Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jasa Tirta II Sokong Air Irigasi buat Produksi 3,1 Juta Ton Beras

3 min read
Jasa Tirta II Sokong Air Irigasi buat Produksi 3,1 Juta Ton Beras
Bendungan Leuwinangka di Subang, Jawa Barat yang berdiri di samping hamparan sawah. (dok. Perum Jasa Tirta II)
  • PJT II mengalirkan irigasi gratis dari sistem Jatiluhur untuk 264.930 hektare lahan di Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu, menopang produksi sekitar 3,1 juta ton beras per tahun.
  • Jaringan tiga bendungan, 72 bendung, ribuan saluran dan pintu air menjaga produktivitas rata-rata 5,85 ton padi per hektare; produksi beras tersebut menciptakan nilai ekonomi Rp26,6 triliun.
  • Menghadapi kemarau 2026, PJT II dan pihak terkait menjalankan modifikasi cuaca di DAS Citarum, menambah cadangan air 60,1 juta meter kubik untuk kebutuhan masyarakat dan pertanian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perum Jasa Tirta II (PJT II) melaporkan pasokan air melalui infrastruktur irigasi ke lumbung-lumbung padi nasional telah menyokong produksi sekitar 3,1 juta ton beras per tahun.

Melalui pengelolaan sistem terpadu di Bendungan Ir. H. Djuanda (Jatiluhur), PJT II mengelola air irigasi untuk mengairi Daerah Irigasi (D.I.) Jatiluhur dan D.I. Selatan Jatiluhur.

Jaringan irigasi tersebut membentang di empat kabupaten penyangga pangan utama Jawa Barat, yaitu Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu, dengan total luas lahan mencapai 264.930 hektar untuk dua kali masa tanam per tahun.

  1. 1. Tanpa dipungut biaya

    Bendungan Ir. H. Djuanda 1.jpeg
    Bendungan Ir. H. Djuanda di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat. (dok. Perum Jasa Tirta II)

    Pengaliran air irigasi itu tak dipungut biaya. Prosesnya ditopang oleh infrastruktur sumber daya air (SDA) yang masif di wilayah Sungai Citarum.

    Dalam mengelola pasokan air irigasi tersebut, PJT II mengoperasikan dan merawat 3 bendungan, 72 bendung, 191 ruas saluran induk, serta 1.784 ruas saluran sekunder. Operasional jaringan tersebut dikendalikan melalui 549 bangunan pada saluran induk, 2.680 bangunan air pada saluran induk, 460 pintu air pada saluran induk, hingga 2.513 pintu air pada saluran sekunder yang menjangkau hingga ke saluran irigasi terujung.

    Dukungan pasokan air itu menjaga produktivitas lahan pertanian dengan rata-rata hasil panen mencapai 5,85 ton padi per hektare untuk 2 kali musim tanam per tahun.

    "Pengoperasian puluhan bendung, ribuan ruas saluran, dan ribuan pintu air dari hulu hingga hilir ini kami lakukan tanpa memungut biaya air irigasi dari petani. Keandalan infrastruktur ini memastikan air mengalir tepat waktu dan tepat jumlah, sehingga tanah pertanian warga terairi secara optimal," ujar Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso dikutip Selasa, (27/10/2026).

  2. 2. Hasilkan nilai ekonomi hingga Rp26 triliun

    Bendungan Jatigede 2.jpeg
    Potret Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (dok. Perum Jasa Tirta II)

    Dengan produksi beras hingga 3,1 juta ton per tahun di Daerah Irigasi (D.I.) Jatiluhur dan D.I. Selatan Jatiluhur, nilai ekonomi yang tercipta mencapai Rp26,6 triliun.

    Nominal tersebut menopang aktivitas perekonomian di kawasan pertanian sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional.

    “Setiap tetes air dari Jatiluhur yang kami alirkan melalui ribuan pintu air ini berdampak langsung pada kepastian panen petani, stabilitas pasokan beras nasional, hingga keberadaan nasi di piring jutaan keluarga Indonesia," tutur Imam.

  3. 3. Amankan pasokan air lewat modifikasi cuaca untuk hadapi kemarau panjang

    Bendung Macan 1.jpeg
    Bendungan Macan di Subang, Jawa Barat. (dok. Perum Jasa Tirta II)

    Dalam menghadapi musim kemarau panjang atau El Nino Godzilla, PJT II bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum, BBWS Citarum, serta pengelola Waduk Saguling dan Cirata melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

    Dengan upaya itu, perusahaan berhasil mengamankan pertambahan tabungan air hingga 60,1 juta meter kubik di Bendungan Kaskade Citarum untuk menjamin keberlanjutan kebutuhan air masyarakat dan sektor pertanian.

    Ketersediaan air di sebagian besar Jawa Barat bertumpu pada pasokan tiga Bendungan Kaskade Citarum, yaitu Bendungan Saguling, Bendungan Cirata, dan Bendungan Jatiluhur. Di tengah kondisi musim kemarau 2026, keandalan pasokan air dari ketiga waduk ini menjadi pilar utama penopang keberlangsungan hidup masyarakat, kebutuhan air baku, serta irigasi pertanian.

    "Kondisi kemarau menuntut aksi nyata di hulu. Kami bertindak cepat mengamankan pasokan air sejak dari awan sebelum kekeringan meluas," kata Imam Santoso.

    Sebagai bentuk aksi mitigasi di sektor hulu, penambahan pasokan air melalui OMC dilaksanakan dalam dua tahapan, yaitu Tahap I pada 30 Juli hingga 5 Agustus 2026, serta Tahap II pada 18 hingga 26 September 2026 dan 29 September hingga 5 Oktober 2026.

    Melalui langkah itu, tim gabungan memancing hujan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dengan menyebar bahan semai berupa garam halus pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More