Kanada Resmi Berlakukan Tarif Balasan hingga 50 Persen untuk Barang AS

- Kanada memberlakukan tarif balasan 15–50 persen pada impor AS senilai 20 miliar dolar AS, sebagai respons atas tarif 50 persen Washington terhadap produk Kanada.
- Tarif Kanada menyasar barang seperti susu, parfum, konsol gim, baja, aluminium, keju, dan peralatan rumah tangga; tarif boga bahari dibatalkan setelah keberatan industri lobster.
- PM Mark Carney ingin mengurangi ketergantungan ekonomi pada AS setelah negosiasi buntu, sementara Trump mengancam melarang penjualan Bombardier di pasar AS.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Kanada resmi memberlakukan tarif balasan terhadap produk impor asal Amerika Serikat (AS) senilai 20 miliar dolar AS atau setara Rp352,12 triliun (kurs Rp17.606) pada Selasa (8/9/2026), pukul 00.01 waktu setempat. Kebijakan ini diberlakukan menyusul eskalasi sengketa dagang yang kian meruncing antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Pungutan tarif balasan tersebut ditetapkan berkisar antara 15 persen hingga 50 persen terhadap beragam komoditas impor dari AS. Tindakan pembalasan ini merupakan respons langsung atas keputusan Washington yang menerapkan tarif sebesar 50 persen terhadap produk Kanada senilai 20 miliar dolar AS sejak 22 Agustus lalu.
1. Daftar produk AS yang terkena tarif balasan Kanada

bendera Kanada dan Amerika Serikat (unsplash.com/Walter Martin) Dilansir CBS News, tarif sebesar 50 persen menyasar barang buatan AS seperti susu, parfum, konsol gim video, stik golf, dan joran pancing. Selain produk konsumsi, tarif maksimal tersebut juga dibebankan pada baja, aluminium, jaket, serta kaus oblong. Kebijakan proteksi ini menjadi pembalas atas tarif AS yang sebelumnya memukul komoditas Kanada seperti madu, tongkat hoki, minuman beralkohol, hingga semen.
Sementara itu, produk keju, karpet, serta peralatan rumah tangga berupa kompor dan pendingin ruangan dikenai tarif sebesar 25 persen. Pemerintah Kanada juga membebankan tarif 15 persen pada impor truk garpu atau forklift dan cetakan industri. Komoditas boga bahari sebelumnya sempat masuk dalam daftar tarif 25 persen, namun akhirnya dibatalkan setelah menerima keberatan dari kalangan industri lobster lokal.
2. Alasan PM Mark Carney menolak ketergantungan pada AS

Perdana Menter Kanada Mark Carney (World Economic Forum, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Perdana Menteri Mark Carney menegaskan bahwa Kanada akan bergerak lebih cepat demi memangkas ketergantungan ekonomi terhadap AS. Dia menekankan bahwa Ottawa tidak dapat terus memberikan akses bebas tarif bagi produk AS saat perusahaan domestik Kanada dibebani biaya ekspor yang mahal.
Dilansir The Guardian, Carney menilai pihak AS menginginkan relasi ketergantungan sepihak, bukan kemitraan ekonomi yang adil.
"Di terlalu banyak bidang, mereka menginginkan ketergantungan, bukan kemitraan ekonomi sejati," kata Carney.
"Kita tidak bisa membiarkan barang-barang Amerika masuk ke Kanada bebas tarif sementara mereka memungut biaya dari perusahaan kita untuk mengekspor ke mereka," imbuhnya.
Hubungan diplomatik kedua negara terus menegang setelah negosiasi perdagangan di Washington terhenti pada Jumat (21/8/2026). Carney menjelaskan bahwa perundingan buntu karena delegasi AS menyodorkan klausul pembatasan kesepakatan dagang Kanada dengan negara lain pada saat-saat terakhir.
Pejabat AS juga dinilai melontarkan ancaman terhadap undang-undang perlindungan bahasa Prancis dan budaya di Quebec yang dipandang Washington sebagai hambatan. Padahal, bagi masyarakat provinsi timur Kanada tersebut, perlindungan budaya dan bahasa merupakan hak mendasar. Kendati demikian, pejabat tinggi perdagangan AS, Jamieson Greer, sempat menyatakan bahwa pihaknya memahami sensitivitas perlindungan bahasa Prancis dan menegaskan isu tersebut bukan hal yang dipaksakan secara kaku oleh Washington.
3. Ancaman Donald Trump dan dampak sengketa bagi kedua negara

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Di pihak seberang, Presiden Donald Trump mengancam akan menyetop seluruh penjualan pesawat buatan produsen asal Kanada, Bombardier Aviation, di pasar AS. Trump menuntut pabrikan yang bermarkas di Quebec itu memindahkan kegiatan manufakturnya secara langsung ke wilayah Amerika Serikat.
"Tidak boleh lagi ada penjualan Bombardier di Amerika Serikat!" tulis Trump lewat platform Truth Social miliknya tanpa menguraikan mekanisme pelarangan tersebut.
Menanggapi ancaman Trump, pihak Bombardier menyatakan, perusahaan mereka telah membuka puluhan ribu lapangan kerja di lebih dari 20 negara bagian AS. Pabrikan kedirgantaraan tersebut juga membelanjakan lebih dari 2,5 miliar dolar AS atau setara Rp44,02 triliun per tahun kepada jaringan pemasok yang melibatkan sekitar 2.800 perusahaan lokal AS.
Menurut data pemerintah AS, total transaksi arus perdagangan lintas batas antara kedua negara bertetangga ini bernilai lebih dari 700 miliar dolar AS atau setara Rp12.324,2 triliun pada tahun lalu.
Para pakar ekonomi memproyeksikan tarif balasan Kanada berisiko memukul sektor manufaktur di negara bagian wilayah barat tengah AS, seperti Michigan dan Indiana, serta peternak susu di Wisconsin dan Vermont. Di sisi lain, jajak pendapat Reuters/Ipsos mencatat hanya 20 persen warga AS yang menyetujui langkah Trump mengenakan tarif terhadap produk Kanada. Hingga saat ini, belum ada perundingan dagang lanjutan yang digelar untuk menuntaskan perselisihan antara kedua negara sekutu tersebut.





















