Netanyahu Sebut Iran Mencoba Bunuh Salah Satu Putranya saat Pemilu

- Benjamin Netanyahu mengklaim Iran berupaya membunuh salah satu putranya, tanpa merinci waktu, lokasi, atau identitas target, saat wawancara Channel 14 pada 24 Agustus 2026.
- Klaim itu muncul saat Netanyahu mendukung pengawalan 24 jam bagi rival politiknya, Gadi Eisenkot; jurnalis Amit Segal menyebut informasi tersebut sebelumnya dibatasi oleh perintah publikasi.
- Tuduhan disampaikan di tengah eskalasi konflik Israel-Iran, pergantian pemimpin Iran setelah tewasnya Ali Khamenei, serta persaingan ketat koalisi Netanyahu menjelang pemilu Israel 27 Oktober 2026.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa pihak Iran telah berusaha membunuh salah satu putranya. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Netanyahu saat melakukan wawancara telepon dengan stasiun televisi Israel, Channel 14, pada Senin (24/8/2026) waktu setempat.
Tuduhan tersebut mengemuka di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan dan persaingan ketat koalisi politik Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026. Selain itu, Netanyahu menyampaikan kabar ini ketika koalisi politiknya sedang menghadapi persaingan ketat menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.
1. Netanyahu sebut Iran targetkan salah satu putranya

ilustrasi konflik AS-Israel dengan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Dalam wawancara tersebut, Netanyahu menegaskan bahwa ancaman dari Teheran terhadap keluarganya merupakan sebuah peristiwa yang sangat luar biasa. Namun, pemimpin negara tersebut tidak memberikan rincian pasti mengenai waktu, lokasi, maupun identitas putra mana yang menjadi sasaran percobaan pembunuhan. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai bukti nyata atas besarnya bahaya intelijen musuh terhadap pejabat serta keluarganya.
Klaim tersebut disampaikan Netanyahu saat ia menanggapi laporan bahwa lembaga keamanan domestik Israel, Shin Bet, menolak memberikan pengawalan bagi Gadi Eisenkot—mantan kepala staf angkatan bersenjata yang kini menjadi rival politik utamanya dalam pemilihan umum mendatang. Meski bersaing ketat, Netanyahu secara terbuka mendukung agar Eisenkot tetap mendapatkan pengamanan ketat 24 jam dan menilai perlindungan tersebut bukan sebuah bentuk kemewahan.
Dilansir Al Jazeera, Netanyahu menekankan pentingnya pengamanan bagi Eisenkot untuk mencegah celah kelengahan yang dapat dimanfaatkan musuh. “Tanpa itu [pengawalan], mereka [pihak Iran] akan berhasil,” tegas Netanyahu saat mengomentari besarnya ancaman dari Teheran.
1. Putra sulung Netanyahu tinggal di bawah pengawalan ketat

potret Yair Netanyahu (U.S. Embassy Jerusalem, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Netanyahu diketahui memiliki dua orang putra dan satu orang putri dari pernikahannya. Putra tertuanya, Yair Netanyahu yang berusia 35 tahun, dilaporkan telah tinggal di Miami, Amerika Serikat, sejak awal 2024. Keberadaan Yair di luar negeri berada di bawah pengawalan amat ketat dari badan pengamanan intelijen Israel.
Meskipun dilindungi secara khusus, keberadaan Yair di Miami kerap memicu perdebatan sengit di dalam negeri Israel terkait besarnya anggaran pembayar pajak yang dialokasikan khusus untuk membiayai pengawalan pribadinya di luar negeri. Dilansir The Hindu, sebagian warga lokal di Florida Selatan juga merasa cemas bahwa kehadiran Yair dapat menjadikan wilayah mereka sasaran empuk serangan balasan musuh-musuh Israel.
Tak lama setelah klaim tersebut beredar, jurnalis ternama asal Israel, Amit Segal, memberikan informasi tambahan melalui saluran Telegram pribadinya. Segal mengungkapkan bahwa klaim percobaan pembunuhan tersebut sebenarnya sudah diketahui sejak beberapa bulan lalu, namun ditahan dari publik karena adanya perintah pembatasan publikasi (gag order) dari otoritas setempat.
3. Eskalasi perseteruan usai tewasnya Ali Khamenei

potret Ali Khamenei (Khamenei.ir, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Tuduhan rencana pembunuhan ini mengemuka di tengah babak baru ketegangan militer yang sangat ganas di kawasan Timur Tengah. Konflik terbuka ini pecah setelah serangan udara gabungan militer Amerika Serikat dan Israel berhasil menghantam fasilitas penting di Teheran. Serangan mendadak tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta empat anggota keluarganya, termasuk putrinya Boshra dan cucunya Zahra yang baru berusia 14 bulan.
Kematian Ali Khamenei langsung memicu gelombang kemarahan besar dari pihak otoritas dan rakyat Iran. Pasca serangan tersebut, putra Ali Khamenei yang bernama Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Melalui pesan tertulis saat prosesi pemakaman ayahnya, Mojtaba bersumpah akan membalas dendam atas darah para pemimpin dan keluarga yang telah gugur.
Pernyataan keras Netanyahu terkait ancaman terhadap putranya juga meluncur di tengah kondisi politik dalam negeri Israel yang sedang memanas. Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan posisi koalisi pemerintahan Netanyahu terus merosot drastis menjelang pemilu 27 Oktober 2026. Situasi ini membuat persaingan perebutan kursi perdana menteri menjadi sangat ketat di tengah bayang-bayang perang kawasan.



















