Denmark. David Hillier bernasib sama seperti Keown dan Jensen. Namun, perannya memang tidak terlalu krusial.
3. Gol indah Alan Smith membuat Arsenal menang pada final UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994
Arsenal dan Parma akhirnya bertanding di Parken Stadium pada 4 Mei 1994. Dengan ketiadaan Ian Wright serta John Jensen, George Graham memilih memadatkan lini tengah. Ia memasang lima gelandang dan membiarkan Alan Smith bermain sebagai striker tunggal. Sementara itu, satu pos bek tengah yang ditinggalkan Martin Keown diisi Steve Bould. Ia bertandem dengan sang kapten, Tony Adams. Arsenal pun bermain dengan formasi 4-5-1, keluar dari pakem utama 4-4-2.
Sementara itu, Parma yang dilatih Nevio Scala tampil dengan skema andalannya, 5-3-2. Gianfranco Zola dan Faustino Asprilla berduet di depan dengan Tomas Brolin di belakangnya. Nama terakhir langsung meneror pertahanan Arsenal. Ia menanduk crossing Antonio Benarrivo pada menit keempat. Beruntung bagi Arsenal, bola masih meninggi di atas gawang David Seaman. Dewi Fortuna kembali menaungi Arsenal pada menit 14. Kali ini, tembakan mendatar Brolin digagalkan tiang.
Enam menit setelah momen bahaya tersebut, Arsenal mendapatkan gol tunggal yang membuat mereka menjadi juara. Semua berawal dari lemparan ke dalam yang dilepaskan Lee Dixon. Setelah menerima backpass dari Smith, Dixon mengirim umpan panjang kepada Paul Merson. Kapten Parma, Lorenzo Minotti, melakukan sapuan dengan salto. Namun, Smith berhasil menguasai rebound. Ia mengontrol bola dengan dada dan menghajarnya dengan voli dari luar kotak penalti.
Arsenal menjuarai UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994 berkat satu momen ofensif brilian. Namun, kesuksesan ini tidak bakal terjadi tanpa penampilan impresif mereka ketika bertahan. Arsenal memiliki modal yang sama jelang final Liga Champions Eropa 2025/2026. Sebab, mereka memang dikenal sebagai tim yang memukau secara defensif. Sebaliknya, Paris Saint-Germain begitu mengesankan ketika menyerang. Lantas, akankah Arsenal kembali membuat kejutan?



















