Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perusahaan RI Mulai Pakai AI buat Urusan Duit, Ini Tantangannya

3 min read
Perusahaan RI Mulai Pakai AI buat Urusan Duit, Ini Tantangannya
ilustrasi teknologi AI (vecteezy.com/RIAN SRI RATNO UTOMO)
  • Manajer keuangan di Indonesia optimistis AI bermanfaat bagi pengelolaan keuangan perusahaan dan mulai menggunakannya untuk mengotomatisasi transaksi treasury.

  • Integrasi dengan sistem lama, keterbatasan tenaga ahli, risiko, biaya, dan kualitas data menjadi kendala perluasan adopsi AI.

  • Perusahaan perlu memperkuat data, tata kelola, kontrol, dan teknologi keamanan transaksi, sementara AI tetap membantu, bukan menggantikan, keputusan manusia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Survei HSBC Redefining Treasury in Asia Pacific: Voices of Treasury 2026 menunjukkan, manajer keuangan korporasi di Indonesia termasuk yang paling optimistis di Asia Pasifik terhadap pemanfaatan akal imitasi (artificial intelligence/AI).

Sebanyak 84 persen responden memperkirakan AI akan sangat bermanfaat bagi pengelolaan keuangan perusahaan dalam tiga tahun ke depan. Angka tersebut melampaui rata-rata Asia Pasifik sebesar 72 persen.

Penggunaan AI di perusahaan Indonesia juga mulai berkembang. Sebanyak 34 persen manajer keuangan telah menggunakan AI agent untuk mengotomatisasi transaksi treasury, hampir dua kali lipat dari rata-rata Asia Pasifik sebesar 17 persen.

Sementara itu, hanya 7 persen perusahaan di Indonesia yang belum mengadopsi AI untuk fungsi treasury, lebih rendah dibandingkan rata-rata kawasan sebesar 19 persen.

"Pembicaraan mengenai AI telah bergeser dari sekadar rasa ingin tahu menjadi kapabilitas," kata Head of Global Payments Solutions, Asia ex Greater China di HSBC Manoj Dugar pada Kamis (29/10/2026).

  1. 1. Penerapan AI perlu didukung kesiapan sistem

    ilustrasi pengguna teknologi AI
    ilustrasi pengguna teknologi AI (vecteezy.com/Khoirul Arif)

    Manoj menekankan pentingnya kesiapan data, tata kelola, dan kontrol agar perusahaan bisa memperluas penggunaan AI sekaligus memperoleh manfaatnya lebih cepat.

    Penerapan teknologi itu juga berkaitan dengan kebutuhan perusahaan mengelola transaksi keuangan di tengah fluktuasi nilai tukar dan suku bunga. Survei HSBC mencatat, pengelolaan transaksi di tengah perubahan kedua indikator tersebut menjadi prioritas utama korporasi di Indonesia dan Asia Pasifik dalam 12 bulan ke depan.

    "Pembeda utamanya kini terletak pada implementasi, yaitu membenahi fondasi," ujar dia.

  2. 2. Integrasi sistem jadi hambatan terbesar adopsi AI

    ilustrasi teknologi AI, robot, machine learning
    ilustrasi teknologi AI, robot, machine learning (vecteezy.com/Сергей Кругляк)

    Meski optimistis terhadap manfaat AI, perusahaan di Indonesia masih menghadapi sejumlah kendala untuk memperluas penggunaannya. Sebanyak 80 persen responden menyebut integrasi AI dengan sistem yang sudah ada sebagai hambatan utama. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 70 persen.

    Kendala lainnya meliputi keterbatasan tenaga ahli dan risiko, yang masing-masing disebut oleh 40 persen responden. Sebanyak 33 persen responden menyoroti biaya, sedangkan 27 persen lainnya menyebut kualitas data.

    Dalam membangun sistem treasury yang dapat memproses transaksi secara real time, persetujuan anggaran juga menjadi tantangan. Sebanyak 48 persen manajer keuangan di Indonesia menyebut proses tersebut sebagai salah satu kendala terbesar. Selain itu, 37 persen responden menyoroti risiko keamanan dan kesulitan meyakinkan pemangku kepentingan mengenai manfaat perubahan sistem.

    Di tingkat Asia Pasifik, integrasi sistem juga menjadi hambatan utama. Kendala berikutnya adalah keterbatasan tenaga ahli yang disebut oleh 47 persen responden dan biaya sebesar 44 persen. Adapun kualitas data menjadi persoalan bagi 35 persen responden.

    Hasil AI bergantung pada kualitas data, konteks yang digunakan, serta validasi manusia. Karena itu, AI lebih tepat digunakan untuk membantu proses pengambilan keputusan, bukan menjadi penentu keputusan akhir.

  3. 3. Bank bisa berperan lebih dari penyedia layanan keuangan

    ilustrasi bank, perbankan, ATM, tarik tunai, setor tunai
    ilustrasi bank, perbankan, ATM, tarik tunai, setor tunai (magnific.com/jcomp)

    Country Head of Global Payments Solutions HSBC Indonesia Anne Suhandojo mengatakan perusahaan di Indonesia kini lebih berfokus mempercepat adopsi AI daripada sekadar mempertanyakan pentingnya teknologi tersebut.

    "Bank akan semakin berperan sebagai mitra strategis dalam ekosistem manajemen keuangan perusahaan yang cerdas (intelligent treasury management), tidak lagi hanya menjadi penyedia layanan perbankan," kata dia.

    Seiring transaksi yang semakin mengarah ke proses real time, pembayaran dinilai sebagai bagian treasury yang paling rentan terhadap risiko siber. Kondisi itu tercatat di Indonesia dan 10 dari 11 pasar Asia Pasifik yang disurvei HSBC.

    Sebanyak 77 persen responden di Indonesia menilai perusahaan perlu meningkatkan teknologi untuk memperkuat keamanan transaksi. Angka tersebut jauh di atas rata-rata Asia Pasifik sebesar 57 persen dan menempatkan Indonesia pada posisi ketiga tertinggi di kawasan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More