Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Influencer AI makin Nyata, Masihkah Manusia Dibutuhkan?

6 min read
Influencer AI makin Nyata, Masihkah Manusia Dibutuhkan?
ilustrasi AI (freepik.com/freepik)
  • Influencer AI menawarkan produksi konten fleksibel dan efisien tanpa batas lokasi atau jadwal, sehingga brand dapat menyesuaikan karakter serta kampanye lebih cepat dan berpotensi menekan biaya.
  • Kepercayaan audiens bergantung pada transparansi bahwa sosok tersebut dibuat AI; autentisitas dan pengungkapan identitas memengaruhi keterlibatan, sementara endorsement AI dapat menurunkan persepsi kepercayaan terhadap brand.
  • Influencer virtual lebih efektif untuk produk fungsional, sedangkan manusia unggul pada fashion, travel, wellness, dan lifestyle berkat pengalaman nyata serta komunitas; penggunaan AI juga memerlukan perlindungan hak kreator dan pekerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kamu mungkin sudah mulai menemukan sosok influencer di media sosial yang terlihat seperti manusia sungguhan, padahal seluruh penampilannya dibuat menggunakan kecerdasan buatan alias AI. Wajah, pakaian, aktivitas, sampai latar tempat bisa dibuat sangat realistis sehingga sekilas sulit dibedakan dari konten manusia. Fenomena ini membuat influencer AI mulai dilirik oleh brand sebagai alternatif dalam menjalankan kampanye pemasaran.

Di sisi lain, kemunculannya juga menimbulkan pertanyaan tentang kepercayaan, autentisitas, dan masa depan influencer manusia. Apalagi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa respons konsumen terhadap influencer AI bisa berbeda tergantung pada jenis produk yang dipromosikan. Jika influencer AI makin nyata, apakah perkembangan teknologi ini benar-benar akan membuat influencer manusia kehilangan tempat?

  1. 1. Influencer AI menawarkan produksi konten yang lebih fleksibel

    ilustrasi perusahaan
    ilustrasi perusahaan (freepik.com/DC Studio)

    Salah satu alasan brand mulai melirik influencer AI adalah fleksibilitas dalam membuat konten. Sosok digital gak perlu bepergian, menjalani sesi pemotretan, atau menyesuaikan jadwal seperti influencer manusia. Kontennya juga dapat dibuat untuk berbagai kebutuhan kampanye tanpa dibatasi oleh lokasi dan waktu. Kondisi tersebut membuat proses produksi berpotensi menjadi lebih praktis dan efisien.

    Paula Garcia, perwakilan agensi kreatif Barcelona The Clueless yang menciptakan influencer AI Aitana Lopez, menjelaskan bahwa teknologi tersebut memungkinkan agensi menyesuaikan karakter digital dengan kebutuhan klien secara lebih cepat. Ia juga menyebutkan bahwa kampanye dapat dilakukan di berbagai tempat tanpa harus membawa talent melakukan perjalanan. Menurut Garcia, kondisi ini bisa menghemat waktu sekaligus biaya produksi. Dikutip CNA, Aitana sendiri disebut menghasilkan sekitar US$11.700 atau sekitar Rp190 juta per bulan bagi perusahaan pembuatnya.

  2. 2. Kepercayaan menjadi tantangan bagi influencer AI

    ilustrasi contoh hasil AI
    ilustrasi contoh hasil AI (vecteezy.com/Oleg Gapeenko)

    Semakin realistis tampilannya, semakin besar pula tantangan untuk memastikan audiens mengetahui bahwa sosok tersebut bukan manusia sungguhan. CNA melaporkan bahwa Visual, Audio, Creative Content Professionals Association di Singapura mendorong adanya keterbukaan terhadap penggunaan influencer AI. Menurut asosiasi tersebut, pengungkapan yang jelas diperlukan supaya audiens tidak salah memahami identitas influencer atau menganggap pengalaman yang ditampilkan benar-benar terjadi. Transparansi akhirnya menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan.

    Temuan ilmiah juga menunjukkan bahwa persoalan kepercayaan gak bisa dianggap sepele. Menurut penelitian dalam Acta Psychologica, autentisitas, transparansi, dan pengungkapan penggunaan influencer virtual menjadi faktor penting dalam membentuk kepercayaan dan keterlibatan konsumen. Penelitian tersebut merupakan tinjauan sistematis terhadap 51 artikel dan menemukan bahwa persepsi terhadap keaslian influencer virtual dapat memengaruhi respons audiens. Artinya, semakin jelas brand menjelaskan penggunaan influencer AI, semakin mudah audiens memahami konteks konten yang mereka lihat.

  3. 3. Jenis produk menentukan efektivitas influencer

    ilustrasi contoh hasil AI
    ilustrasi contoh hasil AI (vecteezy.com/Asih Wahyuni)

    Bukan berarti influencer AI selalu kalah dari influencer manusia dalam memengaruhi konsumen, ya. Penelitian dalam Journal of Business Research yang melibatkan 275 partisipan menemukan bahwa proses pengaruhnya berbeda tergantung pada jenis influencer dan produk. Influencer virtual dinilai lebih berguna ketika mempromosikan produk utilitarian, yaitu produk yang manfaatnya lebih banyak ditentukan oleh fungsi dan kegunaan. Contohnya bisa berupa smartphone atau perangkat elektronik.

