Era Ekonomi K Disebut Berakhir, Benarkah Kesenjangan Mulai Pulih?

- Pertumbuhan upah setelah pajak kelompok berpenghasilan rendah mencapai 5,2 persen tahunan pada Juli, melampaui kelompok berpenghasilan tinggi untuk pertama kali sejak Desember 2024.
- Percepatan pendapatan dan belanja belum menghapus kesenjangan; rumah tangga dengan skor kredit rendah masih mengalami peningkatan tunggakan hipotek dan kendaraan.
- Biaya perumahan, utang, serta kebutuhan harian tetap membebani banyak keluarga, sehingga perubahan pola ekonomi belum membuktikan pemulihan kesenjangan secara menyeluruh.
Istilah ekonomi berbentuk K (K-shaped economy) mungkin sudah sering kamu dengar dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika kelompok berpenghasilan tinggi terus melaju, sementara masyarakat berpenghasilan rendah justru semakin kesulitan mengejar ketertinggalan.
Namun, belakangan muncul anggapan bahwa pola tersebut mulai berubah karena pertumbuhan upah dan belanja kelompok berpenghasilan rendah mulai membaik. Bahkan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut ekonomi berbentuk K sudah berakhir dan mulai bergerak ke arah ekonomi berbentuk C.
Meski terdengar seperti kabar baik, kamu tetap perlu melihat lebih jauh apakah perubahan tersebut benar-benar berarti kesenjangan ekonomi sudah mulai pulih.
1. Ekonomi K mulai menunjukkan tanda perubahan

ilustrasi berangkat kerja, jalan kaki, karyawan kantoran, pekerja, rekan kerja, stasiun subway, New York, Amerika Serikat (pexels.com/Mizuno K) Ekonomi berbentuk K sebenarnya menggambarkan pengalaman finansial yang berbeda antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan rendah. Kelompok atas biasanya punya aset, tabungan, serta daya beli yang lebih kuat sehingga bisa tetap meningkatkan pengeluaran ketika ekonomi menghadapi tekanan.
Sementara itu, kelompok berpenghasilan rendah lebih rentan terkena dampak kenaikan harga dan biaya hidup. Karena perbedaan tersebut semakin melebar, kondisi ekonomi kemudian dianalogikan seperti dua garis pada huruf K yang bergerak ke arah berbeda.
Namun, sejumlah data terbaru mulai menunjukkan adanya perubahan arah. Menurut Bank of America Institute, pertumbuhan upah setelah pajak kelompok berpenghasilan rendah mencapai rata-rata 5,2 persen secara tahunan pada Juli.
Angka tersebut bahkan untuk pertama kalinya sejak Desember 2024 melampaui pertumbuhan upah kelompok berpenghasilan tinggi. Pertumbuhan belanja kelompok berpenghasilan rendah juga mencapai 54 persen secara tahunan pada Juli, didukung oleh kenaikan upah setelah pajak.
2. Bukan berarti kelompok berpenghasilan rendah sudah menang

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, belanja di supermarket (magnific.com/rawpixel.com) Kenaikan upah dan belanja kelompok berpenghasilan rendah memang terdengar positif. Akan tetapi, kamu jangan langsung menyimpulkan bahwa kelompok tersebut sekarang sudah berada dalam kondisi finansial yang lebih baik dibandingkan sebelumnya, ya.
Pertumbuhan yang lebih cepat belum tentu berarti jumlah uang yang dimiliki atau tingkat kesejahteraannya sudah menyamai kelompok berpenghasilan tinggi. Artinya, kesenjangan mungkin mulai menyempit, tapi belum tentu sudah hilang.
Tekanan finansial juga masih terlihat dari kondisi kredit konsumen. Ethan Dornhelm, wakil presiden bidang skor dan analitik prediktif FICO, mengatakan konsumen dengan skor kredit paling rendah mulai menunjukkan sedikit peningkatan tunggakan pinjaman hipotek dan kendaraan selama 90 hari atau lebih.
Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa sebagian rumah tangga masih kesulitan memenuhi kewajiban finansialnya. Jadi, kalau kamu melihat pertumbuhan pendapatan saja, gambaran ekonominya bisa terlihat lebih cerah daripada kondisi sebenarnya.
3. Biaya rumah masih jadi beban besar

