Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

2 Profil Gen Z Asal Indonesia yang Diundang ke Acara Apple WWDC 2026

2 Profil Gen Z Asal Indonesia yang Diundang ke Acara Apple WWDC 2026
ilustrasi Apple Store (apple.com)
Intinya Sih
  • Dua developer muda Indonesia, Ghazali Ahlam Jazali dan Francesco Emmanuel Setiawan, diundang ke Apple WWDC 2026 setelah menjadi pemenang Swift Student Challenge mewakili Asia Tenggara.
  • Ghazali menciptakan aplikasi interaktif 'They Have Your Fingerprint!' yang mengedukasi pengguna tentang ancaman privasi digital melalui simulasi teknik pelacakan canvas fingerprinting.
  • Francesco mengembangkan game 'Against the Silence' yang membantu pemain melatih keberanian berbicara spontan dengan menghadapi ketakutan akan penilaian orang lain secara gamified.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Worldwide Developers Conference (WWDC) 2026 akan digelar di Apple Park pada bulan Juni yang akan datang. Bersamaan dengan itu, 50 pemenang yang mewakili 37 negara dan wilayah dari program SWIFT Student Challenge akan didatangkan.

Mereka akan mengikuti pengalaman tiga hari yang dirancang khusus. Selama seminggu, para siswa akan memiliki kesempatan untuk menonton keynote secara langsung, belajar dari para ahli dan insinyur Apple, serta berpartisipasi dalam sesi praktik langsung.

Para siswa dari Asia Tenggara dikatakan oleh Enwei Xie, Senior Director, Worldwide Developer Relations bahwa mereka bersinar dalam SWIFT Student Challenge. Adapun lima dari pemenang terkemuka tersebut berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Berikut adalah profil siswa yang berasal dari Indonesia.

Developer They Have Your Fingerprint!

1.png
Ghazali Ahlam Jazali menciptakan aplikasi 'They Have Your Fingerprint!' (dok. Apple)

Ghazali Ahlam Jazali menciptakan inovasi yang dia namakan sebagai 'They Have Your Fingerprint!'. Ia menangani masalah privasi yang sering diabaikan.

Banyak orang salah mengira bahwa cukup menghapus cookie untuk melindungi privasi online, tanpa menyadari bahwa metode pelacakan canggih tetap beroperasi secara tersembunyi di latar belakang.

Untuk mengungkap hal ini, ia membangun aplikasi dengan mini-game interaktif yang berpusat pada canvas fingerprinting, teknik pelacakan canggih yang mengidentifikasi pengguna melalui perbedaan halus dalam cara perangkat menampilkan font, warna dan emoji.

They Have Your Fingerprint 2.png
Aplikasi They Have Your Fingerprint! (dok. Apple)

Aplikasi They Have Your Fingerprint! ini secara cerdik menempatkan pengguna pada perspektif seorang pelacak. Untuk membuat konsep yang sangat abstrak ini menjadi nyata dan mudah dipahami, informasi disajikan melalui serangkaian dokumen virtual yang dirancang secara sengaja, termasuk label nama, paspor, kartu maskapai penerbangan, dan tiket menu—dokumen-dokumen yang relevan dengan kehidupan sehari-hari banyak orang.

“Tujuan saya adalah mengubah ancaman privasi yang tak terlihat seperti canvas fingerprinting menjadi sesuatu yang terlihat sehingga orang dapat benar-benar memahaminya," ujar Ghazali.

Lebih dalam dia mengatakan bahwa dinobatkan sebagai pemenang Swift Student Challenge menjadi kehormatan luar karena hal ini menunjukkan bahwa Apple tidak hanya menghargai cara menulis kode, tetapi juga masalah dunia nyata yang kami ingin diselesaikan.

Pengembang aplikasi Against the Silence

IMG-20260515-WA0007.jpg
Francesco Emmanuel Setiawan bangun aplikasi Against the Silence (dok. Apple)

Ide di balik karya Francesco Emmanuel Setiawan, 'Against the Silence', sangat personal. Tumbuh dengan kecemasan sosial, Francesco sering memilih diam daripada bersuara. Bahkan setelah mendapatkan kepercayaan diri, berbicara secara spontan tetap menjadi tantangan. Ketika ia mewawancarai 22 profesional muda, 75 persen di antaranya mengalami kesulitan yang sama.

Berbicara di depan umum, menurutnya, tidak hanya memengaruhi kemampuan kerja, tetapi juga kepemimpinan, hubungan, dan peluang secara luas. Namun, berlatih sendirian kurang memiliki akuntabilitas, dan berlatih bersama orang lain bisa terasa menakutkan.

Terinspirasi oleh kegiatan berbicara spontan yang pernah membantunya, Francesco menciptakan sebuah permainan di mana para pemain harus menghadapi “setan...” metaforis—perwujudan dari rasa takut akan penilaian orang lain—dan mengalahkannya dengan suara mereka.

Title Screen.png
Aplikasi Against the Silence (dok. Apple)

Para pemain ditantang untuk membela pendapat yang tidak populer, seperti alasan mengapa nanas cocok ditambahkan ke pizza, dengan menggunakan kata-kata tertentu yang ditentukan sambil menghindari kata-kata lain. Kata-kata pengisi seperti ‘umm’ atau 'hmm' akan mengurangi skor, sehingga setiap putaran menjadi momen pertumbuhan yang dapat diukur.

“Dinobatkan sebagai Swift Student Challenge Distinguished Winner lebih dari sekadar penghargaan bagi saya. Ini adalah bukti bahwa perjuangan pribadi kita dapat diubah menjadi alat yang membantu orang lain," Francesco mengatakan.

"Tumbuh dengan kecemasan sosial, saya dulu membiarkan rasa takut akan penilaian orang lain membungkam saya. Kini diakui oleh Apple atas aplikasi yang membantu orang mengatasi rasa takut yang samqa persis adalah kehormatan luar biasa dan pengakuan tertinggi atas perjalanan saya,” lanjutnya.

Kedunya telah diundang untuk menghadiri WWDC di Apple Park pada bulan Juni, di mana pemenang akan mengikuti pengalaman tiga hari yang dirancang khusus. Selama seminggu, para siswa akan memiliki kesempatan untuk menonton keynote secara langsung, belajar dari para ahli dan insinyur Apple, serta berpartisipasi dalam sesi praktik langsung.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More