Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jangan Panik Dulu, Ini 5 Langkah yang Perlu Dilakukan saat Penerbangan Tiba-Tiba Delay

Jangan Panik Dulu, Ini 5 Langkah yang Perlu Dilakukan saat Penerbangan Tiba-Tiba Delay
ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Gustavo Fring)

Pernah gak sih kamu sudah duduk manis di ruang tunggu bandara, kopi di tangan, playlist favorit siap diputar, lalu tiba-tiba muncul pengumuman bahwa penerbangan delay atau bahkan dibatalkan? Rasanya campur aduk antara kaget, kesal, dan panik. Apalagi kalau kamu punya jadwal ketat, hotel sudah dibayar, atau masih harus transit ke kota lain.

Buat banyak traveler, delay dan cancel adalah mimpi buruk. Bukan cuma soal waktu yang terbuang, tapi juga soal uang yang kebakar begitu saja. Hotel hangus, transportasi berantakan, jadwal kerja atau liburan rusak total. Belum lagi kalau kamu punya connecting flight, risikonya bisa berlipat ganda.

Sayangnya, banyak orang justru salah langkah di menit-menit pertama setelah pengumuman delay. Ada yang langsung keluar gate, ada yang cuma pasrah menunggu, ada juga yang sibuk mengeluh di media sosial tanpa mengamankan haknya sebagai penumpang. Padahal, menurut banyak pengalaman traveler, lima menit pertama setelah delay atau cancel adalah momen paling krusial. Di fase inilah kamu bisa menentukan antara rugi besar atau rugi minimal. Semuanya tergantung pada seberapa cepat kamu mengamankan bukti dan meminta solusi.

Supaya kamu gak panik dan salah langkah, berikut lima bukti dan aksi wajib yang perlu kamu lakukan saat penerbangan delay atau dibatalkan.

1. Screenshot status penerbangan secepat mungkin

ilustrasi area tunggu di bandara
ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Darcy Lawrey)

Begitu kamu tahu penerbangan delay atau cancel, hal pertama yang perlu kamu lakukan adalah membuka aplikasi maskapai atau bandara, lalu screenshot status penerbangan. Kenapa ini penting? Karena status di aplikasi bisa berubah sewaktu-waktu. Awalnya tertulis delayed, lalu berubah jadi on time, atau bahkan cancelled tanpa pemberitahuan panjang.

Screenshot ini adalah bukti tercepat tentang kronologi kejadian seperti jam berapa delay terjadi, berapa lama penundaan, dan status resminya saat itu. Kalau nanti kamu perlu klaim asuransi, refund, atau komplain ke maskapai, bukti ini sangat berguna. Anggap saja screenshot ini sebagai asuransi digital pertamamu. Simpan di galeri dan backup kalau perlu.

2. Foto departure board sebagai bukti publik

ilustrasi area tunggu di bandara
ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Brett Sayles)

Selain screenshot dari aplikasi, kamu juga perlu bukti fisik dari bandara. Caranya? Foto papan informasi keberangkatan atau departure board. Pastikan foto tersebut memperlihatkan nomor penerbangan, jam keberangkatan, dan status delay atau cancel. Ini penting karena papan ini dianggap sebagai informasi publik dari bandara. Kalau suatu hari maskapai mengubah narasi atau datanya berbeda, kamu masih punya bukti visual bahwa saat itu penerbanganmu memang bermasalah.

Foto ini juga sering dipakai sebagai pendukung klaim di asuransi perjalanan atau platform tiket online.

3. Simpan boarding pass dan email itinerary

ilustrasi area tunggu di bandara
ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Adrian Agawin)

Banyak orang setelah delay langsung menyimpan boarding pass sembarangan, bahkan ada yang membuangnya. Padahal, boarding pass adalah identitas utama perjalananmu. Di dalamnya ada kode booking, rute, tanggal, dan nomor penerbangan. Ditambah dengan email itinerary, ini adalah paket lengkap identitas perjalananmu. Tanpa dokumen ini, proses rebook, refund, atau klaim bisa jadi lebih lama dan ribet.

Customer service biasanya akan minta semua detail ini. Jadi, pastikan boarding pass dan email itinerary tetap aman, baik dalam bentuk fisik maupun digital.

4. Minta alasan tertulis atas delay atau cancel

ilustrasi area tunggu di bandara
ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/Lucas Oliveira)

Saat kamu mendatangi counter maskapai, jangan cuma menerima penjelasan lisan. Usahakan untuk meminta konfirmasi tertulis mengenai alasan delay atau pembatalan. Misalnya, apakah karena cuaca, masalah teknis, operasional, atau faktor lain. Banyak asuransi perjalanan dan layanan perlindungan konsumen mensyaratkan alasan tertulis untuk proses reimbursement.

Kalau kamu hanya punya penjelasan verbal, klaimmu bisa ditolak. Tapi kalau ada email, surat, atau notifikasi resmi dari maskapai, posisi kamu jauh lebih kuat. Ini bukan soal curiga, tapi soal melindungi hak sebagai penumpang.

5. Langsung minta rebook, jangan menunggu dipanggil

ilustrasi area tunggu di bandara
ilustrasi area tunggu di bandara (pexels.com/ClickerHappy)

Ini kesalahan paling yang sering dilakukan traveler yakni menunggu sampai dipanggil. Padahal, saat delay atau cancel massal, kursi penerbangan pengganti itu rebutan. Siapa cepat, dia dapat. Siapa lambat, siap-siap menunggu lebih lama. Begitu situasi jelas, langsung datangi counter atau hubungi customer service untuk minta rebook. Tanyakan opsi terbaik seperti penerbangan terdekat, rute alternatif, atau maskapai partner. Dengan bergerak lebih cepat, peluangmu mendapat jadwal terbaik akan jauh lebih besar.

Satu aturan penting yang sering diabaikan yakni jangan buru-buru keluar gate sebelum lima hal di atas kamu amankan. Begitu kamu keluar area gate, proses komunikasi dengan petugas bisa jadi lebih sulit. Bahkan, beberapa layanan hanya tersedia di area tertentu. Tetap tenang, tetap di area boarding, dan fokus mengamankan hakmu dulu sebelum memikirkan hal lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

[QUIZ] Tipe Pendaki Gunung Ini Bisa Menggambarkan Sifatmu Lho!

25 Mar 2026, 20:02 WIBTravel