CEO WIR Group: Regulasi AI Sudah Responsif, Edukasi Masih Jadi PR

- Regulasi AI di Indonesia sudah responsif
- CEO WIR Group menilai regulasi yang ada sudah cukup fair
- Tantangan terbesar adalah edukasi generasi muda untuk menghadapi era baru yang dibentuk oleh AI
Jakarta, IDN Times - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang begitu cepat menuntut adanya regulasi yang mampu mengimbangi laju teknologi tersebut. CEO WIR Group, Stephen Ng, menilai bahwa langkah regulator di Indonesia sudah cukup baik.
Menurutnya, kesadaran pemerintah untuk memberikan standar bagi industri maupun pengguna adalah langkah penting agar manfaat AI dapat digali semaksimal mungkin. Hal itu ia ungkapkan dalam salah acara Indoneisa Summit 2025
Anggap regulasi sudah cukup fair
Stephen menekankan bahwa Indonesia perlu melihat perkembangan ini secara positif. Regulasi yang ada saat ini, menurutnya, sudah cukup fair dan menjadi bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam.
"Di seluruh dunia belum ada satu dunia regulasi pun yang mumpuni saat ini. teknologi ini sendiri masih sangat berubah pesat. Jadi itu yang kita perlu respect, bahwa regulator Indonesia sudah cukup fair dalam regulasi ini." ungkapnya (27/8/2025).
Tantangan di edukasi

Justru, tantangan terbesarnya bukan hanya soal regulasi, tetapi bagaimana mempersiapkan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menghadapi era baru yang dibentuk oleh AI.
Ia mencontohkan perjalanan sejarah saat revolusi industri berlangsung. Dahulu, matematika tidak menjadi pelajaran wajib di sekolah. Namun, ketika industri berkembang, matematika akhirnya menjadi latihan dasar yang wajib dikuasai. Hal yang sama kini terjadi dengan AI. Indonesia harus berani mengambil langkah drastis dalam menyesuaikan kurikulum pendidikan agar relevan dengan kebutuhan zaman.
Tantangan ini semakin nyata jika melihat kemampuan AI saat ini. Stephen menggambarkan bahwa manusia rata-rata hanya bisa membaca sekitar 200 kata per menit. Jika seumur hidup, seseorang belajar selama empat jam per hari hingga usia 80 tahun, maka total pengetahuan yang bisa diserap hanya sekitar 8 miliar kata. Sebaliknya, AI modern sudah dibangun dengan 10 triliun parameter.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia harus menyiapkan generasi muda agar tidak sekadar menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu bersaing dan berkolaborasi dengan teknologi tersebut.
Indonesia Summit 2025, khususnya sesi Visionary Leaders, merupakan sebuah konferensi independen yang diselenggarakan IDN Times untuk dan melibatkan Generasi Millennial dan Gen Z di Tanah Air. Indonesia Summit 2025 mengusung tema "Thriving Beyond Turbulence, Celebrating 80's Years Independence", bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh Nusantara.