    Sementara itu, untuk produk yang dipromosikan berkaitan dengan pengalaman, gaya hidup, atau emosi, bukan sekadar fungsi, diketahui bahwa konsumen lebih gampang merasa relate dengan influencer manusia. Misalnya, saat melihat influencer manusia membagikan pengalaman memakai pakaian atau menjalani sebuah perjalanan, audiens bisa membayangkan dirinya berada dalam situasi serupa. Karena itu, influencer manusia masih punya peran penting untuk produk seperti fashion, travel, wellness, dan lifestyle.

  4. 4. Banyak dilihat belum tentu banyak dibeli

    ilustrasi contoh hasil AI
    ilustrasi contoh hasil AI (vecteezy.com/Oleg Gapeenko)

    Salah satu jebakan dalam melihat perkembangan influencer AI adalah menganggap jumlah views dan engagement sebagai bukti keberhasilan penjualan. Padahal, perhatian audiens belum tentu berakhir pada keputusan membeli. Dalam laporan CNA, Adam Furness, managing director Asia-Pacific dan Japan di platform partnership management Impact.com, mengingatkan bahwa tingginya perhatian terhadap influencer AI bisa dipengaruhi oleh faktor kebaruan. Audiens mungkin tertarik melihat sesuatu yang baru tanpa benar-benar memiliki niat untuk membeli produk yang dipromosikan.

    Temuan penelitian dalam Journal of Business Research juga memperlihatkan bahwa jenis influencer tidak menghasilkan perbedaan signifikan dalam niat konsumen untuk mengadopsi rekomendasi. Sementara itu, penelitian dalam Journal of Product & Brand Management menemukan bahwa endorsement dari influencer AI dapat membuat konsumen mempersepsikan brand sebagai kurang dapat dipercaya dibandingkan dengan endorsement influencer manusia. Persepsi tersebut kemudian berkaitan dengan penurunan purchase intention atau niat membeli. Jadi, mendapatkan perhatian di media sosial belum otomatis berarti influencer AI mampu menghasilkan penjualan.

  5. 5. Influencer manusia masih punya nilai yang sulit ditiru

    ilustrasi influencer atau content creator
    ilustrasi influencer atau content creator (freepik.com/tirachardz)

    Influencer manusia memiliki sesuatu yang gak bisa begitu saja dibuat melalui teknologi, yaitu pengalaman hidup yang benar-benar mereka jalani. Ketika seorang kreator menceritakan pengalaman menggunakan produk, audiens dapat menghubungkannya dengan kehidupan nyata. Hal tersebut menjadi semakin penting untuk produk yang membutuhkan pengalaman personal, seperti travel, wellness, lifestyle, atau fashion. Hubungan dengan komunitas juga dibangun melalui interaksi yang berlangsung dalam jangka panjang.

    CNA mengutip Gargi Sharma, seorang micro-influencer di Singapura, yang menilai brand bekerja sama dengan influencer manusia bukan sekadar karena penampilan. Menurutnya, hubungan dan komunitas yang dibangun dari awal menjadi bagian penting dari nilai seorang kreator. Pendapat serupa disampaikan Zhang Shiqi atau Jang Shiki, influencer parenting dan lifestyle, yang menilai konten AI yang terlalu sempurna justru bisa kehilangan autentisitas interaksi. Hal ini menunjukkan bahwa ketidaksempurnaan manusia justru dapat menjadi kekuatan ketika audiens mencari konten yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.

  6. 6. Penggunaan influencer AI tetap membutuhkan aturan yang jelas

    ilustrasi contoh hasil AI
    ilustrasi contoh hasil AI (vecteezy.com/Oleksii Shtandarov)

    Perkembangan influencer AI juga menimbulkan persoalan bagi pekerja kreatif di belakang layar. Fotografer, videografer, makeup artist, stylist, model, hingga kreator konten berpotensi terdampak apabila brand sepenuhnya beralih ke produksi berbasis AI. Visual, Audio, Creative Content Professionals Association di Singapura menilai kesempatan kerja yang adil bagi pekerja lepas tetap perlu dilindungi. Mereka juga menekankan pentingnya aturan agar penggunaan AI tidak menjadi alasan bagi perusahaan untuk mengurangi bayaran atau mengabaikan tenaga kreatif manusia.

    Masalah lainnya berkaitan dengan hak cipta dan persetujuan. Menurut asosiasi tersebut, karya, suara, kemiripan wajah, maupun gaya kreator gak semestinya digunakan untuk melatih atau membuat konten AI tanpa izin dan kompensasi yang layak. Transparansi kepada audiens juga dianggap penting ketika sebuah influencer sepenuhnya dibuat menggunakan AI. Dengan aturan yang jelas, teknologi bisa dimanfaatkan untuk membantu industri kreatif tanpa mengorbankan hak dan kepercayaan manusia yang terlibat di dalamnya.

    Kehadiran influencer AI memang membuat industri pemasaran digital memasuki fase baru. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas, efisiensi produksi, serta kemampuan menghasilkan visual yang semakin sulit dibedakan dari manusia. Walau influencer AI makin nyata, penelitian menunjukkan bahwa efektivitasnya sangat bergantung pada jenis produk, persepsi terhadap keaslian, tingkat kepercayaan, dan tujuan campaign.

    Influencer manusia masih memiliki keunggulan dalam menghadirkan pengalaman nyata dan membangun hubungan emosional dengan komunitas. Karena itu, perkembangan influencer AI lebih tepat dilihat sebagai perubahan dalam cara brand membuat konten, bukan sekadar pertanyaan tentang apakah manusia akan sepenuhnya digantikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More