3 Alasan Ketahanan Karyawan Penting bagi Produktivitas dan Bisnis

Studi Global People Resilience 2026 mencatat 88% pekerja berketahanan tinggi berkinerja baik atau sangat baik, dibandingkan 44% pada kelompok dengan ketahanan terendah.
Kesehatan fisik dan mental yang tidak terkelola dapat menekan produktivitas serta menaikkan biaya bisnis; konsultasi kecemasan di Halodoc semester I 2026 naik 47,2% secara tahunan.
Perusahaan perlu menjadikan wellbeing strategi jangka panjang melalui dukungan kesehatan, sosial, finansial, lingkungan kerja kondusif, dan kemampuan digital untuk membangun tenaga kerja adaptif.
Produktivitas perusahaan selama ini kerap dikaitkan dengan keterampilan, pengalaman, dan kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan. Namun, ada faktor lain yang tidak kalah penting, yakni kemampuan pekerja menghadapi tekanan dan beradaptasi dengan perubahan. Di tengah ketidakpastian ekonomi, percepatan teknologi, dan meningkatnya tantangan kesehatan, perusahaan perlu memperhatikan kondisi tenaga kerjanya. Karyawan yang memiliki kemampuan beradaptasi dan pulih dari tekanan dinilai lebih siap menghadapi perubahan di lingkungan kerja.
Temuan Global People Resilience Study 2026 yang dikembangkan Zurich bersama sejumlah akademisi menunjukkan adanya hubungan antara ketahanan diri (resilience) dan kinerja karyawan. Sebanyak 88 persen pekerja dengan tingkat resilience tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan tingkat resilience terendah, yakni 44 persen.
Temuan ini memperlihatkan bahwa produktivitas tidak hanya bergantung pada kemampuan teknis. Ada sejumlah faktor lain yang perlu diperhatikan perusahaan untuk menjaga kinerja tenaga kerjanya. Berikut tiga alasan ketahanan karyawan penting bagi produktivitas dan keberlanjutan bisnis.
1. Ketahanan karyawan berkaitan dengan kinerja perusahaan

ilustrasi pekerja pabrik (Pexels.com/EqualStock IN) Kemampuan karyawan menghadapi tekanan dapat memengaruhi bagaimana mereka menjalankan pekerjaan sehari-hari. Pekerja yang mampu beradaptasi dan pulih dari situasi sulit cenderung lebih siap menghadapi perubahan serta mempertahankan performanya. Global People Resilience Study 2026 menemukan bahwa hubungan antara resilience dan kinerja tercatat lebih kuat dibandingkan faktor pendapatan.
Bagi perusahaan, temuan ini menjadi pengingat bahwa peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dilakukan melalui pelatihan keterampilan atau pemberian insentif. Kemampuan karyawan dalam menghadapi tekanan dan perubahan juga perlu menjadi perhatian dalam strategi pengelolaan sumber daya manusia.
2. Kesehatan karyawan dapat memengaruhi produktivitas dan biaya bisnis

ilustrasi karyawan perusahaan (Pexels.com/Vitaly Gariev) Kesehatan fisik dan mental merupakan bagian penting dari ketahanan tenaga kerja. Kondisi kesehatan yang tidak terkelola dapat memengaruhi kualitas hidup sekaligus kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaan. Tantangan ini semakin relevan seiring meningkatnya angka harapan hidup dan jumlah individu yang hidup lebih lama dengan penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, serta penyakit tidak menular lainnya.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas dan meningkatkan biaya kesehatan yang harus ditanggung individu maupun perusahaan. Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga perlu diperhatikan. CEO dan Co-Founder Halodoc, Jonathan Sudharta, dalam keterangan yang disampaikan pada acara Zurich Indonesia, menyebut konsultasi terkait gangguan kecemasan (anxiety) di Halodoc pada semester I 2026 meningkat 47,2 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Data tersebut menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental. Bagi perusahaan, dukungan terhadap kesehatan karyawan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tenaga kerja dan mengurangi risiko terganggunya produktivitas.
3. Investasi pada wellbeing menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang
konferensi pers 35 tahun Zurich Indonesia (Dok. Praxis) Ketahanan karyawan tidak hanya dibentuk melalui kemampuan individu. Lingkungan kerja dan dukungan perusahaan juga berperan dalam membantu pekerja menghadapi berbagai tantangan. Global People Resilience Study 2026 mengidentifikasi sejumlah faktor yang saling berkaitan dengan resilience, yaitu kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, serta kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital. Artinya, perusahaan perlu melihat kesejahteraan karyawan secara lebih menyeluruh. Program kesehatan saja tidak cukup jika pekerja masih menghadapi tekanan finansial, kurangnya dukungan sosial, atau kesulitan mengikuti perubahan teknologi.
Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara, mengatakan bahwa membangun ketahanan tenaga kerja bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan pandangan Prof. Jan-Emmanuel De Neve dari Saïd Business School, University of Oxford, yang menekankan bahwa kesejahteraan dan produktivitas tidak dapat dipisahkan.
Bagi perusahaan, investasi pada wellbeing dapat diarahkan untuk membangun tenaga kerja yang lebih sehat, adaptif, dan siap menghadapi perubahan. Upaya ini mencakup dukungan kesehatan fisik dan mental, lingkungan kerja yang kondusif, serta peningkatan kemampuan digital karyawan.
Produktivitas bisnis tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi keterampilan tenaga kerja atau seberapa besar insentif yang diberikan. Kondisi fisik, mental, sosial, dan finansial karyawan turut memengaruhi kemampuan mereka dalam mempertahankan kinerja. Karena itu, perusahaan perlu menempatkan ketahanan tenaga kerja sebagai salah satu pertimbangan dalam strategi bisnis jangka panjang, terutama ketika perubahan ekonomi dan teknologi semakin cepat.










![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)











