Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Aksi Demo Tak Serta-merta Turunkan Kepercayaan Dunia Usaha

Aksi Demo Tak Serta-merta Turunkan Kepercayaan Dunia Usaha
Massa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) gelar demo di depan Gedung Plaza UOB, Jakarta Pusat, Senin (18/8/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • ASPEBINDO menilai satu aksi demonstrasi belum cukup untuk menyimpulkan turunnya kepercayaan usaha, karena pelaku bisnis mempertimbangkan stabilitas politik, hukum, regulasi, daya beli, kurs, pembiayaan, dan rantai pasok.
  • Demonstrasi berulang, meluas, disertai kekerasan, atau mengganggu fasilitas publik dapat meningkatkan persepsi risiko Indonesia; pemerintah diminta menjaga kondisi kondusif demi kelancaran ekonomi dan keputusan bisnis.
  • Pelaku pasar mencermati rencana demo 27 Agustus 2026, sementara analisis Drone Emprit menunjukkan percakapannya terbentuk sejak 16 Agustus dan terkonsolidasi melalui berbagai isu hingga 24 Agustus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) menilai aksi demonstrasi tidak serta-merta dapat disimpulkan menurunkan kepercayaan dunia usaha terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Ketua ASPEBINDO, Anggawira mengatakan, pelaku usaha menilai kondisi perekonomian berdasarkan sejumlah indikator yang lebih luas. Faktor tersebut antara lain stabilitas politik, kepastian hukum, konsistensi regulasi, daya beli masyarakat, nilai tukar, biaya pembiayaan, hingga keberlanjutan rantai pasok.

“Belum tepat apabila satu aksi demonstrasi langsung disimpulkan menurunkan kepercayaan dunia usaha terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan,” ujar Angga saat dihubungi, Kamis (27/8/2026).

  1. 1. Pemerintah harus memastikan situasi tetap kondusif

    c75dd3d2-7210-4a8d-aba0-8a014635be95.jpeg
    Jalan Gatot Subroto depan Gedung DPR RI sudah ditutup jelang demo. (IDN Times/Sandy Firdaus)

    Meski demikian, menurut dia, aksi demonstrasi tetap menjadi sinyal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah dan pelaku usaha. Terlebih, apabila aksi berlangsung berulang dan meluas, disertai kekerasan, maupun mengganggu fasilitas publik serta pusat kegiatan ekonomi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan persepsi risiko terhadap Indonesia.

    “Apabila demonstrasi berlangsung berulang, meluas, disertai kekerasan, atau mengganggu fasilitas publik dan pusat kegiatan ekonomi, persepsi risiko Indonesia dapat meningkat,” jelasnya.

    Karena itu, Angga menilai pemerintah perlu memastikan situasi tetap kondusif agar aktivitas ekonomi dan dunia usaha dapat berjalan normal. Kepastian dan stabilitas menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor serta pelaku usaha dalam mengambil keputusan bisnis.

  2. 2. Pelaku pasar keuangan cermati situasi demonstrasi

    Pagar tinggi di Mall Kota Kasablanka dipugar, Senin (3/8/2026).
    Pagar tinggi di Mall Kota Kasablanka dipugar, Senin (3/8/2026). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Pengamat pasar uang Lukman Leong mengatakan pelaku pasar tengah mencermati perkembangan situasi dalam negeri. Menurutnya, investor masih diliputi kekhawatiran terhadap aksi demonstrasi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis ini.

    "Investor juga waswas akan demonstrasi yang akan berlangsung hari ini," kata Lukman.

  3. 3. Aksi demonstrasi bukan muncul secara tiba-tiba

    Situasi terkini di depan Gedung DPR RI jelang aksi demonstrasi 27 Agustus 2026.
    Situasi terkini di depan Gedung DPR RI jelang aksi demonstrasi 27 Agustus 2026. (IDN Times/Sandy Firdaus)

    Viralnya rencana aksi demonstrasi pada Kamis (27/8/2026) tidak muncul secara tiba-tiba. Percakapan di media sosial lebih menyerupai konvergensi berbagai keluhan terkait kondisi pemerintahan saat ini yang kemudian menemukan momentum, identitas dan tujuan aksi yang sama.

    Hal itu merupakan salah satu poin yang diperoleh dari platform Drone Emprit dengan menggunakan fitur baru yakni virality analysis. Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi mendapatkan temuan percakapan yang mengarah ke aksi demo 27 Agustus sudah terbentuk pada periode 16 hingga 18 Agustus 2026.

    "Ketika itu percakapan masih relatif terfragmentasi dengan simpul seperti Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), DPR RI, RUU Perampasan Aset, hukuman mati, Puan Maharani, #Pati dan sejumlah isu lokal," ungkap Ismail di dalam akun media sosialnya dan dikutip pada Rabu, 26 Agustus 2026.

    Kemudian, pada 19 Agustus hingga 20 Agustus 2026, muncul tagar demo dan hubungan antarisu semakin rapat. Pada 21 Agustus hingga 24 Agustus, aliran antarnode dan antarplatform menjadi jauh lebih padat.

    "Jadi, 27 Agustus merupakan titik konsolidasi dari percakapan yang sudah matang sekitar 7 hingga 10 hari sebelumnya," kata dia.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More