Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Iklan Sering Membuat Masalah Kecil Terlihat Sangat Besar?

3 min read
Kenapa Iklan Sering Membuat Masalah Kecil Terlihat Sangat Besar?
ilustrasi iklan skincare (freepik.com/freepik)
  • Iklan dapat membesar-besarkan masalah agar produk terlihat lebih dibutuhkan sebagai solusi.

  • Rasa takut kehilangan, standar ideal, dan emosi negatif dapat mendorong konsumen membeli produk secara impulsif.

  • Memahami strategi pemasaran membantu konsumen membedakan kebutuhan nyata dari kekhawatiran yang dibentuk oleh iklan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melihat iklan yang membuat masalah sederhana terasa seperti sesuatu yang harus segera diatasi? Misalnya, kulit kusam digambarkan bisa mengurangi rasa percaya diri atau rumah berantakan seolah menunjukkan bahwa penghuninya tidak mampu mengatur kehidupan. Padahal, masalah tersebut belum tentu mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam dunia pemasaran, cara ini digunakan untuk membuat produk terasa lebih dibutuhkan. Iklan tidak hanya menawarkan manfaat, tetapi juga bisa membangun kekhawatiran agar konsumen terdorong mencari solusi. Lantas, kenapa strategi ini cukup efektif?

  1. 1. Membuat masalah terlihat lebih serius

    ilustrasi menggunakan obat jerawat
    ilustrasi menggunakan obat jerawat (freepik.com/freepik)

    Banyak iklan menggunakan pola problem–solution, yaitu menunjukkan masalah sebelum menawarkan produk sebagai solusi. Contohnya, iklan pasta gigi menampilkan seseorang yang malu berbicara karena khawatir dengan bau mulut. Padahal, belum tentu masalah tersebut berdampak besar pada kehidupan sosialnya.

    Dengan menonjolkan konsekuensi yang tidak menyenangkan, iklan membuat konsumen merasa perlu segera bertindak. Semakin besar masalah yang dibayangkan, semakin penting pula produk yang ditawarkan terlihat. Strategi ini bisa membantu konsumen memahami manfaat produk. Namun, jika masalah sengaja dibesar-besarkan, konsumen berisiko membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

  2. 2. Memanfaatkan rasa takut kehilangan

    ilustrasi iklan
    ilustrasi iklan (unsplash.com/Dennis Maliepaard)

    Iklan juga sering menyoroti hal-hal yang mungkin hilang jika konsumen tidak segera membeli produk. Dalam psikologi, kecenderungan untuk lebih menghindari kerugian daripada mengejar keuntungan yang setara dikenal sebagai loss aversion. Misalnya, iklan produk kecantikan dapat menyiratkan bahwa penampilan yang kurang terawat akan mengurangi rasa percaya diri. Sementara itu, iklan asuransi mungkin menampilkan kejadian tak terduga bisa membuat seseorang tiba-tiba bangkrut.

    Pesan tersebut membuat konsumen membayangkan risiko jika tidak segera bertindak. Akibatnya, mereka bisa merasa harus segera membeli produk untuk menghindari kerugian yang dikhawatirkan. Padahal, keputusan tersebut sebaiknya tetap mempertimbangkan manfaat produk dan harga yang harus dibayar.

  3. 3. Membandingkan konsumen dengan standar ideal

    ilustrasi iklan di HP
    ilustrasi iklan di HP (unsplash.com/abillion)

    Masalah kecil juga bisa terasa besar ketika iklan terus menampilkan standar kehidupan yang tampak sempurna. Kulit harus mulus, rumah selalu rapi, dan aktivitas sehari-hari harus terlihat produktif. Ketika gambaran tersebut terus muncul, konsumen bisa mulai menganggap kondisi normal sebagai kekurangan. Jerawat sesekali atau rumah berantakan setelah beraktivitas, terasa seperti masalah yang harus segera diperbaiki.

    Produk kemudian ditawarkan sebagai solusi untuk mencapai standar ideal tersebut. Padahal, kehidupan nyata tidak selalu sesempurna yang ditampilkan dalam iklan. Gambar dan video iklan biasanya sudah dipersiapkan untuk menonjolkan sisi terbaik suatu produk atau situasi.

  4. 4. Menggunakan emosi agar konsumen tertarik

    ilustrasi menonton iklan
    ilustrasi menonton iklan (unsplash.com/Detail .co)

    Rasa malu, cemas, dan takut tertinggal bisa membuat iklan lebih mudah menarik perhatian. Ketika sebuah produk dikaitkan dengan emosi tersebut, konsumen tidak hanya mempertimbangkan kegunaannya, tetapi juga berharap bisa terbebas dari perasaan tidak nyaman. Contohnya, iklan produk pengatur keuangan dapat menggambarkan orang yang kesulitan mengelola pengeluaran sebagai pribadi yang tidak bertanggung jawab. Padahal, kondisi keuangan juga dipengaruhi pendapatan, kebutuhan keluarga, dan situasi ekonomi.

    Pendekatan emosional memang bisa membuat iklan lebih mudah diingat. Namun, iklan yang terlalu menakut-nakuti atau mempermalukan konsumen justru bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Jika hal ini terjadi, konsumen bisa kehilangan kepercayaan terhadap merek tersebut.

  5. 5. Mengulang pesan sampai terasa penting

    ilustrasi iklan di media sosial
    ilustrasi iklan di media sosial (pexels.com/Viralyft)

    Pernah merasa semakin memperhatikan suatu kekurangan setelah berkali-kali melihat iklan tentang hal tersebut? Pengulangan pesan bisa membuat sebuah masalah semakin menonjol dalam pikiran. Saat sebuah iklan terus membahas kulit kusam, bau badan, atau rumah kotor, konsumen mungkin mulai lebih peka terhadap hal-hal yang sebelumnya tidak terlalu dipikirkan. Pada saat yang sama, merek yang sering muncul juga menjadi lebih mudah diingat ketika mereka membutuhkan produk tertentu.

    Pada akhirnya, iklan sering membuat masalah kecil terlihat besar karena kekhawatiran dapat mendorong konsumen mencari solusi. Dengan memahami strategi ini, harapannya kita bisa belajar membedakan kebutuhan yang sebenarnya dari masalah yang terasa penting karena terus-menerus ditampilkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More