Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Meta Setujui Ganti Rugi Rp284 Triliun soal Dampak Facebook ke Anak

Meta Setujui Ganti Rugi Rp284 Triliun soal Dampak Facebook ke Anak
ilustrasi Meta (pexels.com/Julio Lopez)
  • Meta menyetujui penyelesaian hingga 18 miliar dolar AS atau Rp284,4 triliun terkait dugaan dampak Facebook dan Instagram terhadap anak, dibayar selama 10 tahun jika disahkan hakim California.
  • Kesepakatan mewajibkan fitur keselamatan pengguna muda, termasuk batas layar dua jam, mode malam dan sekolah, pengingat penggunaan, opsi umpan nonalgoritmik, serta penyaringan usia lebih ketat.
  • Penyelesaian mengakhiri gugatan 29 negara bagian sejak 2023, sementara tekanan hukum terhadap Meta dan platform lain meningkat setelah dokumen internal menyoroti penggunaan Instagram oleh remaja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN TimesMeta menyetujui pembayaran penyelesaian gugatan hingga 18 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp284,4 triliun atas tuduhan bahwa platform Facebook dan Instagram berdampak buruk pada anak-anak. Pembayaran ganti rugi tersebut bakal dicicil selama 10 tahun kepada 48 negara bagian, Washington DC, serta tiga wilayah AS jika mendapat persetujuan resmi dari hakim California.

Nilai penyelesaian ini menjadi yang terbesar bagi Meta dalam perkara keselamatan anak sepanjang sejarah litigasinya, meski perusahaan induk media sosial tersebut tetap membantah melakukan kesalahan.

  1. 1. Meta menambah fitur keselamatan bagi pengguna muda

    aplikasi Facebook
    aplikasi Facebook (pexels.com/Pixabay)

    Kesepakatan hukum ini mewajibkan Meta menghadirkan fitur keselamatan bawaan untuk pengguna muda, termasuk pembatasan waktu layar otomatis selama dua jam sehari di Instagram dan Facebook yang hanya dapat dinonaktifkan atas izin orang tua. Selain pembatasan durasi harian, Meta menyediakan mode malam untuk memblokir pemberitahuan dari pukul 00.00 hingga 06.00 serta mode sekolah yang membisukan notifikasi selama jam belajar pukul 08.00 hingga 15.00. Jika TikTok, Snap, dan YouTube menerapkan ketentuan serupa, durasi penggunaan harian remaja di platform Meta akan otomatis dipangkas menjadi satu jam saja.

    Penyesuaian lainnya mencakup peringatan berkala setelah penggunaan tanpa henti selama 15 menit, lalu disusul pengingat berikutnya pada menit ke-60 dan 90. Perusahaan juga wajib menyediakan pilihan umpan tanpa dorongan algoritma, tombol untuk menonaktifkan pemutaran video otomatis, penghapusan filter wajah ekstrem, serta penyembunyian jumlah suka pada profil dan konten interaksi remaja. Meta turut memperketat sistem penyaringan usia guna mencegah anak-anak mengakses konten dewasa.

    "Ini adalah momen besar untuk membersihkan industri yang telah menyakiti anak-anak kita," kata Jaksa Agung California Rob Bonta, melansir BBC.

  2. 2. Jaksa Agung menyambut perubahan sistem Meta

    ilustrasi hukum
    ilustrasi hukum (pexels.com/Sora Shimazaki)

    Bonta menyebut Meta telah menyepakati perubahan sistemik dalam hitungan bulan guna mengurangi risiko bahaya pada platformnya. Langkah ini diyakini membuat media sosial menjadi jauh lebih aman bagi anak-anak sekaligus menjadi standar acuan baru bagi industri teknologi secara luas.

    "Fitur keselamatan yang wajib dipasang Meta secara fundamental dan seketika akan mengubah cara anak muda menggunakan Instagram dan Facebook," ujar Jaksa Agung Washington DC Brian Schwalb, dikutip Sky News.

    Schwalb menambahkan bahwa kesepakatan tersebut merupakan "kemenangan kesehatan masyarakat yang monumental." Chief Legal Officer Meta C.J. Mahoney menyampaikan bahwa kerangka ini dirancang untuk membantu orang tua mengawasi aktivitas digital anak-anak mereka secara lebih mudah. Meta menegaskan penyelesaian gugatan bersama 52 jaksa agung tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menyediakan ruang digital yang aman, seraya mendorong TikTok dan YouTube menerapkan pembatasan serupa.

  3. 3. Negara bagian memperluas tekanan hukum terhadap Meta

    CEO Meta, Mark Zuckerberg
    CEO Meta, Mark Zuckerberg (Anthony Quintano from Honolulu, HI, United States, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

    Kesepakatan ini resmi mengakhiri gugatan dari 29 negara bagian sejak 2023 terkait dugaan pelanggaran undang-undang privasi anak. Perkara ini juga mencakup gugatan privasi turunan terkait skandal Cambridge Analytica di California, Illinois, New Mexico, dan Washington DC dengan alokasi penyelesaian 459,3 juta dolar AS (setara Rp7,25 triliun). Adapun New Mexico yang tak bergabung dalam kesepakatan utama gugatan anak sebelumnya telah mengantongi putusan hakim federal berupa sanksi hampir 1 miliar dolar AS (setara Rp15,8 triliun), setelah operasional Meta disamakan dengan gangguan fasilitas umum seperti polusi udara.

    Dalam persidangan di pengadilan federal Oakland yang berlangsung selama lima hari sebelum kesepakatan tercapai, pengacara negara bagian sempat membeberkan sejumlah dokumen internal perusahaan. Salah satu riset internal Instagram mengungkap temuan bahwa para remaja memiliki narasi layaknya pecandu dalam menggunakan aplikasi tersebut. Mantan peneliti Meta George Volichenko juga bersaksi bahwa manajemen tahu fitur mode malam akan lebih efektif jika diaktifkan otomatis, namun ia diminta tidak terlalu memusingkan tingkat penggunaan fitur karena timnya dibentuk salah satunya untuk melindungi perusahaan dari potensi gugatan hukum.

    Pengumuman penyelesaian gugatan ini membuat saham Meta sempat terkoreksi 0,4 persen saat pembukaan perdagangan. Tekanan hukum serupa kini turut dihadapi perusahaan media sosial lain, termasuk YouTube milik Google, Snap Inc, dan ByteDance sebagai induk TikTok. Perusahaan-perusahaan tersebut membantah tuduhan bahwa layanan mereka memicu krisis mental pada remaja dengan berlindung di balik Pasal 230 Communications Decency Act yang membebaskan platform dari tanggung jawab atas konten pengguna, di tengah langkah sejumlah negara seperti Inggris yang mulai memperketat aturan media sosial untuk anak di bawah umur.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More