ilustrasi perumahan di Amerika Serikat (pexels.com/Get Lost Mike) Salah satu alasan mengapa kesenjangan belum bisa dianggap pulih sepenuhnya adalah mahalnya biaya tempat tinggal. Data J.D. Power menunjukkan kekhawatiran terhadap biaya perumahan hampir menyamai harga bensin sebagai sumber tekanan finansial terbesar kedua setelah kebutuhan bahan makanan.
Bahkan, rata-rata cicilan bulanan pembeli rumah pertama telah mencapai 2.563 dolar AS atau sekitar Rp41,1 juta per bulan, dengan asumsi kurs Rp16 ribu per dolar AS. Jumlah tersebut naik 57 persen dibandingkan April 2019, jauh lebih tinggi daripada inflasi umum yang berada di sekitar 30 persen dalam periode yang sama.
Tekanan ini gak hanya dirasakan oleh kelompok berpenghasilan rendah. FICO menemukan bahwa 43 persen pemilik rumah yang disurvei mengatakan total biaya tempat tinggal setiap bulan membuat mereka lebih sulit memenuhi pengeluaran lainnya.
Data Federal Reserve Bank of Atlanta juga menunjukkan kemampuan masyarakat untuk membeli rumah masih tertekan sejak kenaikan suku bunga hipotek yang signifikan pada 2022. Jadi, meskipun pendapatan sebagian kelompok mulai tumbuh lebih cepat, biaya hidup yang tinggi tetap bisa menggerus manfaat kenaikan tersebut.
4. Ekonomi bahkan bisa berubah jadi bentuk lain

ilustrasi stock market, pasar saham, investasi, risiko (vecteezy.com/Jesper Persson) Perubahan dari ekonomi K ternyata gak otomatis berarti ekonomi akan berbentuk C secara permanen. Sejumlah ekonom bahkan melihat kemungkinan munculnya bentuk lain, termasuk ekonomi berbentuk E yang menggambarkan kelompok berpenghasilan tinggi, kelas menengah yang terjepit, dan kelompok bawah yang masih kesulitan.
Ada pula kemungkinan muncul pola seperti X jika pertumbuhan belanja kelompok berpenghasilan rendah terus melampaui kelompok berpenghasilan tinggi. David Tinsley, ekonom senior Bank of America Institute, menilai ada sedikit risiko pola X tersebut berkembang apabila tren pertumbuhan belanja terus berlanjut.
Kondisi pasar saham juga bisa memengaruhi arah ekonomi berikutnya. Kelompok berpenghasilan tinggi cenderung lebih banyak memiliki saham sehingga penurunan pasar dapat membuat mereka mengurangi pengeluaran.
Gregory Daco, kepala ekonom EY-Parthenon, menilai situasi seperti itu bisa menjadi pemicu perlambatan belanja konsumen dan berpotensi membuat pertumbuhan ekonomi ikut melemah. Jadi, bentuk huruf yang digunakan untuk menggambarkan ekonomi sebenarnya bisa berubah lagi mengikuti kondisi masyarakat.
5. Usia mungkin lebih penting daripada bentuk huruf

ilustrasi mencari pekerjaan, loker, lowongan kerja, ngopi, berangkat kerja (magnific.com/ArthurHidden) Pada akhirnya, kamu mungkin gak perlu terlalu terpaku pada apakah ekonomi saat ini berbentuk K, C, E, atau X. Para ekonom melihat bahwa faktor usia dan tahap kehidupan bisa menjadi cara yang lebih berguna untuk memahami siapa yang paling merasakan tekanan finansial.
Generasi Z yang baru memasuki dunia kerja, misalnya, menghadapi persoalan yang berbeda dengan generasi X yang sudah berada di usia pertengahan karier. Keduanya bisa sama-sama tertekan, tapi penyebab dan kebutuhan finansialnya belum tentu sama.
Bagi Gen Z, biaya tempat tinggal terutama bagi mereka yang masih menyewa menjadi salah satu persoalan utama. Sementara itu, generasi X bisa berada dalam posisi harus membantu anak, mendukung orangtua, sekaligus menyiapkan dana pensiun sendiri.
Karena itu, perubahan pertumbuhan upah dan belanja memang menjadi kabar yang cukup positif, tapi belum cukup untuk membuktikan bahwa kesenjangan ekonomi sudah sepenuhnya pulih. Kalau kamu ingin melihat kondisi ekonomi dengan lebih realistis, penting untuk melihat bukan cuma siapa yang pendapatannya tumbuh paling cepat, tapi juga siapa yang masih punya ruang bernapas setelah membayar seluruh kebutuhan hidup.
Secara keseluruhan, pernyataan bahwa ekonomi K sudah berakhir memang punya dasar dari sejumlah perkembangan terbaru. Pertumbuhan upah dan belanja kelompok berpenghasilan rendah mulai mengejar kelompok atas, sehingga jarak ekonomi terlihat lebih dekat dibanding sebelumnya.
Namun, tekanan dari biaya rumah, utang, dan kebutuhan sehari-hari masih membuat banyak rumah tangga berada dalam kondisi sulit. Jadi, lebih tepat kalau kamu melihatnya sebagai tanda bahwa kesenjangan mulai berubah arah, bukan sebagai bukti bahwa masalah kesenjangan sudah selesai.





















