Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Game eFootball Tidak Lagi Sama Seperti Era PES?

Kenapa Game eFootball Tidak Lagi Sama Seperti Era PES?
eFootball (dok. KONAMI/eFootball)
Intinya Sih
  • Konami mengganti seri PES menjadi eFootball pada 2021 dengan model free-to-play berbasis layanan online, mengubah arah pengembangan dari mode karier offline ke fokus kompetisi daring.
  • Mode klasik seperti Master League digantikan oleh Dream Team yang menekankan pengumpulan kartu pemain dan sistem hadiah, membuat pengalaman bermain lebih berorientasi pada event dan misi.
  • Mikrotransaksi kini menjadi sumber pendapatan utama eFootball, sementara pembaruan rutin menggantikan perilisan tahunan, memunculkan perbedaan besar dibanding era PES yang penuh fitur tanpa biaya tambahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Nama Pro Evolution Soccer (PES) dan Winning Eleven pernah menjadi standar emas game sepak bola yang menawarkan pengalaman bermain lengkap. Satu judul game sudah menghadirkan Master League, Become a Legend, pertandingan lokal, turnamen, hingga berbagai fitur yang dapat dinikmati tanpa biaya tambahan. Tidak heran jika era tersebut masih dikenang sebagai masa keemasan game sepak bola buatan KONAMI.

Perubahan besar terjadi ketika KONAMI menghentikan seri PES dan menggantinya menjadi eFootball pada 2021. Arah pengembangannya ikut berubah menuju model free-to-play yang mengandalkan layanan online. Pergeseran itu memunculkan pertanyaan kenapa eFootball sangat berbeda dibanding pendahulunya. Berikut lima alasan kenapa eFootball tidak lagi sama seperti era PES dan Winning Eleven.

1. Master League tidak lagi menjadi pusat permainan

Messi di eFootball
Messi di eFootball (dok. Konami/eFootball)

Pada era PES dan Winning Eleven, Master League menjadi mode yang paling banyak dimainkan. Pemain dapat membangun klub dari nol, merekrut pemain, mengembangkan akademi, hingga mengejar gelar selama puluhan musim. Mode tersebut mampu menghadirkan pengalaman bermain yang bertahan berbulan-bulan. Setelah berubah menjadi eFootball, KONAMI lebih memprioritaskan layanan online daripada mode karier single player. Master League yang sempat dijanjikan sebagai konten tambahan hingga saat ini belum menjadi bagian utama pengalaman bermain.

2. Dream Team menggantikan pengalaman klasik

Barcelona di eFootball
Barcelona di eFootball (dok. Konami/eFootball)

Fokus utama eFootball saat ini berada pada Dream Team. Pemain diminta mengumpulkan kartu pesepak bola, menyusun skuad, lalu bertanding secara online maupun melawan AI untuk memperoleh hadiah. Sistem tersebut menjadi fondasi utama perkembangan game. Konsep ini berbeda jauh dari PES yang lebih mengutamakan kebebasan pemain menikmati seluruh mode sejak awal. Pengalaman bermain pun berubah dari membangun klub dalam jangka panjang menjadi mengoleksi pemain melalui berbagai event dan misi.

3. Mikrotransaksi semakin mendominasi

mikrotransaksi di eFootball
mikrotransaksi di eFootball (dok. Konami/eFootball)

Sebagai game gratis, eFootball memperoleh pemasukan melalui penjualan koin, paket pemain, dan berbagai item premium. Pemain memang masih dapat menikmati game tanpa membayar, tetapi proses membangun tim impian biasanya berjalan lebih cepat melalui pembelian konten digital. Model bisnis ini menjadi sumber pendapatan utama KONAMI. Pada era PES, transaksi tambahan hampir tidak menjadi bagian dari pengalaman bermain. Setelah membeli game, seluruh fitur utama sudah dapat diakses. Perbedaan itulah yang paling sering dibahas komunitas hingga sekarang.

4. Pembaruan rutin menggantikan seri tahunan

Lamine Yamal di eFootball
Lamine Yamal di eFootball (dok. Konami/eFootball)

Setiap seri PES dahulu selalu hadir membawa peningkatan yang cukup terasa. Peluncuran edisi terbaru menjadi momen yang selalu dinantikan setiap tahun. Tradisi tersebut akhirnya berakhir ketika KONAMI mengubah PES menjadi eFootball. Saat ini eFootball berkembang melalui pembaruan musim secara berkala. Sistem seperti ini menjaga basis pemain tetap berada dalam satu ekosistem. Namun, sebagian penggemar merasa sensasi menunggu seri baru ikut menghilang.

5. Nostalgia bukan satu-satunya penyebab

gameplay eFootball
gameplay eFootball (dok. Konami/eFootball)

Sebagian orang menganggap kerinduan terhadap PES hanya dipengaruhi nostalgia. Anggapan itu memang ada benarnya, tetapi perubahan arah pengembangan juga menjadi faktor penting. Fokus pada mode offline yang kaya fitur perlahan bergeser menuju layanan online yang terus diperbarui.

Di sisi lain, eFootball tetap memiliki sejumlah keunggulan seperti pembaruan skuad yang lebih cepat, grafis yang terus berkembang, serta kompetisi daring yang aktif sepanjang tahun. Perbedaan filosofi pengembangan inilah yang membuat eFootball dan PES seperti dua game yang memiliki identitas berbeda.

KONAMI masih terus memperbarui eFootball melalui musim baru, lisensi, dan event yang berlangsung sepanjang tahun. Meski begitu, permintaan penggemar agar mode Master League dan Become A Legend kembali masih menjadi salah satu aspirasi terbesar hingga saat ini. Nah, apakah kamu salah satu orang yang merindukan bagaimana serunya era PES dan Winning Eleven?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More