Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
1,2 Miliar Anak Muda Bakal Cari Kerja, Lowongannya Cuma 400 Juta
ilustrasi lowongan kerja (IDN Times/Nathan Manaloe)
  • Sekitar 1,2 miliar anak muda diperkirakan masuk pasar kerja, sementara pekerjaan yang tersedia hanya sekitar 400 juta.

  • Ajay Banga menyoroti perlunya perpaduan pendanaan publik, investasi swasta, filantropi, dan teknologi.

  • Bank Dunia bersama bank pembangunan multilateral mengembangkan skema pembiayaan agar modal dapat digunakan kembali untuk proyek baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
10 hingga 15 tahun mendatang

Sebanyak 1,2 miliar anak muda diperkirakan memasuki pasar kerja. Lapangan kerja yang tersedia diperkirakan hanya mampu menampung sekitar 400 juta orang.

Jumat (16/10/2026)

Ajay Banga menyampaikan tantangan lapangan kerja dalam pidatonya pada sidang pleno Pertemuan Tahunan.

Senin (19/10/2026)

Pernyataan Ajay dikutip oleh IDN Times.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sekitar 1,2 miliar anak muda diperkirakan memasuki pasar kerja, sementara pekerjaan yang tersedia hanya sekitar 400 juta.
  • Who?
    Presiden Grup Bank Dunia Ajay Banga menyampaikan tantangan tersebut.
  • Where?
    Pernyataan disampaikan dalam sidang pleno Pertemuan Tahunan (Annual Meetings).
  • When?
    Ajay menyampaikannya pada Jumat (16/10/2026), dan pernyataannya dikutip pada Senin (19/10/2026).
  • Why?
    Karena jumlah anak muda yang akan memasuki pasar kerja lebih besar daripada perkiraan ketersediaan pekerjaan.
  • How?
    Bank Dunia mendorong perpaduan pendanaan publik, investasi swasta, filantropi, teknologi, serta skema pembiayaan yang dapat menggunakan kembali modal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ajay Banga bilang banyak anak muda akan mencari kerja, tetapi pekerjaan yang tersedia lebih sedikit. Bank Dunia ingin negara memakai uang pemerintah, uang perusahaan, bantuan, dan teknologi bersama-sama. Mereka juga membuat cara pembiayaan baru. Sekarang, tantangan lapangan kerja itu masih harus diatasi dalam beberapa tahun mendatang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemaparan Ajay menunjukkan adanya upaya untuk mencari cara baru dalam memperluas kesempatan kerja. Perpaduan pendanaan publik, investasi swasta, filantropi, dan teknologi dapat disesuaikan dengan kebutuhan setiap negara. Skema modal yang dapat digunakan kembali juga diarahkan untuk memperbesar jangkauan pembiayaan proyek pembangunan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Grup Bank Dunia (World Bank) Ajay Banga menyoroti tantangan lapangan kerja yang akan dihadapi dunia dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.

Sebanyak 1,2 miliar anak muda diperkirakan memasuki pasar kerja, sementara lapangan kerja yang tersedia hanya mampu menampung sekitar 400 juta orang. Hal itu disampaikan dalam pidatonya pada sidang pleno Pertemuan Tahunan (Annual Meetings) pada Jumat (16/10/2026).

Di sisi lain, berbagai tantangan global belum mereda. Konflik masih berlangsung, ruang fiskal negara semakin terbatas, beban utang meningkat, dan biaya kebutuhan pokok, mulai dari energi hingga pupuk, masih tinggi. Perubahan demografi juga terus berjalan di tengah keterbatasan sumber daya.

"Berikut adalah dua tantangan utama yang terus kami upayakan untuk diatasi: Memastikan sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara lebih optima sembari mendukung berbagai negara menciptakan lapangan kerja dalam skala besar," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip IDN Times, Senin (19/10/2026).

1. Pembangunan perlu menyesuaikan kebutuhan setiap negara

ilustrasi lowongan kerja (IDN Times/Nathan Manaloe)

Ajay menilai, masa depan pembangunan bergantung pada kemampuan memadukan pendanaan publik, investasi swasta, filantropi, dan teknologi sesuai kebutuhan masing-masing negara. Kolaborasi dan kombinasi berbagai sumber pendanaan tersebut perlu berkembang mengikuti kemajuan negara.

Di negara-negara yang menghadapi kebutuhan besar dan risiko tinggi, pendanaan publik serta pendanaan konsesional atau pembiayaan dengan persyaratan lebih lunak masih diperlukan. Namun, ketika suatu negara semakin berkembang, investasi swasta dan akses ke pasar perlu mengambil peran lebih besar.

