Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ancaman Barbell Economy: Ketergantungan Orang Kaya Picu Krisis Baru

ilustrasi shopping mall (pexels.com/Burst)
ilustrasi shopping mall (pexels.com/Burst)
Intinya sih...
  • Ketergantungan berlebihan pada konsumen kaya.
  • Kelas menengah mulai kehilangan peran penting.
  • Pertumbuhan ekonomi bertumpu pada efek kekayaan.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangkan kamu sedang mengangkat barbel yang sangat berat. Di kedua ujungnya, beban besar menggantung: satu sisi diisi oleh segelintir orang super kaya, sisi lainnya oleh mayoritas orang yang hidup pas-pasan. Di tengahnya, ada sebuah stang yang melengkung dan hampir patah. Itulah gambaran Barbell Economy alias ekonomi barbel yang sedang kita hadapi.

Ekonomi saat ini sangat bergantung pada konsumsi orang kaya, sementara kelas menengah justru terjepit dan semakin lemah. Kondisi ini terlihat stabil dari luar, tapi rapuh di dalam. Fenomena tersebut disorot dalam sebuah analisis yang dilansir Fortune.

1. Ketergantungan berlebihan pada konsumen kaya

ilustrasi barang mewah (pexels.com/shattha pilabut)
ilustrasi barang mewah (pexels.com/shattha pilabut)

Dalam beberapa tahun terakhir, arah pertumbuhan ekonomi makin condong ke satu sisi. Perusahaan besar memilih fokus mengejar konsumen berpenghasilan tinggi karena dinilai paling tahan terhadap inflasi. Strategi ini membuat roda ekonomi seolah tetap berputar meski daya beli masyarakat luas melemah.

Masalahnya, konsumsi kelompok kaya bukan berasal dari pendapatan rutin. Belanja mereka sangat dipengaruhi oleh kenaikan nilai aset seperti saham. Ketika pasar naik, pengeluaran ikut melonjak. Saat pasar bergejolak, belanja bisa langsung mengerem tajam dan efeknya terasa ke seluruh ekonomi.

2. Kelas menengah mulai kehilangan peran penting

ilustrasi karyawan pabrik (unsplash.com/Arno Senoner)
ilustrasi karyawan pabrik (unsplash.com/Arno Senoner)

Dalam ekonomi sehat, kelas menengah berfungsi sebagai penyangga utama. Kelompok ini menjaga konsumsi kebutuhan harian tetap stabil meski kondisi ekonomi gak menentu. Namun, dalam skema barbell economy, peran tersebut perlahan menghilang.

Banyak rumah tangga kelas menengah kini menghadapi tekanan biaya hidup yang terus naik. Tabungan terkuras, sementara pendapatan sulit mengejar inflasi. Akibatnya, kelas menengah gak lagi mampu menjadi bantalan ketika konsumsi kelompok atas melambat.

3. Pertumbuhan ekonomi bertumpu pada efek kekayaan

ilustrasi investasi saham
ilustrasi investasi saham (freepik.com/rawpixel.com)

Salah satu ciri utama barbell economy adalah dominasi wealth effect. Pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh rasa kaya semu akibat naiknya nilai portofolio. Konsumsi terjadi bukan karena kondisi finansial riil membaik, melainkan karena harga aset meningkat.

Ketergantungan ini membuat ekonomi sangat sensitif terhadap sentimen pasar. Ketika indeks saham terkoreksi, konsumsi kelompok atas ikut menyusut. Tanpa dukungan kelas menengah yang kuat, perlambatan tersebut sulit diredam dan berisiko menular ke sektor lain.

4. Lantai ekonomi yang semakin rapuh

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari (pexels.com/Mike Jones)
ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari (pexels.com/Mike Jones)

Kelompok berpenghasilan rendah dan menengah bawah kini berada di posisi paling rentan. Banyak dari mereka terpaksa menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kondisi ini menciptakan tekanan likuiditas yang sering tak terlihat dalam data makro.

Ketika kebutuhan sehari-hari saja dibiayai dengan utang, ruang untuk belanja tambahan nyaris gak ada. Situasi ini membuat permintaan riil melemah. Dalam jangka panjang, ekonomi kehilangan fondasi permintaan yang seharusnya stabil dan berkelanjutan.

5. Risiko sistemik dari utang konsumtif

ilustrasi utang (vecteezy.com/nuttawan jayawan)
ilustrasi utang (vecteezy.com/nuttawan jayawan)

Tekanan ekonomi di lapisan bawah gak berhenti di tingkat rumah tangga. Masalah kredit bermasalah mulai muncul di sektor pembiayaan, terutama pada pinjaman berbunga tinggi. Risiko ini bisa merambat ke sistem keuangan yang lebih luas.

Jika dibiarkan, masalah utang konsumtif dapat memicu guncangan baru. Ketika gagal bayar meningkat, kepercayaan pasar ikut terganggu. Dalam kondisi barbell economy, guncangan kecil bisa membesar karena gak ada lapisan penahan di tengah.

6. Dunia usaha terjebak strategi premium

ilustrasi shopping mall (pexels.com/Tuur Tisseghem)
ilustrasi shopping mall (pexels.com/Tuur Tisseghem)

Banyak perusahaan besar kini terlalu mengandalkan konsumen kaya. Pertumbuhan penjualan lebih sering datang dari kenaikan harga, bukan dari peningkatan volume. Strategi ini membuat kinerja terlihat kuat di laporan keuangan, tapi rapuh dalam realitas.

Ketika konsumen kaya menahan belanja, dampaknya langsung terasa. Tanpa basis konsumen yang luas dan seimbang, perusahaan menghadapi risiko penurunan pendapatan mendadak. Kondisi ini memperlihatkan sisi lemah dari strategi ekonomi yang terlalu bertumpu di satu ujung barbel.

7. Ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi

ilustrasi pekerja jalan kaki (pexels.com/Liliana Drew)
ilustrasi pekerja jalan kaki (pexels.com/Liliana Drew)

Barbell economy bukan sekadar istilah akademis. Dampaknya bisa langsung kamu rasakan melalui harga barang, peluang kerja, hingga stabilitas keuangan. Ketika ekonomi hanya bergerak di ekstrem atas dan bawah, ketahanan sistem ikut melemah.

Tanpa kelas menengah yang kuat, setiap koreksi pasar berpotensi berubah menjadi krisis besar. Struktur seperti ini membuat ekonomi sulit pulih cepat karena gak ada permintaan stabil sebagai penyangga.

Ekonomi barbel menggambarkan ketimpangan yang makin tajam dan berbahaya. Ketergantungan pada konsumsi orang kaya membuat pertumbuhan terlihat kuat, tapi sangat rentan terhadap guncangan. Di sisi lain, kelas menengah dan masyarakat luas terus tertekan tanpa cukup ruang bernapas.

Jika pola ini berlanjut, risiko krisis baru semakin besar. Memperkuat fondasi ekonomi secara merata menjadi kunci agar barbel gak benar-benar patah di tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Aset Digital Alternatif Berisiko Rendah yang Layak Dicoba Pemula

20 Jan 2026, 06:32 WIBBusiness