ilustrasi atasan yang bersikap apatis dan tidak peduli terhadap keluhan bawahan di kantor (pexels.com/Sora Shimazaki)
Jumlah keluhan pelanggan dan kesalahan operasional dapat menjadi sinyal adanya masalah dalam proses bisnis. Keluhan yang berulang mungkin berkaitan dengan kualitas produk, pelayanan, ketepatan pesanan, atau waktu pengiriman. Sementara itu, kesalahan internal seperti produk cacat, pencatatan stok yang tidak akurat, dan transaksi yang salah dapat menambah biaya operasional.
Pemilik usaha sebaiknya mencatat jenis keluhan, frekuensi kejadian, penyebab, dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Data tersebut dapat digunakan untuk menentukan masalah yang paling sering terjadi dan menyusun langkah perbaikan yang terukur. Selain menghitung jumlah keluhan, bisnis juga perlu memantau apakah masalah yang sama kembali muncul setelah tindakan perbaikan dilakukan.
Indikator operasional membantu pemilik bisnis memahami kondisi usaha secara lebih terukur, bukan hanya berdasarkan perkiraan. Lima indikator yang dapat dipantau meliputi rasio biaya operasional terhadap pendapatan, produktivitas karyawan, perputaran stok, ketepatan waktu penyelesaian pesanan, serta tingkat keluhan dan kesalahan operasional. Masing-masing memberikan gambaran berbeda tentang efisiensi, kualitas, dan kelancaran proses kerja.
Agar pemantauan memberikan hasil nyata, pemilik bisnis perlu menetapkan target yang sesuai dengan karakteristik usahanya dan mengevaluasi data secara rutin. Tidak semua indikator harus dipantau setiap hari karena frekuensinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional. Dengan menggunakan data sebagai dasar evaluasi, pemilik bisnis dapat menemukan pemborosan lebih cepat, memperbaiki proses kerja, dan mendukung pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.