5 Fakta Visa Digital Nomad Jepang, Tinggal 180 Hari bak Warga Lokal

Bekerja dari mana saja kini bukan lagi sekadar impian bagi banyak orang. Berkat perkembangan teknologi, kamu bahkan bisa tetap menjalankan pekerjaan sambil tinggal di luar negeri selama beberapa bulan. Jepang pun ikut membuka peluang tersebut melalui visa digital nomad yang mulai berlaku sejak April 2024.
Program ini memungkinkan pekerja remote yang memenuhi syarat untuk tinggal hingga 180 hari atau sekitar enam bulan di Negeri Sakura. Kalau selama ini Jepang identik sebagai destinasi liburan, sekarang kamu juga berkesempatan merasakan kehidupan sehari-hari layaknya warga lokal tanpa harus pindah secara permanen.
1. Visa ini memungkinkan kamu tinggal hingga 180 hari di Jepang

Sebelumnya, Jepang dikenal memiliki aturan imigrasi yang cukup ketat bagi warga negara asing. Namun, sejak April 2024 pemerintah mulai memperkenalkan visa digital nomad yang ditujukan bagi pekerja remote dari berbagai negara. Melalui visa ini, kamu bisa tinggal di Jepang hingga 180 hari atau sekitar enam bulan sambil tetap bekerja untuk perusahaan yang berada di luar Jepang.
Meski terdengar menarik, ada beberapa syarat yang wajib dipenuhi. Salah satunya adalah memiliki penghasilan minimal ¥10 juta per tahun, atau sekitar Rp1,1 miliar. Selain itu, kamu juga harus berasal dari negara yang memiliki perjanjian pajak dengan Jepang dan mempunyai asuransi kesehatan swasta yang mencakup biaya pengobatan, kecelakaan, hingga pemulangan ke negara asal jika terjadi kondisi darurat.
2. Kamu bisa merasakan hidup seperti warga lokal

Salah satu daya tarik terbesar visa digital nomad Jepang adalah kesempatan menjalani rutinitas layaknya penduduk setempat. Kamu bisa menyewa apartemen bulanan, bekerja dari rumah atau coworking space, lalu menikmati aktivitas sehari-hari seperti berbelanja di minimarket, berjalan santai di lingkungan sekitar, hingga mengunjungi kuil saat waktu senggang. Pengalaman seperti ini tentu berbeda dibanding hanya datang sebagai wisatawan selama beberapa hari.
Dilansir The Japan Times, pengembang web asal Kosta Rika, Christian Mack, menjadi salah satu orang yang merasakan pengalaman tersebut. Selama tinggal di Tokyo, ia membangun rutinitas harian seperti bekerja pada jam kantor, mencari teman melalui komunitas teknologi dan aplikasi meetup, serta memanfaatkan waktu luang untuk menjelajahi berbagai daerah seperti Hiroshima, Fukuoka, Atami, dan Semenanjung Izu. Pengalaman itu membuatnya merasa jauh lebih mengenal kehidupan masyarakat Jepang dibanding saat hanya berlibur.
3. Biaya hidupnya gak semahal yang banyak orang bayangkan

Banyak orang mengira tinggal di Jepang pasti membutuhkan biaya yang sangat besar. Kenyataannya, besarnya pengeluaran sangat bergantung pada gaya hidup, lokasi tempat tinggal, dan aktivitas yang kamu pilih selama menetap di sana. Nilai tukar yen yang sempat melemah juga membuat biaya hidup terasa lebih ringan bagi sebagian pekerja asing yang menerima gaji dalam mata uang lain.
Christian Mack mengaku menghabiskan sekitar US$1.200 atau sekitar Rp19,5 juta per bulan untuk menyewa apartemen berperabot di Tokyo. Sementara itu, kebutuhan makan bulanannya mencapai sekitar US$600 atau sekitar Rp9,8 juta. Menurutnya, Jepang memang belum bisa disebut sebagai destinasi digital nomad paling murah, tapi juga gak semahal yang sering dibayangkan banyak orang. Semua kembali bergantung pada gaya hidup, frekuensi bepergian, dan lokasi tempat tinggal yang kamu pilih.
4. Statusnya masih di tengah antara turis dan penduduk

Walaupun bisa tinggal hingga enam bulan, pemegang visa digital nomad belum sepenuhnya dianggap sebagai penduduk Jepang. Kamu gak akan memperoleh zairyū card atau kartu izin tinggal, gak memiliki izin bekerja untuk perusahaan lokal Jepang, serta gak bisa membuka rekening bank seperti pemegang izin tinggal jangka panjang. Karena itulah banyak pemegang visa merasa status mereka berada di antara turis dan warga lokal.
Kondisi tersebut terkadang menimbulkan tantangan tersendiri. Christian Mack mengaku beberapa petugas masih belum sepenuhnya memahami aturan visa digital nomad karena program ini tergolong baru. Ia juga pernah mengalami flu dengan demam hingga 40 derajat Celsius beberapa hari setelah tiba di Jepang. Saat itu, ia harus mencari klinik yang memiliki tenaga medis berbahasa Inggris agar bisa mendapatkan penanganan dengan lebih mudah.
5. Visa ini masih sangat eksklusif dan gak bisa diperpanjang

Meskipun sudah diperkenalkan sejak 2024, visa digital nomad Jepang masih tergolong sangat eksklusif. Pada tahun pertama, pemerintah Jepang hanya menerbitkan 257 visa. Jumlah tersebut memang meningkat menjadi 646 visa pada 2025, termasuk pasangan yang ikut mendampingi pemegang visa utama. Jika dibandingkan dengan puluhan juta wisatawan yang datang ke Jepang setiap tahun, angka tersebut masih sangat kecil.
Visa ini juga gak bisa diperpanjang secara langsung. Setelah masa tinggal enam bulan berakhir, kamu wajib meninggalkan Jepang selama enam bulan sebelum bisa mengajukan permohonan baru. Artinya, seluruh proses administrasi harus diulang dari awal apabila ingin kembali menggunakan visa yang sama. Meski cukup ketat, aturan tersebut memang dibuat agar program ini tetap difokuskan bagi pekerja remote yang ingin tinggal sementara sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi berbagai daerah di Jepang melalui masa tinggal yang lebih panjang.
Visa digital nomad Jepang menjadi pilihan menarik buat kamu yang ingin bekerja sambil menikmati kehidupan di Negeri Sakura dalam waktu yang lebih lama. Program ini bukan hanya memberikan kesempatan tinggal hingga 180 hari, tapi juga memungkinkan kamu merasakan rutinitas sehari-hari layaknya warga lokal.
Meski ada sejumlah syarat dan keterbatasan yang harus dipenuhi, peluang ini bisa menjadi pengalaman berharga bagi pekerja remote yang ingin mencoba suasana baru. Kalau suatu saat kamu memenuhi persyaratannya, visa digital nomad Jepang bisa menjadi langkah awal untuk mewujudkan impian bekerja dari salah satu negara paling menarik di dunia.





















