Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Konsumen Cenderung Belanja Lebih Banyak setelah Terima THR

5 Alasan Konsumen Cenderung Belanja Lebih Banyak setelah Terima THR
ilustrasi bisnis pakaian (pexels.com/PNW Production)
Intinya Sih
  • Menjelang Lebaran, penerimaan THR memicu lonjakan belanja karena dianggap sebagai dana ekstra di luar gaji rutin, sehingga konsumen lebih bebas dan spontan dalam mengeluarkan uang.
  • Suasana euforia Lebaran serta dorongan sosial untuk tampil menarik membuat masyarakat merasa wajar berbelanja lebih banyak demi menyesuaikan diri dengan semangat perayaan.
  • Strategi promosi besar dari brand dan tradisi memberi hadiah keluarga semakin memperkuat perilaku konsumtif, menjadikan periode setelah THR sebagai momen puncak aktivitas belanja tahunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Menjelang Lebaran, satu momen yang paling dinanti banyak pekerja adalah datangnya THR atau Tunjangan Hari Raya. Dana tambahan ini sering terasa seperti napas segar setelah melewati rutinitas kerja selama berbulan-bulan. Tidak heran jika suasana menjelang Lebaran identik dengan lonjakan aktivitas belanja di berbagai pusat perbelanjaan hingga platform online shopping.

Fenomena meningkatnya konsumsi setelah THR sebenarnya bukan hal baru dalam dunia perilaku konsumen. Banyak faktor psikologis dan sosial yang membuat seseorang lebih mudah mengeluarkan uang ketika menerima pemasukan tambahan. Situasi ini sering terjadi tanpa disadari karena suasana Lebaran memang identik dengan perayaan dan kebahagiaan bersama keluarga. Supaya lebih memahami fenomena ini, menarik sekali melihat beberapa alasan mengapa konsumen cenderung lebih konsumtif setelah menerima THR. Yuk pahami bersama!

1. Efek psikologis uang tambahan

ilustrasi uang
ilustrasi uang (pexels.com/www.kaboompics.com)

Ketika seseorang menerima THR, muncul perasaan memiliki dana ekstra yang terasa berbeda dari gaji bulanan. Uang tersebut sering dianggap sebagai bonus atau hadiah setelah menjalani rutinitas kerja sepanjang tahun. Perasaan tersebut memunculkan dorongan psikologis untuk menikmati hasil kerja melalui aktivitas belanja.

Dalam konteks perilaku konsumen, kondisi ini sering disebut sebagai mental accounting. Individu secara tidak sadar memisahkan dana THR dari keuangan rutin sehingga terasa lebih bebas digunakan. Akibatnya, keputusan belanja menjadi lebih spontan karena dana tersebut dianggap bukan bagian dari pengeluaran utama sehari-hari.

2. Atmosfer Lebaran yang penuh euforia

ilustrasi muslim belanja
ilustrasi muslim belanja (unsplash.com/Yiquan Zhang)

Lebaran bukan sekadar hari raya keagamaan, tetapi juga perayaan sosial yang penuh kebersamaan. Suasana kota, pusat perbelanjaan, hingga platform e-commerce dipenuhi dekorasi, promosi, serta berbagai kampanye penjualan khusus Lebaran. Atmosfer tersebut menciptakan rasa antusias yang mendorong aktivitas konsumsi.

Di tengah suasana meriah seperti ini, banyak orang merasa perlu menyesuaikan diri dengan semangat perayaan. Membeli pakaian baru, makanan khas Lebaran, hingga dekorasi rumah sering dianggap sebagai bagian dari tradisi. Dorongan kolektif tersebut membuat aktivitas belanja terasa lebih wajar bahkan ketika jumlah pengeluaran meningkat.

3. Dorongan sosial untuk tampil lebih baik

ilustrasi belanja di mall
ilustrasi belanja di mall (pexels.com/RDNE Stock project)

Lebaran identik dengan tradisi silaturahmi yang mempertemukan keluarga besar, teman lama, hingga tetangga. Momen tersebut sering memunculkan keinginan untuk tampil rapi dan menarik di hadapan orang lain. Tidak sedikit orang yang akhirnya membeli outfit baru, sepatu, hingga aksesori sebagai bagian dari persiapan Lebaran.

Dorongan sosial seperti ini sebenarnya sangat manusiawi. Setiap orang tentu ingin terlihat percaya diri ketika bertemu banyak orang dalam suasana perayaan. Namun tanpa perencanaan yang matang, keinginan tampil maksimal dapat berubah menjadi pengeluaran berlebihan.

4. Strategi promosi besar dari brand

ilustrasi promo diskon
ilustrasi promo diskon (unsplash.com/Artem Beliaikin)

Menjelang Lebaran, banyak brand memanfaatkan momentum THR dengan menghadirkan berbagai promosi menarik. Diskon besar, program cashback, hingga promo flash sale menjadi strategi umum yang digunakan untuk menarik perhatian konsumen. Strategi ini terbukti efektif karena konsumen memang sedang memiliki dana tambahan.

Promosi seperti ini juga sering memicu keputusan belanja yang impulsif. Konsumen merasa khawatir melewatkan kesempatan mendapatkan harga lebih murah. Akibatnya, produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan tetap masuk ke dalam keranjang belanja.

5. Keinginan memberi hadiah kepada keluarga

ilustrasi keluarga muslim
ilustrasi keluarga muslim (pexels.com/RDNE Stock project)

Salah satu tradisi Lebaran yang paling kuat adalah kebiasaan berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat. Banyak orang menggunakan THR untuk membeli hadiah bagi orang tua, pasangan, anak, atau keponakan. Aktivitas ini sering menjadi sumber kebahagiaan tersendiri karena dapat membuat orang lain merasa dihargai.

Namun dalam praktiknya, keinginan berbagi kadang membuat pengeluaran meningkat cukup signifikan. Ketika jumlah anggota keluarga besar, daftar hadiah dapat menjadi sangat panjang. Tanpa pengelolaan yang baik, dana THR yang awalnya terasa besar bisa cepat berkurang.

Pada akhirnya, meningkatnya aktivitas belanja setelah menerima THR merupakan fenomena yang sangat wajar. Kombinasi faktor psikologis, sosial, serta strategi pemasaran membuat konsumsi terasa lebih menggoda pada periode tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Agsa Tian
EditorAgsa Tian
Follow Us

Latest in Business

See More