Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

6 Cara Menghindari Pengeluaran Impulsif saat Sedang Scroll Marketplace

5 min read
6 Cara Menghindari Pengeluaran Impulsif saat Sedang Scroll Marketplace
ilustrasi online shopping (pexels.com/Leeloo Thefirst)
  • Hindari membuka marketplace saat bosan; masuklah dengan tujuan belanja yang jelas dan alihkan keinginan scroll ke aktivitas lain agar tidak mudah tergoda produk.
  • Tunda checkout minimal 24 jam, evaluasi kebutuhan serta kepemilikan barang serupa, dan jangan terpancing diskon, stok terbatas, atau hitung mundur tanpa membandingkan harga.
  • Tetapkan anggaran belanja online bulanan, catat transaksi, matikan notifikasi promosi, lalu periksa total keranjang termasuk ongkir sebelum membeli dan prioritaskan barang yang paling dibutuhkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Niat awalnya cuma buka marketplace buat melihat-lihat harga, eh, tahu-tahu sudah ada tiga barang di keranjang belanja. Apalagi kalau sedang ada promo, gratis ongkir, atau rekomendasi produk yang muncul terus di halaman utama, rasanya sayang banget kalau gak sekalian checkout. Padahal, setelah paket datang, kamu baru sadar kalau barang yang dibeli ternyata gak terlalu dibutuhkan.

Situasi seperti ini cukup akrab bagi orang yang suka belanja online. Praktisnya transaksi dan banyaknya penawaran menarik memang bisa membuat kita lebih mudah mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Supaya saldo rekening gak terus berkurang gara-gara belanja spontan, yuk, coba enam cara menghindari pengeluaran impulsif saat sedang scroll marketplace!

  1. 1. Jangan buka marketplace saat cuma lagi bosan

    Seorang perempuan memegang kartu bank sambil berbelanja online melalui laptop di meja kerja di rumah.
    ilustrasi seseorang belanja online (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Pernah gak kamu membuka aplikasi belanja karena sedang bosan, menunggu seseorang, atau ingin mencari hiburan sebentar? Awalnya cuma melihat-lihat, tetapi lama-lama kamu menemukan barang lucu yang terasa menarik untuk dibeli. Kalau kebiasaan ini sering terjadi, marketplace bisa berubah menjadi tempat pelarian setiap kali kamu membutuhkan hiburan.

    Coba alihkan perhatian ke kegiatan lain ketika keinginan membuka aplikasi muncul tanpa tujuan yang jelas. Kamu bisa mendengarkan musik, membaca buku, menonton video favorit, atau sekadar berjalan sebentar. Kalau memang sedang mencari barang tertentu, buka marketplace dengan tujuan yang jelas agar kamu gak mudah tergoda produk lain.

  2. 2. Masukkan barang ke keranjang, tetapi jangan langsung checkout

    Ilustrasi platform toko online dengan antarmuka belanja digital, menampilkan produk dan fitur transaksi di layar perangkat.
    ilustrasi platform online shop (freepik.com/rawpixel-com)

    Melihat barang lucu dengan harga menarik memang bisa membuatmu ingin segera memilikinya. Namun, gak semua barang yang terlihat menarik harus langsung dibeli saat itu juga. Cobalah memasukkannya ke keranjang terlebih dahulu, lalu beri waktu setidaknya 24 jam sebelum memutuskan untuk checkout.

    Setelah sehari berlalu, periksa kembali barang tersebut dan tanyakan apakah kamu masih benar-benar menginginkannya. Bisa jadi kamu menyadari bahwa barang itu sebenarnya gak terlalu berguna atau sudah punya produk serupa di rumah. Jeda sederhana ini membantu kamu membedakan keinginan sesaat dari kebutuhan yang memang layak dipenuhi.

  3. 3. Jangan mudah tergoda tulisan diskon dan hitung mundur

    Ilustrasi platform jual-beli online dengan troli belanja dan ikon keranjang pada latar grafis berwarna biru.
    ilustrasi platform jual-beli online (freepik.com/rawpixel-com)

    Tulisan diskon besar, stok terbatas, dan hitung mundur promo memang bisa membuat orang merasa harus segera membeli. Kamu mungkin khawatir kehilangan kesempatan mendapatkan harga murah sehingga langsung memasukkan barang ke keranjang tanpa membandingkan pilihan lain. Padahal, harga diskon tetap merupakan pengeluaran jika barang tersebut sebenarnya gak dibutuhkan.

