Antrean Kendaraan Mengular, Pertamina Evaluasi SPBU yang Tutup di Kalbar

- Pertamina mengevaluasi SPBU yang tutup di Kalbar setelah antrean panjang terjadi, memastikan stok BBM aman dan layanan segera kembali normal.
- Distribusi BBM ditingkatkan hingga 140 persen dengan terminal beroperasi 24 jam, tambahan armada tangki, serta pengawalan polisi untuk mempercepat penyaluran.
- Gubernur Kalbar meminta seluruh SPBU segera dibuka agar antrean kendaraan terurai dan masyarakat lebih mudah mendapatkan bahan bakar.
Jakarta, IDN Times - PT Pertamina Patra Niaga merespons kabar adanya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tidak beroperasi di Kalimantan Barat (Kalbar), yang dituding menjadi pemicu antrean panjang kendaraan.
Perusahaan pelat merah tersebut menegaskan bakal mengevaluasi setiap SPBU yang berhenti melayani masyarakat demi memastikan ketersediaan stok dan kesiapan layanan kembali normal.
Pertamina mengeklaim penyaluran bahan bakar minyak (BBM) sebenarnya berjalan aman dengan realisasi tinggi. Namun, konsumsi yang tidak wajar di lapangan menyebabkan stok di SPBU tertentu cepat habis sehingga memicu penumpukan kendaraan.
1. Suplai ditambah hingga 140 persen dari kondisi normal

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun memaparkan kondisi distribusi BBM di wilayah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya diklaim mulai berangsur kondusif setelah adanya penguatan distribusi.
Dia menjelaskan Pertamina telah mengambil langkah intensif dengan mengoperasikan Integrated Terminal Pontianak selama 24 jam penuh.
Selain itu, Pertamina juga meningkatkan suplai BBM hingga 140 persen dari volume normal. Upaya ini didukung dengan penambahan armada mobil tangki serta peningkatan frekuensi pengiriman ke titik-titik SPBU prioritas.
Untuk mempercepat proses penyaluran dari terminal ke SPBU, mobil tangki kini juga mendapatkan pengawalan dari aparat kepolisian (patwal).
"Kondisi saat ini mulai berangsur kondusif. Namun demikian, apabila dalam waktu singkat kembali habis dan antrean terjadi, maka hal tersebut menjadi indikasi adanya pola konsumsi yang tidak wajar yang perlu kita tangani bersama," katanya dalam keterangan tertulis, Senin (23/3/2026).
2. Pertamina aktifkan tambahan nozzle dan percepat QR Code

Untuk mengurai kepadatan, Pertamina mengaktifkan tambahan nozzle di SPBU yang sebelumnya belum beroperasi. Sistem pembelian juga dioptimalkan lewat percepatan aktivasi QR Code agar penyaluran BBM subsidi lebih tepat sasaran.
Menghadapi momentum libur panjang, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Pertamina mengingatkan pembelian yang berlebihan justru akan memperpanjang antrean dan mengganggu akses warga lainnya.
Pertamina tengah mengevaluasi opsi penyaluran alternatif guna memecah konsentrasi antrean di titik-titik tertentu, koordinasi bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, termasuk untuk menindak tegas praktik penimbunan atau spekulan yang mengganggu distribusi.
3. Gubernur Kalbar minta SPBU yang tutup segera dibuka

Situasi antrean yang memanjang di berbagai daerah memicu reaksi dari Gubernur Kalbar Ria Norsan. Dia meminta Pertamina segera menginstruksikan SPBU yang belum beroperasi agar kembali dibuka untuk melayani masyarakat.
Menurut Norsan, tidak beroperasinya sejumlah SPBU menjadi penyebab utama terjadinya penumpukan kendaraan di titik-titik tertentu. Dia menegaskan optimalisasi operasional seluruh SPBU sangat penting agar beban antrean dapat tersebar secara merata di berbagai lokasi.
Norsan berharap dengan berfungsinya kembali seluruh fasilitas pengisian BBM, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan tempat sehingga kekhawatiran terkait ketersediaan bahan bakar dapat segera teratasi.
“Kita minta kepada Pertamina untuk segera operasikan SPBU-SPBU yang tadi masih belum operasi,” ujar Norsan, Jumat (20/3/2026).

















