Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Banyak yang Keliru, Ini 7 Kesalahpahaman Umum tentang AI

jonathan-kemper-MMUzS5Qzuus-unsplash.jpg
ilustrasi ChatGPT (unsplash.com/Jonathan Kemper)
Intinya sih...
  • AI tidak akan menggantikan kecerdasan manusia
  • AI diciptakan untuk kolaborasi, bukan penggantian pekerjaan manusia
  • AI tidak dapat bertindak secara otonom dan memiliki keterbatasan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin sering hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi film, asisten virtual, hingga sistem penilaian kredit. Sayangnya, popularitas AI juga dibarengi dengan berbagai kesalahpahaman yang membuat teknologi ini kerap dipandang berlebihan atau justru ditakuti tanpa alasan yang tepat. Banyak orang mengira AI adalah “otak super” yang bisa berpikir dan bertindak seperti manusia, padahal realitasnya jauh lebih kompleks dan terbatas.

Kesalahpahaman tentang AI tidak hanya muncul di kalangan awam, tetapi juga sering terbentuk dari pemberitaan sensasional, film fiksi ilmiah, atau istilah teknis yang disederhanakan secara keliru. Jika dibiarkan, pandangan yang salah ini bisa menghambat pemanfaatan AI secara bijak dan realistis. Karena itu, penting untuk memahami apa yang benar-benar bisa dan tidak bisa dilakukan oleh AI, agar kita tidak terjebak antara ekspektasi berlebihan dan ketakutan yang tidak perlu.

1. AI akan menggantikan kecerdasan manusia

AI memang diciptakan untuk mengungguli manusia dalam tugas-tugas berulang dan terstruktur. Namun, dalam hal pengambilan keputusan atau pembelajaran sendiri, AI tidak sepenuhnya otonom. AI bekerja melalui sejumlah besar data untuk mengekstrak informasi kunci, terlepas dari struktur dan kompleksitasnya, dan membuat data tersebut tersedia bagi pengambil keputusan manusia.

AI membantu mempermudah dan meningkatkan kualitas pekerjaan manusia. Namun, AI tidak akan menggantikan kemampuan manusia untuk menghasilkan ide-ide yang sepenuhnya baru atau memecahkan banyak masalah kompleks. Pada tahap ini, AI masih membutuhkan intervensi manusia untuk tugas-tugas penting guna memvalidasi output-nya.

2. AI diciptakan untuk menggantikan pekerjaan manusia di masa depan

Banyak yang beranggapan bahwa AI sengaja diciptakan untuk menggantikan pekerja manusia. Namun, kenyataannya AI lebih tentang kolaborasi daripada penggantian. Alih-alih mengambil pekerjaan, sistem AI dapat secara signifikan meningkatkan produktivitas karyawan dengan mengotomatiskan tugas-tugas rutin dan memungkinkan tim untuk fokus pada aktivitas yang bernilai lebih tinggi.

Sebaliknya, AI diperkirakan akan menciptakan jutaan pekerjaan baru secara global. Perusahaan seperti Amazon menggunakan AI untuk menyederhanakan proses, yang pada gilirannya menciptakan posisi baru yang berfokus pada pengelolaan dan pengawasan sistem AI ini.

3. AI dapat bertindak secara otonom

solen-feyissa-Aj7cDaR6QXs-unsplash.jpg
ilustrasi ChatGPT (unsplash.com/Solen Feyissa)

Kendati AI dapat meniru kecerdasan manusia, teknologi ini tidak mampu berpikir secara individual dan sadar. Algoritma pembelajaran mendalamnya belajar dari sejumlah besar data, tetapi mereka tidak menunjukkan emosi, motivasi, atau pemikiran berdasarkan pengalaman. AI beradaptasi melalui pola yang dipelajari dan data yang diinterpretasikan. AI yang memiliki kesadaran tetap menjadi topik fiksi ilmiah.

4. AI dan machine learning adalah dua hal yang sama

Orang sering kali menganggap AI, machine learning, dan deep learning adalah hal yang sama. Padahal, yang benar, machine learning dan deep learning adalah sub-bidang AI, di mana komputer belajar dan mengenali pola dari kumpulan data besar. Kemampuan machine learning dapat bervariasi, sedangkan deep learning adalah teknologi jaringan saraf dengan algoritma yang dirancang untuk meniru otak manusia.

5. AI membutuhkan kumpulan data yang sangat besar

Terdapat kepercayaan umum bahwa kumpulan data besar merupakan prasyarat untuk AI. Namun, kenyataannya adalah bahwa kumpulan data yang lebih kecil dan berkualitas tinggi juga dapat menghasilkan wawasan yang bermakna. 

Kualitas data seringkali lebih penting daripada kuantitasnya, dan metode seperti pembuatan data sintetis dapat melengkapi kumpulan data kecil yang ada. Alat seperti AutoML Google dirancang untuk membantu bisnis dari semua ukuran menerapkan AI secara efektif.

6. AI tidak bias

pexels-bertellifotografia-16094040.jpg
ilustrasi ChatGPT (pexels.com/Matheus Bertelli)

Tidak ada sistem yang benar-benar objektif, sama seperti tidak ada manusia yang sepenuhnya kebal terhadap pengaruh lingkungan di sekitarnya. Teknologi AI dibangun berdasarkan data, aturan, dan masukan yang dibuat oleh manusia sehingga tetap rentan terhadap interpretasi dan bias manusia. Itulah sebabnya penting untuk menetapkan aturan dan regulasi yang jelas serta menjaga sistem tata kelola AI yang kuat, mulai dari tahap pengembangan hingga penggunaannya secara berkelanjutan.

7. AI selalu akurat

Kesalahpahaman bahwa AI selalu akurat muncul karena hasil keluarannya sering tampak mengesankan. Padahal, sistem AI seperti large language models kerap mengalami “halusinasi”, yaitu menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya keliru. Hal ini terjadi karena AI bergantung pada pencocokan pola probabilistik dari data pelatihan yang tidak sempurna. Bias, celah, atau ketidakkonsistenan dalam data akan meneruskan kesalahan, sementara algoritma mudah gagal ketika menghadapi situasi baru, kompleks, atau ambigu karena tidak memiliki pemahaman sejati maupun kemampuan pemeriksaan fakta. 

Dengan memahami kesalahpahaman umum tentang AI, kita dapat melihat teknologi ini secara lebih jernih—bukan sebagai ancaman yang menakutkan atau solusi ajaib, melainkan sebagai alat yang bermanfaat jika digunakan dengan pemahaman, batasan, dan tanggung jawab yang tepat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More

Deretan Inovasi Produk Menarik yang Dikenalkan ASUS di CES 2026

12 Jan 2026, 07:20 WIBTech