"Seiring dengan semakin berkembangnya suatu negara, investasi swasta dan akses terhadap pasar harus memainkan peran yang lebih besar. Keberhasilan yang sesungguhnya tercapai ketika kehadiran kami tidak lagi diperlukan," ujar Ajay.

2. Mobilisasi modal swasta naik tiga kali lipat

ilustrasi perusahaan (IDN Times/Aditya Pratama)

Bank Dunia mencatat peningkatan mobilisasi modal swasta dari sekitar 35 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2022 menjadi 112 miliar dolar AS pada tahun lalu. Angka tersebut meningkat sekitar tiga kali lipat dibandingkan sebelum rencana kerja yang dijalankan Ajay diterapkan.

"Hal ini merupakan peningkatan sebesar tiga kali lipat. Digabungkan dengan pendanaan dari kami sendiri, jumlah total pendanaan melampaui 230 miliar dolar AS," tuturnya.

Peningkatan mobilisasi modal swasta juga terlihat di berbagai kelompok negara. Nilainya naik hampir tiga kali lipat di negara berpendapatan menengah ke bawah, empat kali lipat di negara berpendapatan menengah ke atas, serta lebih dari dua kali lipat di kawasan Afrika.

3. Enam bank pembangunan multilateral siapkan skema pembiayaan baru

ilustrasi bank (IDN Times/Arief Rahmat)

Bank Dunia bersama lima bank pembangunan multilateral (multilateral development banks/MDB) lainnya tengah mengembangkan pendekatan bersama untuk menilai, mendokumentasikan, mengemas, dan mengalihkan investasi.

Melalui pendekatan tersebut, proyek yang memperoleh pendanaan pada tahap awal dapat dialihkan kepada investor lain pada tahap berikutnya. Dengan begitu, modal yang sebelumnya digunakan untuk membiayai proyek dapat kembali tersedia untuk mendukung pembiayaan baru.

"Jika langkah ini diterapkan secara luas di berbagai lembaga dan pasar, maka akan tercipta sesuatu yang jauh lebih besar: sebuah kelas aset pembangunan untuk negara berkembang (emerging markets)," kata dia.

Skema tersebut juga diharapkan mengurangi ketergantungan pada besarnya neraca keuangan lembaga pembangunan sebagai batas pembiayaan. Dengan modal yang dapat digunakan kembali, pembiayaan proyek pembangunan bisa menjangkau skala yang lebih besar.

4. Kebutuhan 800 juta lapangan kerja berdampak lintas negara

ilustrasi lowongan kerja (IDN Times/Nathan Manaloe)

Ajay menyoroti kebutuhan sekitar 800 juta lapangan kerja yang tercermin dari selisih antara jumlah anak muda yang akan memasuki pasar kerja dan perkiraan ketersediaan pekerjaan. Di balik angka tersebut, terdapat anak muda bergelar sarjana yang belum memperoleh pekerjaan serta mereka yang memiliki keterampilan teknis, tetapi belum mendapatkan akses listrik.

Bagi Ajay, pekerjaan bukan sekadar angka dalam statistik ekonomi, melainkan berkaitan dengan martabat manusia. Kesempatan kerja menjadi pembeda antara generasi muda yang mampu membangun masa depannya sendiri dan mereka yang hanya menunggu kesempatan datang.

"Ini adalah perbedaan antara seorang anak muda yang mampu membangun masa depan dengan seorang anak muda yang hanya menunggu masa depan itu datang. Jika potensi tersebut dibiarkan tidak terwujud, dampaknya akan melintasi batas negara," kata dia.

5. Bank Dunia dorong model pembangunan baru

ilustrasi pencari kerja (IDN Times/Aditya Pratama)

Ajay menekankan perlunya model pembangunan yang mampu memenuhi harapan generasi mendatang, bukan sekadar mengulang pendekatan yang digunakan generasi sebelumnya. Model tersebut harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan setiap negara.

Dalam pendekatan ini, pendanaan publik diarahkan untuk menjangkau wilayah yang belum tersentuh pasar. Modal swasta dimanfaatkan untuk menciptakan dan memperluas kesempatan kerja, sedangkan filantropi berperan mengambil risiko pada tahap awal dan mendukung lahirnya gagasan baru.

Teknologi juga diperlukan agar setiap dolar yang dibelanjakan menghasilkan dampak lebih besar. Bank Dunia bertugas memadukan berbagai sumber daya tersebut sesuai kebutuhan masing-masing negara.

"Kebutuhan akan tersedianya 800 juta lapangan kerja adalah sebuah proyeksi. Hal itu tidak harus menjadi masa depan kita," tuturnya.

Karena itu, Ajay menekankan perlunya memperluas skala dan mempercepat pelaksanaan pendekatan pembangunan yang telah mulai menunjukkan hasil, sesuai dengan kebutuhan generasi mendatang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article