Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa Itu Agentic AI dan Kenapa Bisnis Mulai Menggunakannya?

Apa Itu Agentic AI dan Kenapa Bisnis Mulai Menggunakannya?
ilustrasi menggunakan AI untuk membantu bisnis (freepik.com/freepik)
  • Agentic AI dirancang bekerja mandiri untuk mencapai tujuan: merencanakan langkah, memakai tools, mengakses sistem, mengevaluasi hasil, dan menjalankan rangkaian tugas tanpa instruksi per langkah.
  • Berbeda dari generative AI yang menghasilkan konten, agentic AI berfokus menjalankan tindakan lanjutan, seperti mengolah data pelanggan, mengirim email, memperbarui sistem, dan menjadwalkan tindak lanjut.
  • Bisnis memanfaatkannya untuk efisiensi pekerjaan rutin di layanan pelanggan, software, dan rantai pasok, tetapi perlu pembatasan akses, pemantauan, serta persetujuan manusia untuk tindakan berisiko tinggi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Artificial intelligence (AI) selama ini lebih dikenal sebagai teknologi yang bisa menjawab pertanyaan, membuat tulisan, merangkum dokumen, atau menghasilkan gambar berdasarkan perintah pengguna. Namun, perkembangan AI kini mulai bergerak ke tahap yang lebih jauh. Teknologi tersebut tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga bisa mengambil tindakan untuk mencapai tujuan tertentu.

Inilah yang dikenal sebagai agentic AI. Sederhananya, agentic AI memungkinkan sistem AI merencanakan langkah, menggunakan berbagai tools, mengambil keputusan dalam batas tertentu, lalu menyesuaikan tindakannya berdasarkan hasil yang diperoleh.

Bagi dunia bisnis, kemampuan tersebut tentu menarik. Apalagi ketika perusahaan sedang mencari cara untuk menghemat waktu, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi pekerjaan yang sifatnya berulang. Mari, kita bahas lebih dalam seputar agentic AI dan perannya dalam bisnis!

  1. 1. Apa itu agentic AI

    ilustrasi artificial intelligence atau AI
    ilustrasi artificial intelligence atau AI (pexels.com/Aerps.com)

    Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang dirancang untuk menjalankan tugas atau mencapai tujuan dengan tingkat kemandirian tertentu. Jika AI biasa cenderung menunggu instruksi lalu memberikan respons, agentic AI dapat menentukan beberapa langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan. Misalnya, sebuah perusahaan menggunakan agentic AI untuk menangani keluhan pelanggan. Sistem tidak hanya menjawab pesan pelanggan, tetapi juga dapat memeriksa riwayat pesanan, mencari informasi transaksi, menentukan apakah pelanggan memenuhi syarat untuk mendapatkan pengembalian dana, membuat respons, hingga memperbarui catatan di sistem perusahaan.

    Dengan kata lain, manusia tidak perlu lagi memberikan instruksi untuk setiap langkah yang harus dilakukan. Mereka cukup menentukan tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu, AI akan menjalankan rangkaian pekerjaan yang diperlukan sesuai dengan kemampuan dan akses yang dimilikinya.

    Agentic AI biasanya menggabungkan beberapa kemampuan, seperti memahami tujuan dalam bahasa sehari-hari, memecah pekerjaan kompleks menjadi beberapa tugas, menggunakan database atau aplikasi, mempertahankan konteks, serta mengevaluasi hasil sebelum menentukan langkah berikutnya. Karena itu, agentic AI sedikit berbeda dari chatbot biasa. Chatbot umumnya memberikan respons berdasarkan pertanyaan pengguna, sedangkan agentic AI dapat menjalankan serangkaian tindakan untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.

  2. 2. Apa bedanya dengan generative AI

    ilustrasi artificial intelligence atau AI
    ilustrasi artificial intelligence atau AI (pexels.com/Solen Feyissa)

    Perbedaannya sebenarnya cukup sederhana. Generative AI biasanya digunakan untuk menghasilkan sesuatu. Misalnya, pengguna meminta AI membuat artikel, menyusun email, membuat gambar, atau merangkum laporan.

