5 Dampak Negatif AI bagi Lingkungan, Menguras Banyak Energi

- Energi yang dikonsumsi AI sangat tinggi, mempengaruhi emisi karbon dan krisis iklim global.
- Peningkatan emisi karbon dari pusat data AI, terutama tanpa penggunaan energi hijau.
- Penggunaan air dalam skala besar untuk mendinginkan server AI, berpotensi memperburuk krisis air bersih di dunia.
Perkembangan kecerdasan buatan dianggap sebagai solusi bagi berbagai masalah manusia. AI membantu meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat analisis data, hingga menciptakan inovasi baru di banyak sektor. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat dampak lingkungan yang jarang disorot secara mendalam.
Seiring meningkatnya penggunaan AI, kebutuhan sumber daya alam dan energi juga ikut melonjak. Infrastruktur digital yang menopang AI ternyata meninggalkan jejak karbon dan tekanan ekologis yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman sisi gelap AI agar perkembangannya tidak merugikan keberlanjutan Bumi. Dilansir berbagai sumber termasuk Earth.Org, berikut adalah lima dampak negatif AI bagi keberlangsungan lingkungan.
1. Energi yang dikonsumsi AI sangat tinggi

Pengembangan dan pengoperasian AI membutuhkan daya listrik sangat besar. Pusat data yang menjalankan program AI bekerja tanpa henti dan mengonsumsi energi dalam jumlah masif. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan emisi karbon, terutama jika sumber listrik masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Pelatihan satu model AI skala besar bisa menghabiskan energi setara dengan konsumsi listrik ribuan rumah tangga. Semakin kompleks modelnya, semakin besar pula daya yang dibutuhkan. Jika tren ini terus berlanjut, AI berpotensi memperparah krisis iklim global.
2. Peningkatan emisi karbon dari pusat data

Pusat data merupakan tulang punggung sistem kecerdasan buatan. Ribuan server di dalamnya menghasilkan panas berlebih dan membutuhkan sistem pendingin intensif. Proses pendinginan ini justru menambah konsumsi energi dan emisi karbon.
Sebagian pusat data masih beroperasi di wilayah dengan energi tidak terbarukan. Jejak karbon dari industri AI terus meningkat setiap tahun. Tanpa penggunaan energi hijau, dampak ini akan semakin sulit dikendalikan.
3. Penggunaan air dalam skala besar

Selain listrik, AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan server. Sistem pendingin berbasis air digunakan untuk menjaga suhu pusat data tetap stabil. Di daerah yang rawan kekeringan, hal ini dapat memicu konflik sumber daya air.
Penggunaan air secara masif terkadang tidak disadari oleh publik. Padahal, jutaan liter air bisa habis hanya untuk menopang operasional AI. Kondisi ini berpotensi memperburuk krisis air bersih di berbagai wilayah dunia
4. Limbah elektronik terus bertambah

Perangkat keras AI seperti server, GPU, dan komponen pendukung memiliki umur pakai terbatas. Ketika teknologi berkembang cepat, perangkat lama menjadi usang dan dibuang. Limbah elektronik ini mengandung bahan berbahaya bagi lingkungan.
Jika tidak dikelola dengan benar, limbah elektronik dapat mencemari tanah dan air. Proses daur ulang pun belum tentu optimal, karena memerlukan energi tambahan. Siklus limbah dari industri AI dapat menjadi masalah lingkungan jangka panjang.
5. Ekslpoitasi sumber daya alam untuk AI

Pembuatan perangkat AI memerlukan logam langka seperti litium, kobalt, dan nikel. Penambangan bahan-bahan ini dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, seperti deforestasi dan pencemaran tanah. Dampaknya tidak hanya dirasakan alam, tetapi juga masyarakat sekitar tambang.
Permintaan perangkat AI yang terus meningkat membuat eksploitasi sumber daya alam semakin agresif. Tanpa pendekatan berkelanjutan, ekosistem alami akan terus terdegradasi. Faktor ini dapat menimbulkan dilema antara kemajuan teknologi dan pelestarian lingkungan.
AI memang membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, tetapi dampak lingkungannya tidak bisa diabaikan. Kesadaran, inovasi ramah lingkungan, dan kebijakan berkelanjutan menjadi kunci agar perkembangan AI tidak merusak Bumi. Perusahaan AI raksasa seperti OpenAI dan Google Gemini tampaknya harus memperhatikan hal ini. Sebab, dampak negatif AI terhadap lingkungan merupakan masalah serius bagi masyarakat dunia. Menurutmu, langkah apa yang harus diambil agar AI tidak merusak lingkungan?


















