Jakarta, IDN Times - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi munculnya industri baru di berbagai sektor. Namun, pemanfaatan teknologi ini membutuhkan dukungan infrastruktur digital, proses bisnis yang sesuai, serta ekosistem yang memungkinkan inovasi berkembang menjadi layanan bernilai ekonomi.
Telkom Ungkap Fondasi Penting untuk Pengembangan Industri AI
Telkom menilai infrastruktur digital, seperti konektivitas, pusat data, dan platform AI, menjadi fondasi utama agar penggunaan AI meluas serta menciptakan nilai ekonomi.
Penerapan AI belum otomatis menghasilkan dampak bisnis: 95 persen proyek percontohan AI generatif belum memengaruhi laba-rugi, sehingga perusahaan perlu mendesain ulang proses kerja.
Telkom mengembangkan ekosistem Sovereign Digital Technology, mencakup data center, ModelHub, IoT, dan PaDiSera, sambil mendorong kolaborasi lintas pihak serta investasi jangka panjang.
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Nanang Hendarno, menyampaikan hal tersebut dalam sesi pleno bertajuk "The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?" pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Dalam diskusi tersebut, Nanang menyoroti peluang industri AI, tantangan penerapannya di dunia bisnis, serta peran infrastruktur digital dalam mendukung perkembangan teknologi tersebut.
1. Infrastruktur digital jadi fondasi pengembangan industri AI
Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno (kedua dari kiri) menyampaikan paparan dalam sesi pleno bertajuk “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Selasa (27/10/2026). (dok. Telkom) Menurut Nanang, peluang bisnis AI tidak hanya terletak pada penjualan teknologi, tetapi juga pada penyediaan infrastruktur yang mendukung penggunaannya secara luas. Penurunan biaya penggunaan AI dapat mendorong peningkatan konsumsi, sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap kapasitas komputasi dan konektivitas.
“Peluang terbesar bukan sekadar menjual AI per unit, melainkan membangun infrastruktur yang menopang penggunaannya secara luas. Ketika biaya penggunaan semakin rendah, konsumsi dapat tumbuh lebih cepat. Karena itu, nilai ekonomi akan semakin ditentukan oleh kemampuan menyediakan infrastruktur dan kepercayaan yang dibutuhkan agar AI dapat digunakan secara luas,” ujar Nanang.
Telkom mengembangkan fondasi tersebut melalui jaringan konektivitas, pusat data, serta platform dan aplikasi AI. Perusahaan ini memiliki kapasitas satelit sebesar 42,2 Gbps, jaringan serat optik dan kabel laut sepanjang lebih dari 211 ribu kilometer, serta 58 titik kehadiran internasional atau Points of Presence (PoPs).
Di sisi komputasi, NeutraDC mengoperasikan pusat data dengan kapasitas 48,4 MW per kuartal III 2026 di Indonesia dan Asia Tenggara. Telkom juga memiliki aspirasi untuk memperluas kapasitas pusat data hingga 1 gigawatt. Pengembangan ini membutuhkan dukungan energi dan sistem pendinginan yang andal untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI.
2. Penerapan AI perlu diikuti perubahan proses bisnis

Ilustrasi AI (dok. Unsplash/Solen Feyissa) Meski adopsi AI terus berkembang, perusahaan masih menghadapi tantangan dalam mengubah pemanfaatan teknologi menjadi hasil bisnis. Dalam paparannya, Nanang menyebut 95 persen proyek percontohan AI generatif belum memberikan dampak terhadap laba-rugi perusahaan. Sementara itu, hanya 25 persen perusahaan yang mencapai tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) sesuai harapan.
Integrasi AI ke dalam proses kerja juga masih terbatas. Nanang menyampaikan bahwa baru 21 persen perusahaan yang telah mendesain ulang alur kerjanya untuk memanfaatkan teknologi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penerapan AI membutuhkan lebih dari sekadar adopsi teknologi. Perusahaan juga perlu menyesuaikan proses bisnis, memastikan biaya penggunaan tetap terjangkau, membangun ekosistem mitra dan pengembang, serta memperhatikan standar dan regulasi.
Telkom turut mengembangkan ModelHub untuk menyediakan akses dan tata kelola berbagai model AI, mulai dari model global hingga model berdaulat dan model yang dirancang sesuai kebutuhan industri. Platform ini juga mendukung pengembangan aplikasi dan kasus penggunaan AI.
3. Telkom kembangkan ekosistem teknologi digital berdaulat

Chief Technology Officer Danantara Sigit Puji Santosa (kiri), Managing Director Strategic Technology Initiatives Danantara Irwan Rey (kanan), dan Direktur IT Digital Telkom Kharim I. G. Siregar (tengah) meluncurkan pengembangan Sovereign Digital Technology TelkomGroup pada rangkaian Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10). (dok. Telkom) TelkomGroup turut memperkuat ekosistem digital nasional melalui inisiatif pengembangan Sovereign Digital Technology yang diluncurkan pada hari pertama DTIIF 2026. Inisiatif ini mencakup empat kapabilitas strategis, yaitu AI Ready Data Center, AI ModelHub, National IoT Platform, dan PaDiSera.
Keempat kapabilitas tersebut mengintegrasikan infrastruktur komputasi, pengembangan AI, konektivitas perangkat, serta perluasan akses pasar bagi UMKM. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung kemandirian teknologi Indonesia dan memperluas pemanfaatan ekonomi digital di berbagai sektor.
Nanang juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, perusahaan infrastruktur digital, pengembang teknologi, startup, dan pelaku UMKM. Pemerintah berperan dalam menetapkan regulasi, sementara penyedia infrastruktur mendukung konektivitas dan komputasi. Di sisi lain, pengembang teknologi dan startup dapat menghadirkan solusi sesuai kebutuhan pasar, sedangkan UMKM berpeluang memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, layanan, dan penjualan.
Menurut Nanang, pengembangan industri baru juga membutuhkan investasi jangka panjang atau patient capital, terutama untuk membangun fondasi sebelum permintaan pasar terbentuk.
“Industri global berikutnya tidak hanya dibangun oleh pihak yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh mereka yang bersedia membangun fondasinya sebelum permintaan pasar terbentuk. Indonesia memiliki kebutuhan dan infrastruktur digital sebagai modal awal. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kapabilitas, membangun kolaborasi, dan mengembangkan industri yang mampu bersaing di tingkat global. Teknologi yang kita bangun hari ini akan menjadi industri global masa depan,” tutup Nanang. (WEB)




















