ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran (unsplash.com/Saifee Art)
Upaya diplomatik tetap berjalan ketika tekanan ekonomi terhadap Iran kian mengencang. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Field Marshal Asim Munir, diminta membawa pesan dari Trump sebelum bertolak ke Teheran. Pakistan menginginkan Iran membuka Selat Hormuz serta menghentikan serangan dan aksi proksinya terhadap negara tetangga dan pelayaran internasional sebagai imbalan pelonggaran sanksi AS.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Teheran untuk membahas pembentukan koridor navigasi sementara di Selat Hormuz. Kedua pihak juga membahas kesepakatan proyek bersama pembersihan ranjau di selat tersebut, sementara Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menyebut sanksi AS sebagai langkah sepihak dan menekankan kondisi Selat Hormuz perlu dikembalikan seperti sebelum krisis.
China, yang menjadi pembeli utama minyak Iran, menolak sanksi baru tersebut dan berjanji mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi hak serta kepentingannya. Menteri Perekonomian Iran, Ali Madanizadeh, menegaskan pemerintah telah mengantisipasi langkah AS tersebut, mengantongi rencana dua tahun untuk menghadapinya, dan memprediksi kekalahan lain bagi Washington.
Pakar ekonomi yang berbasis di Teheran, Saeed Laylaz, menilai kebijakan tersebut sejalan dengan strategi tekanan maksimum AS yang sudah berlangsung lama. Ia menyebut AS tidak memiliki kartu baru yang belum pernah dimainkan sebelumnya, sementara isolasi bertahun-tahun justru meningkatkan swasembada Iran, meski ia meragukan tata kelola internal serta kemampuan otoritas dalam meredam inflasi dan persoalan ekonomi domestik lainnya.
Harga minyak turun sekitar tiga persen menjadi di bawah 90 dolar AS per barel (setara Rp1,6 juta) untuk patokan internasional Brent setelah para pelaku pasar menilai risiko serangan baru terhadap Iran mereda. Gambar yang dirilis AFP memperlihatkan antrean panjang kendaraan mengular di SPBU Teheran, sementara Departemen Luar Negeri AS menyesuaikan jumlah personel di pos diplomatik kawasan Timur Tengah.
The New York Times melaporkan Washington mulai bersiap mengembalikan para diplomat ke kedutaan besar yang sempat dievakuasi sebelum dan selama konflik, yang berpeluang dimulai secepatnya pekan ini. Iran tetap menjadi produsen minyak utama dunia, namun terus berkutat dengan ketidakseimbangan antara tingginya konsumsi bensin domestik dan kapasitas penyulingan dalam negeri.