ilustrasi belanja online (pexels.com/Shoper .pl)
Setiap customer memiliki perjalanan yang berbeda sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli dan kembali menggunakan suatu produk. Ada yang langsung membeli setelah melihat rekomendasi, ada yang membutuhkan waktu untuk membandingkan pilihan, dan ada pula yang baru kembali bertransaksi beberapa bulan kemudian.
Karena itu, customer lifecycle biasanya dibagi menjadi beberapa tahap agar bisnis lebih mudah memahami kebutuhan mereka. Nama dan jumlah tahapnya bisa berbeda tergantung model bisnis. Namun, enam tahap berikut cukup mewakili perjalanan customer secara umum.
1. Awareness: Customer mulai mengenal produkmu
Tahap awareness dimulai ketika seseorang pertama kali mengetahui keberadaan produk atau bisnis. Mereka bisa menemukannya melalui hasil pencarian Google, konten media sosial, iklan, maupun rekomendasi teman.
Misalnya, kamu sedang scrolling Instagram dan menemukan konten berjudul "5 Novel Misteri yang Bikin Susah Berhenti Membaca". Setelah melihat kontennya, kamu mulai penasaran dengan toko buku yang membagikan rekomendasi tersebut. Pada tahap ini, fokus bisnis adalah memperkenalkan produk dan memberikan informasi yang membuat calon customer tertarik untuk mengenal lebih jauh.
2. Consideration: Mulai membandingkan pilihan
Setelah mengetahui produk yang menarik, customer biasanya mulai mempertimbangkan apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhannya. Mungkin kamu mulai membandingkan harga, membaca ulasan, atau mencari tahu apakah novel yang direkomendasikan cocok untuk pembaca pemula.
Nah, pada tahap consideration, bisnis perlu membantu customer mendapatkan informasi yang jelas agar mereka lebih mudah mengambil keputusan. Misalnya, toko buku menyediakan sinopsis, informasi penulis, bahasa, edisi buku, hingga ulasan dari pembaca lain. Dengan begitu, customer tidak perlu menebak-nebak apakah produk tersebut sesuai dengan yang mereka cari.
3. Purchase: Customer melakukan pembelian
Tahap purchase terjadi ketika customer sudah memutuskan untuk membeli produk atau menggunakan layanan. Namun, ketertarikan yang tinggi tidak selalu berakhir dengan transaksi.
Bayangkan kamu sudah menemukan novel incaran, tetapi saat checkout ternyata biaya pengirimannya tidak jelas atau metode pembayaran yang dibutuhkan sulit ditemukan. Bisa saja kamu akhirnya mengurungkan niat membeli. Karena itu, bisnis perlu memastikan informasi harga, stok, ongkos kirim, dan proses pembayaran mudah dipahami.
Intinya, jangan sampai customer sudah siap membeli, tetapi justru kesulitan menyelesaikan transaksi.
4. Onboarding: Membantu customer setelah pembelian
Setelah transaksi selesai, hubungan bisnis dengan customer tidak langsung berakhir. Justru pada tahap inilah customer mulai merasakan pengalaman nyata menggunakan produk atau layanan.
Proses onboarding membantu customer memahami apa yang perlu dilakukan setelah pembelian. Bentuknya tentu berbeda-beda tergantung pada jenis produk.
Jika kamu membeli software, onboarding bisa berupa panduan penggunaan atau bantuan pengaturan akun. Sementara untuk pembelian buku online, pengalaman awal setelah transaksi lebih berkaitan dengan konfirmasi pesanan, informasi pengiriman, dan bantuan apabila terjadi masalah.
Tujuannya sederhana: customer tidak perlu kebingungan mencari informasi setelah membayar.
5. Retention: Membuat customer punya alasan untuk kembali
Pernah menemukan toko online yang membuatmu ingin belanja lagi karena pengalaman sebelumnya menyenangkan? Nah, itulah salah satu hasil yang ingin dicapai melalui retention.
Tahap ini berfokus pada menjaga hubungan agar customer tetap menggunakan layanan atau kembali melakukan pembelian ketika membutuhkan. Misalnya, setelah membeli novel misteri, kamu mendapatkan rekomendasi judul lain dari genre yang sama.
Karena rekomendasinya sesuai dengan seleramu, kamu pun tertarik untuk melihat koleksi berikutnya. Namun, retention bukan berarti bisnis harus terus-menerus mengirimkan promo. Kualitas produk, kemudahan transaksi, dan pelayanan yang konsisten juga memengaruhi keinginan customer untuk kembali.
6. Loyalty and Advocacy: Customer loyal dan mau merekomendasikan
Tahap ini menggambarkan kondisi ketika customer sudah memiliki kepercayaan dan pengalaman positif terhadap suatu bisnis. Bukan hanya kembali membeli, mereka juga berpotensi merekomendasikan produk kepada teman atau keluarga.
Misalnya, kamu merasa puas berbelanja di sebuah toko buku karena koleksinya lengkap, pengirimannya rapi, dan customer service-nya responsif. Ketika temanmu bertanya di mana sebaiknya membeli novel, kamu mungkin langsung merekomendasikan toko tersebut.
Namun, perlu dipahami bahwa customer yang sering membeli belum otomatis akan merekomendasikan bisnis kepada orang lain. Rekomendasi biasanya berkaitan dengan pengalaman dan tingkat kepercayaan mereka. Selain itu, perjalanan customer tidak selalu berjalan lurus dari tahap pertama sampai tahap terakhir.
Seseorang bisa berhenti membeli untuk sementara, kembali membandingkan produk lain, atau baru aktif lagi ketika kebutuhannya berubah. Karena itu, CLM perlu mengikuti kondisi dan perilaku customer, bukan sekadar menganggap semua orang akan melewati tahapan yang sama dalam waktu tertentu.