Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspadai Permainan Kasar Argentina, Laporte Tuntut Wasit Tegas

Waspadai Permainan Kasar Argentina, Laporte Tuntut Wasit Tegas
Aymeric Laporte dari Spanyol menendang bola selama pertandingan 16 Besar Piala Dunia 2026 antara Portugal dan Spanyol di Stadion Dallas pada 6 Juli 2026 di Arlington, Texas. (Getty Images via AFP/Alex Slitz)
Intinya Sih
  • FIFA menunjuk wasit Slovenia, Slavko Vincic, untuk memimpin final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, sementara Aymeric Laporte meminta ketegasan agar laga tetap terkendali.
  • Laporte menilai Argentina kerap bermain keras dan provokatif di fase gugur, sehingga ia mendesak wasit lebih tegas demi menjaga ritme serta kualitas pertandingan.
  • Lionel Messi menanggapi tudingan bahwa Argentina sering dibantu wasit dengan santai, menegaskan keberhasilan timnya ke final adalah hasil kerja keras kolektif, bukan keberuntungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - FIFA menunjuk wasit asal Slovenia, Salvko Vincic, untuk memimpin duel Spanyol vs Argentina di final Piala Dunia 2026, Senin dini hari WIB (20/7/2026). Bek Spanyol, Aymeric Laporte, menuntut ketegasan dari Vincic di atas lapangan.

Itu karena Laporte meyakini partai perebutan gelar juara nanti bakal berlangsung panas. Vincic harus mampu mengendalikan jalannya pertandingan dan tidak boleh abai ketika melihat adanya pelanggaran keras.

1. Tuding Argentina terlalu andalkan fisik dan provokasi

Gelandang Argentina bernomor punggung 24, Enzo Fernandez, merayakan gol pertama timnya selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026.
Gelandang Argentina bernomor punggung 24, Enzo Fernandez, merayakan gol pertama timnya selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juli 2026. (AFP/Thomas Coex)

Laporte menyoroti permainan Argentina yang mengandalkan kontak fisik keras, khususnya di fase gugur, termasuk ketika menyingkirkan Inggris di semifinal. TNT Sports melansir, Argentina melakukan tiga pelanggaran keras di tiga menit awal, termasuk insiden Leandro Paredes dan Enzo Fernandez. Namun, wasit baru memberikan kartu kuning pertama untuk Argentina pada menit 42.

"Mereka adalah tim yang suka meninggalkan bekas kepada lawan-lawannya. Hal seperti itu tidak seharusnya dibiarkan dalam sepak bola, terutama di kompetisi sebesar ini karena bisa mengganggu konsentrasi dan memancing emosi," kata Laporte.

2. Desak wasit tegas agar laga tidak jadi kacau

Ilustrasi kartu merah
Ilustrasi kartu merah. (IDN Times/Aditya Pratama).

Laporte mengaku tidak mempermasalahkan permainan agresif asalkan masih berada dalam koridor aturan main. Namun, ia menyayangkan banyaknya insiden kasar di laga-laga sebelumnya yang dibiarkan begitu saja tanpa hukuman tegas dari sang pengadil lapangan.

Padahal, ketegasan wasit sangat krusial untuk menjaga ritme dan kualitas permainan dari kedua kesebelasan. Abai sedikit saja, laga terancam penuh kekacauan.

"Memang benar bahwa dalam beberapa pertandingan terakhir kami melihat hal-hal yang benar-benar mengejutkan, tindakan-tindakan yang dibiarkan begitu saja. Jika satu atau dua pemain dibiarkan bertindak seperti itu, pertandingan akan berubah menjadi kekacauan," ujar Laporte.

3. Respons Messi soal Argentina yang diklaim suka dibantu wasit

Penyerang Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, bereaksi saat terjatuh ke lapangan di samping bek Inggris.
Penyerang Argentina bernomor punggung 10, Lionel Messi, bereaksi saat terjatuh ke lapangan di samping bek Inggris bernomor punggung 25, Djed Spence, selama pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 antara Inggris dan Argentina di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 16 Juli 2026. (AFP/Jewel Samad)

Di sisi lain, lewat permainan kerasnya, Argentina pun tak lepas dari anggapan miring. Pasukan Lionel Scaloni bahkan dicap "anak FIFA" dan sering "dibantu" wasit untuk memetik hasil manis.

Menyoal anggapan tersebut, Lionel Messi memilih untuk tutup telinga. Sang kapten menyatakan keberhasilan La Albiceleste ke final merupakan buah dari kerja keras secara kolektif.

"Biarkan saja itu (anggapan Argentina dibantu wasit) menyebar. Intinya, apa yang kami capai sekarang sangat luar biasa. Kami melaju ke final lagi. Apa yang kami capai sekarang adalah bukti, bahwa kami tak melulu mengandalkan keberuntungan, karena bisa ke final Piala Dunia dua kali beruntun adalah sesuatu yang jarang terjadi," kata Messi dikutip dari Athlon Sports.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More