Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Trik Psychological Pricing yang Bikin Barang Terasa Murah
tag harga di supermarket (pexels.com/Erik Mclean)
  • Psychological pricing memengaruhi persepsi harga melalui cara angka dan nilai ditampilkan, tanpa selalu mengandalkan diskon besar.
  • Tekniknya mencakup akhiran angka 9, harga pembanding, opsi umpan, serta pemecahan biaya menjadi nominal lebih kecil.
  • Paket hemat dapat meningkatkan persepsi nilai dan jumlah pembelian, tetapi semua strategi perlu transparan, relevan, serta selaras dengan kualitas produk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah gak kamu melihat harga Rp99 ribu lalu merasa harganya jauh lebih ringan dibanding Rp100 ribu? Padahal, selisihnya cuma seribu rupiah, tetapi cara angka tersebut ditampilkan bisa memengaruhi persepsi saat seseorang akan membeli. Strategi seperti ini dikenal sebagai psychological pricing, yaitu teknik menetapkan dan menyajikan harga dengan mempertimbangkan cara konsumen memproses angka dan nilai.

Dalam praktiknya, psychological pricing gak selalu berarti memberikan diskon besar kepada pelanggan. Pelaku bisnis bisa mengatur tampilan harga, membandingkan beberapa pilihan, atau menggabungkan produk supaya sebuah penawaran terasa lebih menguntungkan. Berikut beberapa trik psychological pricing yang bisa membuat harga produk terasa lebih murah di mata konsumen.

1. Charm pricing (akhiran angka 9)

tag harga di supermarket (pexels.com/Kenneth Surillo)

Kamu mungkin sering menemukan harga seperti Rp49.900, Rp99.000, atau Rp199.900 di toko online maupun offline. Teknik ini disebut charm pricing, yaitu menetapkan harga sedikit di bawah angka bulat agar produk terasa lebih terjangkau.

Cara kerjanya berkaitan dengan kecenderungan konsumen memerhatikan angka paling kiri terlebih dahulu. Karena itu, Rp99.900 dapat terasa seperti harga “sembilan puluh ribuan”, sementara Rp100.000 langsung terbaca sebagai seratus ribu.

Teknik ini cocok digunakan untuk produk yang memang sensitif terhadap harga, seperti pakaian, makanan, aksesori, atau barang kebutuhan sehari-hari. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan citra merek karena harga bulat justru bisa terasa lebih premium untuk produk kelas atas.

2. Price anchoring (patokan harga coret)

tag harga di supermarket (pexels.com/Erik Mclean)

Pernah melihat harga Rp300 ribu dicoret lalu di bawahnya tertulis Rp199 ribu? Itu merupakan contoh price anchoring, yaitu memberikan patokan harga sebelum konsumen melihat harga yang sebenarnya harus dibayar.

Angka Rp300 ribu berfungsi sebagai pembanding sehingga Rp199 ribu terlihat lebih murah. Konsumen akhirnya gak hanya menilai Rp199.000 berdasarkan nominalnya, tetapi juga membandingkannya dengan harga awal yang sudah dilihat.

Strategi ini akan lebih masuk akal jika harga pembanding memang valid. Jangan asal mencoret harga tinggi yang sebenarnya gak pernah digunakan karena bisa membuat pelanggan kehilangan kepercayaan.

3. Decoy effect (efek umpan)

ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Ninthgrid)

Decoy effect dilakukan dengan menghadirkan pilihan tambahan yang sengaja dibuat kurang menarik dibanding pilihan yang ingin didorong. Tujuannya bukan selalu agar opsi tersebut laku, tetapi supaya pilihan target terlihat lebih menguntungkan ketika dibandingkan.

Misalnya, kamu menawarkan tiga paket. Paket A seharga Rp50 ribu memiliki fitur dasar, paket B Rp90 ribu punya fitur lebih lengkap, sedangkan paket C Rp85 ribu hanya menawarkan sedikit tambahan dibanding paket A. Dalam kondisi ini, paket B bisa terlihat lebih menarik karena selisih harganya hanya Rp5 ribu dari opsi C, tetapi manfaat yang didapat jauh lebih banyak.

Teknik ini memanfaatkan cara konsumen membandingkan pilihan yang tersedia. Namun, pilihan tetap harus dibuat jelas agar pelanggan gak merasa sengaja diarahkan atau dibuat bingung.

4. Framing harga (pecahan biaya kecil)

ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Wheeleo Walker)

Harga yang sama bisa terasa berbeda ketika cara penyampaiannya diubah. Inilah yang dimanfaatkan dalam price framing, misalnya biaya berlangganan Rp300 ribu per tahun ditampilkan sebagai “hanya Rp25 ribu per bulan”.

Secara total, jumlah yang dibayarkan tetap sama. Namun, angka yang lebih kecil dapat membuat biaya terasa lebih ringan karena konsumen memikirkan pengeluaran dalam satuan yang lebih kecil.

Teknik ini cocok untuk layanan berlangganan, keanggotaan, aplikasi, atau produk yang memang digunakan secara rutin. Meski begitu, informasi total biaya tetap perlu disampaikan dengan jelas supaya strategi harga gak terkesan menutupi pengeluaran sebenarnya.

5. Price bundling (paket hemat)

ilustrasi belanja di supermarket (pexels.com/Hobi industri)

Trik berikutnya adalah menggabungkan beberapa produk dalam satu paket dengan harga yang terasa lebih hemat. Misalnya, satu produk dijual Rp50 ribu, tetapi tiga produk sekaligus ditawarkan dalam paket Rp125 ribu.

Konsumen akan melihat adanya penghematan dibandingkan membeli ketiganya secara terpisah. Selain membuat penawaran terlihat menarik, price bundling juga bisa membantu bisnis meningkatkan jumlah barang yang dibeli dalam satu transaksi.

Supaya efektif, isi paket sebaiknya memang relevan dan memberikan manfaat yang jelas. Jangan sampai pelanggan merasa membeli barang yang sebenarnya gak mereka butuhkan hanya karena label “paket hemat”. Strategi bundling dapat meningkatkan persepsi nilai, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dan keuntungan bisnis.

Psychological pricing menunjukkan bahwa harga bukan cuma soal nominal, tetapi juga cara angka tersebut dipersepsikan oleh konsumen. Mulai dari akhiran angka 9, harga coret, pilihan umpan, pecahan biaya, sampai paket hemat, semuanya dapat digunakan untuk membuat sebuah penawaran terasa lebih menarik.

Meski begitu, strategi ini sebaiknya tetap digunakan secara wajar dan transparan. Harga yang terlihat murah mungkin bisa menarik perhatian, tetapi kualitas produk dan nilai yang diberikan tetap menjadi alasan penting agar konsumen mau kembali membeli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article