Waspasa! BNI Ungkap Modus Penipuan lewat Telepon

- BNI mengingatkan penipuan telepon sering mengatasnamakan petugas bank, memanfaatkan isu transaksi mencurigakan atau rekening bermasalah untuk memicu kepanikan korban.
- Pelaku dapat meminta data pribadi, kode verifikasi, membuka tautan, mengunduh aplikasi, atau melakukan transaksi; nasabah diminta menghentikan komunikasi dan tidak mengikuti instruksi mencurigakan.
- BNI menegaskan tidak pernah meminta PIN, OTP, password, CVV, atau data rahasia lewat komunikasi apa pun; verifikasi dilakukan melalui BNI Call 1500046 dan kanal resmi.
Jakarta, IDN Times - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai modus penipuan melalui telepon yang memanfaatkan kepanikan korban.
Pelaku biasanya mengaku sebagai petugas bank dan menyampaikan adanya masalah rekening atau transaksi mencurigakan untuk mengelabui korban agar menyerahkan data rahasia perbankan.
1. Modus penipuan telepon, BNI ingatkan nasabah jangan panik

Ilustrasi tulisan love scam (pexels.com/foto oleh markus-winkler Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, pelaku kerap menggunakan tekanan psikologis agar korban tidak memiliki cukup waktu untuk berpikir jernih. Dengan menciptakan rasa takut dan situasi mendesak, korban didorong untuk segera mengikuti instruksi penelepon tanpa lebih dulu memastikan kebenaran informasi.
Karena itu, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil tindakan ketika menerima panggilan yang mengatasnamakan pihak bank.
"Jangan mudah percaya pada panggilan yang mengatasnamakan bank, terutama jika disertai tekanan untuk segera mengambil tindakan. Jangan panik dan jangan terburu-buru mengikuti instruksi penelepon. Tetap tenang dan lakukan verifikasi melalui kanal resmi BNI," ujar Okki dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/11/2026).
2. Sejumlah modus yang kerap dilakukan pelaku penipuan melalui telepon

Gedung BNI. (Dok. BNI) Dalam menjalankan aksinya, pelaku dapat menginformasikan adanya transaksi mencurigakan, pemblokiran rekening, penyalahgunaan kartu, hingga gangguan keamanan akun. Untuk meyakinkan korban, pelaku kemudian menawarkan bantuan dengan meminta data pribadi, kode verifikasi, atau mengarahkan korban membuka tautan maupun mengunduh aplikasi tertentu.
"Pelaku juga dapat menggunakan teknik komunikasi persuasif untuk memengaruhi pola pikir dan perilaku korban. Salah satunya melalui pendekatan Neuro-Linguistic Programming (NLP) atau pemrograman neuro-linguistik, yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dan pola komunikasi," ungkapnya.
Dalam konteks penipuan, pendekatan komunikasi semacam ini dapat dimanfaatkan untuk membangun kepercayaan, menciptakan rasa takut, serta menimbulkan kesan mendesak agar korban mengikuti instruksi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.
BNI mengimbau masyarakat untuk segera menghentikan komunikasi apabila mencurigai adanya upaya penipuan. Nasabah juga diminta tidak memberikan data rahasia, membuka tautan, mengunduh aplikasi, menghubungi nomor yang diberikan penelepon, maupun melakukan transaksi sebelum memastikan kebenaran informasi.
Jika telanjur memberikan data rahasia, mengakses tautan, mengunduh aplikasi, atau melakukan transaksi mencurigakan, nasabah disarankan segera menghubungi BNI untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
3. BNI tidak pernah meminta data rahasia nasabah

ilustrasi rekening (unsplash.com/StephenPhillips) Okki menegaskan, BNI tidak pernah meminta data rahasia nasabah, seperti PIN, nomor kartu, kode CVV, kode OTP, kode transaksi, maupun password melalui telepon, pesan singkat, email, atau media komunikasi lainnya. Nasabah dapat melakukan verifikasi melalui BNI Call 1500046 maupun kanal resmi BNI, yakni Instagram @BNI46, Facebook BNI, X @BNI dan @BNI_CustomerCare, TikTok @BNI46, serta situs resmi www.bni.co.id.
Menurut Okki, keamanan transaksi perbankan membutuhkan kesadaran dan kehati-hatian masyarakat. Nasabah perlu membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil tindakan, terutama ketika menerima komunikasi yang mendesak atau menimbulkan kepanikan.
"Ketika menerima informasi yang mencurigakan, hal terpenting adalah tetap tenang dan tidak panik. Beri waktu untuk melakukan verifikasi sebelum mengambil tindakan apa pun. Dengan kewaspadaan bersama, risiko penyalahgunaan data dan kejahatan perbankan dapat diminimalkan," ujar Okki.









![[QUIZ] Tebak Nama Mata Uang Asia Tenggara, Yakin Bisa?](https://image.idntimes.com/post/20241117/18879-68854c3f6876b62c6c0e179f8d1fe608.jpg)












