Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

IKK Agustus 2026 Naik Jadi 118,5, Konsumen Makin Optimistis

IKK Agustus 2026 Naik Jadi 118,5, Konsumen Makin Optimistis
ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 118,5. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan IKK pada bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 116,8. Hal ini disampaikan dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI).

Peningkatan optimisme konsumen tersebut ditopang oleh membaiknya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini serta meningkatnya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan. Hal ini tercermin dari kenaikan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

Pada Agustus 2026, IKE tercatat sebesar 109,4, meningkat dari 107,9 pada bulan sebelumnya. Sementara IEK naik menjadi 127,6 dari 125,7 pada Juli 2026. Dengan capaian tersebut, baik IKE maupun IEK masih berada di atas level 100 atau dalam zona optimistis.

"Jika dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen pada Agustus 2026 meningkat pada sebagian besar kelompok pengeluaran. IKK tertinggi tercatat pada responden dengan kelompok pengeluaran lebih dari Rp 5 juta per bulan, yakni sebesar 123,9," tulis BI dalam laporannya, Rabu (9/9/2026).

  1. 1. Keyakinan konsumen meningkat pada kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta

    ilustrasi belanja (pexels.com/MaxFischer)
    ilustrasi belanja (pexels.com/MaxFischer)

    Secara spasial, peningkatan IKK tertinggi pada Agustus 2026 terjadi di Mataram, Bandung, dan Medan. Sebaliknya, penurunan IKK terbesar terjadi di Padang, Surabaya, dan Banten. Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini juga menunjukkan perbaikan. Hal tersebut tercermin dari IKE Agustus 2026 yang berada pada level optimistis sebesar 109,4, naik dari 107,9 pada bulan sebelumnya.

    Peningkatan IKE tersebut bersumber dari kenaikan komponen pembentuknya, yaitu Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama atau Durable Goods (IPDG). Pada Agustus 2026, IKLK tercatat sebesar 104,1, meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 101,1. Berdasarkan wilayah, IKE mengalami peningkatan tertinggi di Bandung, Jakarta, dan Medan. Sementara penurunan IKE terbesar terjadi di Padang, Surabaya, dan Manado.

    "Dari sisi kelompok pengeluaran, keyakinan konsumen terhadap penghasilan saat ini tetap kuat pada seluruh kelompok. Indeks tertinggi tercatat pada kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta, yaitu sebesar 125,9. Berdasarkan kelompok usia, indeks penghasilan saat ini tertinggi tercatat pada kelompok usia 20-30 tahun dengan indeks sebesar 123,8," jelasnya.

  2. 2. Indeks ketersediaan lapangan kerja berada di level optimis untuk usia 20-40 tahun

    ilustrasi pembukaan lapangan kerja baru (freepik.com/senivpetro)
    ilustrasi pembukaan lapangan kerja baru (freepik.com/senivpetro)

    Sementara itu, persepsi konsumen terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini juga menunjukkan perbaikan pada sejumlah kelompok. Berdasarkan tingkat pendidikan, peningkatan terjadi pada responden berpendidikan SMA dan akademi/diploma. Masing-masing mencatat indeks sebesar 100,5 dan 108,0.

    "Berdasarkan kelompok usia, indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini berada pada level optimistis pada kelompok usia 20-40 tahun dan 51-60 tahun. Sementara itu, kelompok usia 41-50 tahun dan di atas 60 tahun masih berada pada level pesimistis," jelas BI.

    Dari sisi pengeluaran, persepsi konsumen terhadap pembelian barang tahan lama atau IPDG berada pada level optimistis untuk kelompok pengeluaran di atas Rp3,1 juta. Sementara kelompok pengeluaran lainnya masih berada pada level pesimistis. Indeks pembelian barang tahan lama tertinggi tercatat pada kelompok pengeluaran lebih dari Rp 5 juta, yakni sebesar 115,1. Berdasarkan kelompok usia, indeks tertinggi tercatat pada kelompok usia 20-30 tahun sebesar 110,4. Posisi berikutnya ditempati kelompok usia 31-40 tahun dengan indeks sebesar 106,5.

    Selain persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini yang membaik, konsumen juga semakin optimistis terhadap kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan. Hal tersebut tercermin dari IEK Agustus 2026 yang meningkat menjadi 127,6, dibandingkan dengan 125,7 pada bulan sebelumnya.

    "Kenaikan IEK tersebut bersumber dari peningkatan seluruh komponen pembentuknya, yaitu Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP), Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK), dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU)," ucap BI.

    Ekspektasi konsumen terhadap penghasilan dalam enam bulan ke depan juga berada pada level optimistis di seluruh kelompok pengeluaran. Peningkatan indeks terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 1 juta-Rp 2 juta, Rp 3,1 juta-Rp 4 juta, dan lebih dari Rp 5 juta.

    Masing-masing kelompok tersebut mencatat indeks sebesar 125,6, 134,3, dan 141,7. Dari ketiga kelompok tersebut, indeks tertinggi tercatat pada konsumen dengan pengeluaran lebih dari Rp 5 juta, yakni mencapai 141,7.

  3. 3. Ekspektasi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang di level optimis

    Hilirisasi dan kewirausahaan sosial menciptakan lapangan kerja berkelanjutan (freepik.com/freepik)
    Hilirisasi dan kewirausahaan sosial menciptakan lapangan kerja berkelanjutan (freepik.com/freepik)

    Selanjutnya, ekspektasi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang juga masih berada pada level optimistis di seluruh tingkat pendidikan. Peningkatan indeks terutama terjadi pada responden dengan tingkat pendidikan SMA dan akademi/diploma.

    Indeks ekspektasi ketersediaan lapangan kerja pada kelompok pendidikan SMA meningkat menjadi 125,0, sedangkan pada kelompok akademi/diploma meningkat menjadi 127,9. Berdasarkan kelompok usia, peningkatan indeks terjadi pada sebagian besar kelompok usia.

    Meningkatnya optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tersebut turut tercermin dari pola penggunaan pendapatan masyarakat. Pada Agustus 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio tercatat sebesar 74,2 persen.

    Proporsi tersebut meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 72,7 persen. Dengan demikian, terjadi peningkatan porsi pendapatan masyarakat yang dialokasikan untuk konsumsi pada Agustus 2026.

    Sementara itu, proporsi pendapatan yang digunakan untuk pembayaran cicilan atau utang atau debt installment to income ratio tercatat sebesar 10,0 persen. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 10,5 persen.

    Di sisi lain, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan atau saving to income ratio mengalami penurunan. Pada Agustus 2026, rasio tabungan terhadap pendapatan tercatat sebesar 15,8 persen, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 16,8 persen.

    Dengan perkembangan tersebut, survei BI menunjukkan bahwa peningkatan keyakinan konsumen pada Agustus 2026 tidak hanya tercermin dari membaiknya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga dari semakin kuatnya ekspektasi terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha dalam enam bulan mendatang. Pada saat yang sama, peningkatan porsi pendapatan untuk konsumsi menjadi salah satu indikasi menguatnya optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi ke depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More