AHY: Penanganan Banjir dan Sampah Sungai Harus Terpadu dari Hulu-Hilir

- Pemerintah dan masyarakat melaksanakan Gerakan Praktis Sungai Nasional di Kali Ciliwung untuk membersihkan sampah yang memicu banjir serta meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan sungai.
- AHY menegaskan penanganan banjir dan pencemaran air harus dilakukan secara terpadu dari hulu hingga hilir melalui pembangunan infrastruktur, pengendalian debit air, dan edukasi publik.
- Pemerintah membangun bendungan kering di Ciawi dan Sukamahi serta menormalisasi sungai agar kapasitas aliran meningkat, sambil mengajak masyarakat aktif menjaga lingkungan demi keberlanjutan.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat melaksanakan Gerakan Praktis Sungai Nasional dengan aksi bersih-bersih di aliran Kali Ciliwung.
Kegiatan ini melibatkan pemerintah pusat dan daerah, komunitas lingkungan, pelajar, serta warga sekitar bantaran sungai dalam upaya mengurangi sampah yang menghambat aliran air dan memicu banjir.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Besemah Sudi, jajaran Kementerian Pekerjaan Umum, serta perwakilan dari DKI Jakarta dan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Sejumlah komunitas seperti Indonesia Water Warrior, POPO Pindah, serta pelajar SMA dan SMP juga turut berpartisipasi.
1. Ada beragam permasalahan sungai

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengatakan, persoalan sampah, pencemaran air, hingga banjir merupakan masalah yang saling berkaitan dari hulu hingga hilir sungai.
“Kita ingin memastikan sungai-sungai di Indonesia, termasuk Ciliwung dan Cisadane, benar-benar menjadi sumber kehidupan,” ujar dia dalam kegiatan Gerakan Bakti Sungai Nusantara, Senin (11/5/2026).
2 Ada banyak risiko dari pencemaran sungai

Dia mengatakan, pencemaran sungai tidak hanya berdampak pada pendangkalan dan banjir, tetapi juga mengganggu pasokan air baku serta ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Kondisi tersebut dinilai dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila tidak ditangani secara serius.
AHY mengatakan, pemerintah akan mendorong pendekatan holistik dalam penanganan banjir dan krisis air bersih, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga penguatan kesadaran masyarakat.
“Salah satu langkah yang dilakukan yakni pembangunan bendungan kering di Ciawi dan Sukamahi untuk mengendalikan debit air dari hulu,” kata dia.
3. Kapasitas aliran sungai baru 200 meter kubik per detik

Dia mengatakan, salah satu langkah yang dilakukan yakni pembangunan bendungan kering di Ciawi dan Sukamahi untuk mengendalikan debit air dari hulu.
Selain itu, normalisasi sungai juga terus dilakukan agar kapasitas tampung aliran air meningkat. Saat ini, kapasitas aliran sungai disebut baru sekitar 200 meter kubik per detik, sementara kebutuhan ideal mencapai 570 meter kubik per detik.
“Pendangkalan harus dicegah dan lebar sungai perlu ditambah agar mampu mengakomodasi debit air yang lebih besar,” kata dia.
4. Perlu pembangunan infrastruktur

Dia mengatakan, upaya penanganan tidak hanya mengandalkan kegiatan bersih-bersih, tetapi juga pembangunan infrastruktur pengendali banjir seperti bendungan dan normalisasi sungai.
Pemerintah juga terus mendorong optimalisasi fungsi bendungan kering di Ciawi dan Sukamahi sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir di kawasan hilir.
"Kita pastikan sungainya terus dilakukan normalisasi jangan sampai terjadi pendangkalan lebarnya pun harus ditambah agar bisa mengakomodasi paling tidak 570 meter kubik," kata dia.
AHY juga menyoroti maraknya penyalahgunaan tata ruang wilayah yang menyebabkan berkurangnya daerah resapan air. Kondisi itu memperparah banjir ketika curah hujan ekstrem terjadi.
Di sisi lain, wilayah hilir seperti kawasan Jabodetabek juga menghadapi ancaman kenaikan muka air laut akibat pemanasan global.
"Karena itu, pembangunan perlindungan pantai di wilayah Pantura disebut menjadi salah satu agenda penting yang perlu mendapat dukungan lintas pihak," kata dia.
Meski berbagai infrastruktur terus dibangun, pemerintah menegaskan penanganan persoalan sungai tidak akan berkelanjutan tanpa partisipasi masyarakat.
“Sebesar apa pun pemerintah hadir dengan infrastruktur, tidak akan langgeng kalau masyarakat masih membuang sampah sembarangan ke sungai,” ujar AHY.
Pemerintah pun mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari akademisi, sekolah, komunitas lingkungan, dunia usaha, hingga media massa untuk bersama-sama mengampanyekan gerakan bersih sungai dan meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan.



![[QUIZ] Dari Zodiakmu, Ini Ide Bisnis yang Cocok Untukmu](https://image.idntimes.com/post/20240308/2150354467-0e529929d1bb3576b4087c8f48db7043.jpg)


![[QUIZ] Tebak Nama Founder Brand Terkenal di Dunia, Yakin Jago?](https://image.idntimes.com/post/20260430/upload_6dafd095e4ed1c4e1cfe7bcd98a69a11_6a27463e-5aea-4fa7-86bb-4b2eef07c35b_watermarked_idntimes-3.jpg)

![[QUIZ] Cari Tahu Ide Bisnis yang Cocok dari Shio Kamu](https://image.idntimes.com/post/20240328/10817217-19406371-d1bc7980c62d880a91283408a334e32a.jpg)









