Krisis Besar Honda: CEO Toshihiro Mibe Diminta Mundur

- Honda mengalami kerugian tahunan pertama dalam 70 tahun akibat strategi EV yang gagal, memicu pembatalan tiga model di Amerika Utara dan kerugian sekitar 15,7 miliar dolar AS.
- CEO Toshihiro Mibe menolak mundur meski didesak para mantan eksekutif, hanya memotong gajinya 30 persen selama tiga bulan dan tetap mendapat dukungan dari komite nominasi dewan direksi.
- Sebagai respons atas krisis, Honda mengubah arah dengan fokus pada pengembangan 15 model hibrida hingga 2029 untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasar otomotif global.
Krisis besar sedang melanda raksasa otomotif asal Jepang, Honda, setelah mencatatkan kerugian tahunan pertama mereka dalam 70 tahun terakhir. Berdasarkan laporan dari media otomotif carscoop.com, gelombang kegagalan ini dipicu oleh ambisi besar perusahaan yang terlalu berfokus pada pengembangan kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Akibat salah langkah dalam memprediksi pasar global tersebut, Honda terpaksa membatalkan peluncuran tiga model EV di Amerika Utara dan harus menanggung kerugian serta biaya pembengkakan yang mencapai sekitar 15,7 miliar dolar AS.
Kondisi finansial yang babak belur ini memicu kemarahan mendalam dari barisan mantan eksekutif dan tokoh senior yang dahulu ikut membesarkan Honda. Ketegangan memuncak ketika para tetua perusahaan secara terang-terangan menuntut Chief Executive Officer (CEO) Honda saat ini, Toshihiro Mibe, untuk segera meletakkan jabatannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Namun, di luar dugaan banyak pihak, sang CEO menolak mentah-mentah tuntutan mundur tersebut dan memilih untuk tetap bertahan di kursi kepemimpinan tertinggi.
1. Pembangkangan sang CEO terhadap tuntutan para tetua perusahaan

Gerakan untuk menggulingkan Toshihiro Mibe sebenarnya sudah mulai dirancang sejak akhir tahun 2025 oleh sejumlah pensiunan eksekutif Honda yang merasa prihatin dengan arah masa depan perusahaan. Puncaknya terjadi pada April 2026, ketika mantan CEO Honda yang sudah berusia 90 tahun, Nobuhiko Kawamoto, mendatangi langsung markas besar Honda. Kedatangan tokoh legendaris ini bertujuan mendesak Mibe agar mundur demi menyelamatkan martabat pabrikan, tetapi Mibe dengan tegas menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut tidak akan pernah terjadi.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban minimal atas kerugian historis perusahaan, Mibe hanya bersedia mengambil langkah pemotongan gaji sebesar 30 persen selama tiga bulan. Di sisi lain, upaya pelengseran yang diinisiasi oleh para mantan petinggi ini akhirnya kandas karena Mibe mendapat perlindungan penuh dari komite nominasi dewan direksi. Komite tersebut kini lebih banyak diisi oleh direktur independen dari luar perusahaan, sebuah sistem tata kelola korporasi modern di Jepang yang sengaja dibuat untuk memangkas pengaruh feodal dari para pensiunan eksekutif.
2. Kritik tajam mengenai pengabaian prinsip kerja lapangan dan pasar China

Para kritikus dari kelompok konservatif Honda menilai bahwa Mibe telah melupakan filosofi dasar perusahaan yang disebut "genba". Istilah ini merujuk pada kebiasaan para pemimpin terdahulu yang rajin turun langsung ke tempat kerja nyata, seperti lantai pabrik dan ruang pamer dealer, untuk mendengar keluhan konsumen. Mibe dituduh terlalu menjaga jarak dengan realitas di lapangan dan lebih memilih menghabiskan waktu serta fokus perusahaan pada urusan sponsorship turnamen golf daripada mengurusi penurunan penjualan yang kritis di pasar China.
Pengabaian terhadap pasar China dan ketidakmauan manajemen pusat untuk melihat kondisi nyata di lapangan dianggap sebagai akar penyebab rapuhnya strategi EV Honda. Akibatnya, produk listrik yang dikembangkan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan konsumen dan kalah bersaing dengan kompetitor lokal. Para mantan eksekutif menyayangkan hilangnya kepekaan terhadap pasar global ini, yang dinilai telah merusak reputasi kokoh yang sudah dibangun Honda selama puluhan tahun.
3. Perubahan arah haluan strategi dengan meluncurkan belasan mobil hibrida

Menyadari bahwa pasar EV di Amerika Serikat berpotensi mengalami perubahan drastis dan ketidakpastian regulasi, Honda langsung bergerak cepat mengubah haluan bisnis mereka. Pabrikan ini kini sedang mengembangkan platform kendaraan listrik generasi terbaru yang jauh lebih fleksibel karena dirancang untuk mampu mendukung sistem penggerak hibrida (hybrid). Langkah taktis ini diambil sebagai antisipasi terhadap dinamika politik dan kebijakan pasar otomotif di Amerika Utara dalam beberapa tahun ke depan.
Di bawah strategi baru ini, Honda mengalihkan fokus besar-besaran dengan berencana meluncurkan 15 model hibrida baru hingga tahun 2029. Dua model purwarupa dari strategi penyelamatan ini bahkan sudah mulai diperkenalkan ke publik, yaitu Honda Hybrid Sedan Prototype dan sebuah SUV mewah dengan emblem Acura Hybrid SUV Prototype. Perubahan haluan yang sangat mendadak ini menjadi bukti nyata betapa mahalnya harga yang harus dibayar Honda akibat salah langkah dalam ambisi elektrifikasi massal mereka.


