    Sedangkan, agentic AI lebih berfokus pada tindakan. Sistem dapat menggunakan kemampuan generative AI sebagai bagian dari proses, tetapi kemudian melanjutkannya dengan melakukan pekerjaan lain. Sebagai contoh, generative AI bisa membantu membuat email penawaran kepada calon pelanggan. Agentic AI dapat melangkah lebih jauh dengan mencari data calon pelanggan, menentukan siapa yang perlu dihubungi, menyusun email, memasukkannya ke dalam sistem, dan menjadwalkan tindak lanjut. Jadi, perbedaannya bukan sekadar soal “AI bisa berpikir atau tidak”, melainkan sejauh mana AI dapat menjalankan proses untuk mencapai tujuan tertentu.

  3. 3. Kenapa bisnis mulai tertarik menggunakan agentic AI

    ilustrasi menggunakan AI untuk menjalankan bisnis (freepik.com/freepik)
    ilustrasi menggunakan AI untuk menjalankan bisnis (freepik.com/freepik)

    Salah satu alasan terbesarnya adalah efisiensi. Di dalam perusahaan, ada banyak pekerjaan yang sebenarnya tidak selalu membutuhkan keputusan strategis dari manusia. Memeriksa data, memperbarui informasi, membuat laporan rutin, memantau sistem, mengatur jadwal, hingga menindaklanjuti pelanggan sering kali menghabiskan cukup banyak waktu.

    Agentic AI berpotensi mengambil alih sebagian pekerjaan tersebut sehingga karyawan dapat lebih fokus pada tugas yang membutuhkan kreativitas, pertimbangan, komunikasi, dan pengambilan keputusan. Penerapannya juga cukup luas. Dalam layanan pelanggan, AI bisa mengklasifikasikan pertanyaan, mencari informasi akun, memberikan solusi, meneruskan kasus yang rumit kepada manusia, sekaligus mencatat percakapan. Di bidang pengembangan software, agentic AI bisa memeriksa kode, mencari potensi masalah, membuat pengujian, dan membantu dokumentasi. Sementara dalam rantai pasok, teknologi ini dapat digunakan untuk memantau persediaan, mendeteksi keterlambatan, membandingkan pilihan, hingga memberikan rekomendasi penyesuaian.

    Yang menarik, agentic AI juga dapat bekerja dengan berbagai sistem sekaligus. Misalnya, CRM, email, database perusahaan, dan aplikasi manajemen proyek. Kemampuan ini membuat agentic AI berpotensi mengurangi pekerjaan manual yang selama ini dilakukan hanya untuk memindahkan informasi dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya.

  4. 4. Bukan berarti AI boleh bekerja tanpa pengawasan

    ilustrasi menjalani bisnis dengan saudara
    ilustrasi menjalankan bisnis bersama (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

    Semakin mandiri sebuah sistem AI, semakin besar pula risikonya. Bayangkan jika AI hanya digunakan untuk membuat draft email. Kesalahan yang terjadi mungkin masih mudah diperbaiki. Namun, bagaimana jika AI memiliki akses untuk mengubah data pelanggan, mengirim pesan kepada klien, menyetujui transaksi, atau menjalankan perubahan pada sistem perusahaan?

    Kesalahan kecil bisa memiliki dampak yang jauh lebih besar. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan perusahaan, antara lain keputusan yang keliru, akses yang terlalu luas, kebocoran data, prompt injection, serta tindakan AI yang sebenarnya sesuai instruksi tetapi tidak sesuai dengan tujuan bisnis. Karena itu, perusahaan tetap membutuhkan batasan yang jelas. AI sebaiknya memiliki hak akses sesuai kebutuhan, aktivitasnya dapat dipantau, dan tindakan tertentu yang berisiko tinggi tetap membutuhkan persetujuan manusia. Pendekatan ini disebut governed autonomy, yaitu kondisi ketika AI dapat bekerja secara mandiri tetapi tetap berada dalam batasan, pengawasan, dan kebijakan yang ditetapkan manusia.

    Pada akhirnya, pertanyaannya mungkin bukan lagi apakah bisnis akan menggunakan agentic AI, tetapi bagian mana dari bisnis yang paling tepat untuk mulai dibantu oleh teknologi tersebut. Kalau kamu mulai tertarik menggunakan AI untuk membantu menjalankan bisnismu, pastikan kamu menggunakannya dengan bijak, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More