    Sebelum checkout, periksa harga normal produk dan bandingkan dengan penawaran dari toko lain. Kamu juga bisa bertanya kepada diri sendiri apakah akan tetap membeli barang tersebut jika gak ada diskon sama sekali. Kalau jawabannya gak, mungkin kamu hanya tertarik pada promonya, bukan pada barangnya.

  4. 4. Tentukan anggaran belanja online setiap bulan

    Ilustrasi perempuan menggunakan laptop untuk belanja online, dengan keranjang belanja dan ikon pembayaran digital di layar.
    ilustrasi seseorang belanja online (freepik.com/freepik)

    Belanja online akan lebih mudah dikendalikan jika kamu sudah menentukan batas pengeluaran sejak awal. Misalnya, kamu menyediakan Rp300 ribu per bulan untuk membeli barang nonpokok, seperti pakaian, aksesoris, atau perlengkapan hobi. Anggaran ini bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kebutuhanmu, asalkan pengeluaran penting tetap menjadi prioritas.

    Catat setiap transaksi, termasuk pembelian kecil yang biasanya terasa gak seberapa. Ketika anggaran hampir habis, kamu bisa menunda belanja berikutnya sampai bulan depan atau mengevaluasi apakah barang tersebut benar-benar diperlukan. Cara ini membuatmu lebih sadar terhadap penggunaan uang tanpa harus berhenti menikmati kemudahan belanja online.

  5. 5. Kurangi godaan dari notifikasi promo

    Ilustrasi belanja promo yang menggambarkan aktivitas membeli produk dengan penawaran harga khusus dan diskon.
    ilustrasi belanja promo (pexels.com/Tamanna Rumee)

    Pernah sedang gak berniat belanja, tetapi tiba-tiba membuka aplikasi setelah menerima notifikasi diskon atau voucher khusus? Pesan seperti ini bisa memancing rasa penasaran dan membuatmu kembali menjelajahi produk yang sebelumnya gak terpikirkan. Kalau terjadi berulang kali, kamu bisa menghabiskan lebih banyak waktu dan uang hanya karena mengikuti penawaran yang muncul.

    Coba matikan notifikasi promosi dari aplikasi marketplace yang paling sering kamu gunakan. Kamu juga bisa berhenti mengikuti akun yang terlalu sering membuatmu ingin membeli barang hanya karena sedang tren. Dengan mengurangi paparan promosi, kamu punya lebih banyak kesempatan untuk menentukan sendiri kapan perlu berbelanja.

  6. 6. Hitung total belanja, bukan cuma harga per barang

    Ilustrasi aktivitas berbelanja online untuk menggambarkan proses transaksi melalui internet dan layanan digital.
    ilustrasi berbelanja online (pexels.com/Antoni Shkraba)

    Barang seharga Rp20 ribu mungkin terasa murah, tetapi bagaimana kalau kamu membeli lima barang sekaligus? Totalnya sudah mencapai Rp100 ribu, belum termasuk ongkos kirim atau biaya lain yang mungkin muncul saat pembayaran. Karena itu, penting untuk melihat jumlah keseluruhan sebelum menyelesaikan transaksi.

    Biasakan memeriksa kembali isi keranjang dan hapus barang yang hanya dimasukkan karena penasaran. Kamu juga bisa membandingkan total belanja dengan anggaran yang sudah disiapkan agar keputusanmu lebih terarah. Jika jumlahnya melebihi batas, pilih barang yang paling dibutuhkan dan tunda pembelian lainnya.

    Belanja online sebenarnya gak harus dihindari sepenuhnya karena marketplace bisa membantu kamu menemukan barang yang dibutuhkan secara praktis. Kuncinya adalah mengetahui kapan harus membeli dan kapan sebaiknya menahan diri. Memberi jeda sebelum checkout, mengatur anggaran, serta mengurangi godaan promo bisa membantu kamu menghindari pengeluaran yang gak direncanakan.

    Mulai sekarang, coba perhatikan apa yang biasanya membuatmu tiba-tiba ingin belanja saat membuka marketplace. Apakah karena bosan, tergoda diskon, atau takut kehabisan barang yang sedang tren? Setelah mengetahui pemicunya, kamu bisa memilih strategi yang paling sesuai untuk mengendalikan kebiasaan tersebut. Ingat, kamu gak harus membeli semua barang menarik yang muncul di layar karena uang yang berhasil disimpan bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More