Pupuk Indonesia Bangun Pabrik Soda Ash, Tekan Impor dan Hemat Devisa

Pupuk Indonesia membangun pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik melalui kontrak EPCC Petrokimia Gresik dan Rekind untuk memperkuat hilirisasi serta mengurangi impor bahan baku industri.
Pabrik Gresik berkapasitas 300 ribu ton Soda Ash dan 300 ribu ton Amonium Klorida per tahun, berpotensi menggantikan 29 persen impor Soda Ash serta menghemat devisa Rp1,4 triliun.
Proyek memanfaatkan 174 ribu ton CO2 per tahun sebagai bahan baku Soda Ash; bersama pabrik Pupuk Kaltim, kapasitas gabungan ditargetkan 600 ribu ton dan penghematan devisa Rp2 triliun.
Jakarta, IDN Times - PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat hilirisasi industri melalui pembangunan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik, Jawa Timur.
Proyek ini ditargetkan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri sekaligus meningkatkan pemanfaatan emisi karbon menjadi produk bernilai tambah.
Pengembangan pabrik tersebut dilakukan melalui kerja sama PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind). Kedua anak usaha Pupuk Indonesia itu telah menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk pembangunan proyek Soda Ash dan Amonium Klorida.
1. Hilirisasi menjadi salah satu strategi untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri

Pabrik soda ash nantinya akan dibangun di kawasan Industri Kaltim Industrial Estate (KIE) yang masih berada di area PKT di Bontang. (dok. Pupuk Kaltim) Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, mengatakan, hilirisasi menjadi salah satu strategi untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri, terutama dalam memenuhi kebutuhan bahan baku yang selama ini masih bergantung pada impor.
“Melalui hilirisasi, kita memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad dalam keterangan resmi, Minggu (1/11/2026).
Berdasarkan data Pupuk Indonesia, kebutuhan Soda Ash nasional pada 2025 masih sepenuhnya dipenuhi melalui impor sekitar 1,05 juta ton dengan nilai mencapai 225 juta dolar AS.
2. Pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik dirancang memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun

PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) akan membangun pabrik soda ash pertama di Indonesia pada awal 2025. Foto PKT Bontang Sementara itu, pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik dirancang memiliki kapasitas produksi 300 ribu ton per tahun.
"Dengan kapasitas tersebut, pabrik ini berpotensi menggantikan sekitar 29 persen volume impor Soda Ash nasional dan menghemat devisa sekitar Rp1,4 triliun per tahun," kata dia.
Selain Soda Ash, pabrik ini juga akan memproduksi Amonium Klorida dengan kapasitas 300 ribu ton per tahun. Produk tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pupuk NPK sehingga diharapkan memperkuat rantai pasok industri kimia dan pupuk nasional.
Rahmad menambahkan, proyek ini merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi delapan pabrik dalam lima tahun ke depan.
Menurut dia, Pupuk Indonesia memiliki dua mandat strategis, yakni menjaga ketahanan pangan sekaligus memperkuat kedaulatan industri nasional. Kedua mandat tersebut menjadi landasan bagi perusahaan dalam menjalankan investasi dan transformasi bisnis.
3. Manfaatkan 174 ribu ton karbondioksida

PT Pupuk Indonesia (Persero) terus memperkuat hilirisasi industri melalui pembangunan pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida di Petrokimia Gresik, Jawa Timur. (Dok/Istimewa). Tak hanya mengurangi impor, proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik juga dirancang untuk mendukung pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk.
Karbon dioksida tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses produksi Soda Ash.
"Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui upaya dekarbonisasi bertahap untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060," kata dia.
Rahmad mengatakan, pemanfaatan teknologi rendah karbon diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi industri nasional.
Petrokimia Gresik sebelumnya telah menguji teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant. Teknologi tersebut digunakan untuk menangkap dan mengolah CO2 dari proses industri menjadi Soda Ash.
Hasil pengujian mencatat tingkat efisiensi penangkapan CO2 mencapai 91,48 persen hingga 97,79 persen. Capaian ini menunjukkan potensi pemanfaatan teknologi CCU untuk mengolah emisi karbon menjadi bahan baku produk kimia bernilai tambah.
Selain di Gresik, Pupuk Indonesia juga tengah membangun pabrik Soda Ash melalui PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur.
Kedua proyek tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar 600 ribu ton Soda Ash per tahun. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 60 persen kebutuhan impor Soda Ash nasional.
Jika kedua pabrik beroperasi penuh, Pupuk Indonesia memperkirakan proyek tersebut dapat menekan ketergantungan impor dan menghemat devisa sekitar Rp2 triliun per tahun.





















