Trump Klaim Piala Dunia 2026 di AS Sukses, Faktanya Banyak Kontroversi

- Donald Trump mengklaim Piala Dunia 2026 di AS sukses besar dan menyebut negaranya kini layak disebut sebagai negara sepak bola.
- Penyelenggaraan turnamen dipenuhi kontroversi, mulai dari perlakuan terhadap tim Iran hingga deportasi wasit dan pemain Irak yang menimbulkan ketegangan antar peserta.
- Kasus intervensi Trump dalam skorsing Folarin Balogun memicu skandal besar di FIFA, memperlihatkan dugaan bias dan pelanggaran prosedur dalam pengambilan keputusan disipliner.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di negaranya sukses. Menurut Trump, kesuksesan itu membuat AS sekarang bisa disebut sebagai negara sepak bola.
"Ternyata, kami ini negara sepak bola dan saya pikir akan seperti itu. Ini benar-benar membawa dunia berjalan bersama," kata Trump, dilansir France24.
1. Klaim yang dipertanyakan
Klaim Trump sebenarnya cukup dipertanyakan. Sebab, selama Piala Dunia 2026 digelar di AS, banyak kontroversi yang menyelimutinya.
Semua dimulai dari bagaimana perlakuan AS terhadap Iran yang berkompetisi di Piala Dunia 2026. Iran susah berkegiatan di AS karena berbagai pembatasan imbas dari perang yang terjadi.
Kemudian, wasit asal Somalia, Omar Artan, sempat dideportasi karena dianggap oleh otoritas Imigrasi Amerika Serikat, ICE, terhubung dengan jaringan teroris. Serta sejumlah penggawa Irak harus dideportasi karena alasan tak diungkapkan.
Selain itu, beberapa skuad peserta malah digeledah bak teroris atau pelaku kriminal. Hal itu membuat sejumlah partisipan tak nyaman karena mereka ke stadion hanya untuk berlaga dalam turnamen sepak bola.
2. Sempat ada intervensi dalam kasus Balogun
Pemerintahan Trump tak cuma menciptakan kontroversi dalam urusan imigrasi, tetapi juga ketika turnamen berjalan. Saat AS dipastikan kehilangan Folarin Balogun akibat melanggar bek Uzbekistan, Tarek Muharemovic, Trump bertindak.
Dia menghubungi FIFA tiga kali agar kartu merah Balogun ditangguhkan. Pada akhirnya, permintaan itu dipenuhi dan FIFA tersandung dalam skandal terbesarnya.
3. FIFA berkilah, faktanya memang aneh
Kasus Balogun membuktikan jika FIFA telah mengalami bias dalam pengambilan keputusan. Mereka dianggap sudah membuka ruang intervensi politik.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, berkilah organisasinya netral. Namun, ada temuan yang menunjukkan, panel Komisi Disiplin FIFA tak bertindak sesuai prosedur, karena hanya satu orang yang mengambil keputusan atas kasus Balogun.

















