Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Perang Lawan Iran, 3 Raksasa Minyak AS Raup Laba Rp2.000 Triliun

5 min read
Perang Lawan Iran, 3 Raksasa Minyak AS Raup Laba Rp2.000 Triliun
ilustrasi pabrik minyak (pexels.com/Zakelj)
  • Chevron, ExxonMobil, dan Valero meraup laba gabungan 130 miliar dolar AS sepanjang April–September, didorong gangguan pasokan Timur Tengah yang mengangkat harga Brent dari sekitar 70 menjadi 113 dolar AS per barel.
  • Penutupan Selat Hormuz, serangan Houthi, kerusakan kilang Teluk, dan ancaman terhadap fasilitas Rusia menguntungkan produsen serta pengolah minyak AS dan Eropa; banyak laba dialirkan melalui dividen dan pembelian kembali saham.
  • Konsumen AS menghadapi bensin 4,29 dolar AS per galon, memicu isu politik jelang pemilu paruh waktu; Demokrat mengusulkan pajak laba berlebih, sementara pemerintah Trump berupaya menambah pasokan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Perusahaan-perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat (AS) menikmati lonjakan keuntungan bersejarah di tengah perang AS-Israel melawan Iran. Berdasarkan data lebih dari 50 perusahaan yang dihimpun The New York Times dan dikutip RT International, Chevron, ExxonMobil, dan Valero mengumpulkan laba sebesar 130 miliar dolar AS (setara Rp2.353 triliun) sepanjang April hingga September, jauh melampaui capaian kurang dari 47 miliar dolar AS (setara Rp850,7 triliun) pada periode yang sama tahun lalu.

Besarnya keuntungan tersebut hampir menyamai tambahan pengeluaran konsumen yang mencapai 147 miliar dolar AS (setara Rp2.660,7 triliun) untuk membeli bensin dan solar sejak serangan dimulai pada 28 Februari. Pada kuartal ini saja, ExxonMobil membukukan laba 15,4 miliar dolar AS (setara Rp278,74 triliun), Shell sebesar 10,8 miliar dolar AS (setara Rp195,48 triliun), dan Chevron mencapai 9,9 miliar dolar AS (setara Rp179,19 triliun), sehingga total keuntungan ketiganya melampaui 36 miliar dolar AS (setara Rp651,6 triliun).

  1. 1. Gangguan pasokan global mengerek harga minyak dunia

    ilustrasi kilang minyak
    ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Pixabay)

    Kenaikan keuntungan perusahaan energi tersebut berkaitan erat dengan terganggunya distribusi minyak dunia. Penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran selama hampir enam bulan, ditambah serangan kelompok Houthi Yaman terhadap fasilitas ekstraksi minyak Arab Saudi dan jalur pelayaran di Laut Merah, membuat pasokan dari Timur Tengah merosot tajam. Akibatnya, harga minyak mentah Brent yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar AS (setara Rp1,267 juta) per barel sebelum perang kini meningkat menjadi sekitar 113 dolar AS (setara Rp2,045 juta) per barel.

    Terbatasnya pasokan tersebut turut meningkatkan nilai minyak yang diproduksi di AS, Amerika Latin, dan Eropa. Pendiri firma Pickering Energy Partners, Dan Pickering, menilai berkurangnya produksi dari Timur Tengah justru membuka peluang keuntungan besar bagi perusahaan energi di luar kawasan tersebut.

    Keuntungan juga mengalir kepada perusahaan pengolahan minyak AS yang fasilitasnya tetap beroperasi tanpa gangguan serupa. Valero dan Phillips 66 bahkan mencatat laba kuartal ketiga tertinggi sepanjang sejarah setelah sejumlah kilang di kawasan Teluk hancur dan fasilitas pengolahan minyak Rusia menghadapi ancaman serangan pesawat nirawak Ukraina. Perusahaan energi Eropa seperti Shell, TotalEnergies, dan Repsol turut melipatgandakan keuntungan dibandingkan periode yang sama pada 2025, sehingga sejumlah Menteri Keuangan Eropa mendesak Uni Eropa menerapkan pajak atas laba berlebih.

    Sebagian besar keuntungan tersebut kemudian dikembalikan kepada pemegang saham melalui pembagian dividen dan pembelian kembali saham. Exxon menetapkan pembagian dividen kuartalan tertinggi sepanjang sejarah, sedangkan Shell menjalankan salah satu program pembelian kembali saham terbesar. Pickering menjelaskan, perusahaan-perusahaan energi kini cenderung menunggu perkembangan situasi karena kenaikan harga lebih banyak dipengaruhi faktor geopolitik daripada investasi baru, sementara cadangan uang tunai dipertahankan untuk menghadapi kemungkinan penurunan siklus industri.

  2. 2. Konsumen AS menanggung kenaikan harga bahan bakar

    ilustrasi SPBU
    ilustrasi SPBU (pexels.com/1ndex)

    Masyarakat menjadi pihak yang langsung merasakan dampak krisis pasokan ketika membeli bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum. Data Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) menunjukkan harga bensin saat ini sekitar 1,20 dolar AS (setara Rp21.720) per galon lebih mahal dibandingkan setahun sebelumnya, sementara solar sempat mencetak rekor harga pada September. Kini, bensin di AS mencapai 4,29 dolar AS (setara Rp77.649) per galon, melampaui hampir seluruh periode kepresidenan Joe Biden, kecuali tiga bulan pertama eskalasi konflik Ukraina.

    Sejumlah pimpinan perusahaan minyak turut menanggapi dampak kenaikan harga terhadap masyarakat. Direktur Utama (CEO) Exxon, Darren Woods, mengakui tekanan yang muncul akibat mahalnya bahan bakar sekaligus menjelaskan upaya perusahaan meningkatkan produksi.

    “Kami menyadari dampak harga tinggi terhadap kehidupan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

    CEO Chevron, Mike Wirth, juga menjelaskan bahwa perusahaannya berupaya memaksimalkan pasokan melalui sistem operasional yang berada dalam kendali mereka. Sementara itu, CEO Shell, Wael Sawan, menyoroti cepatnya penyusutan cadangan minyak global, termasuk rendahnya persediaan Cadangan Strategis Minyak (SPR) AS serta pelepasan sebagian cadangan oleh negara-negara Eropa.

    Sawan turut menyampaikan perkiraannya mengenai keberlanjutan lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini.

    “Jika Anda bertanya kepada saya enam bulan lalu, apakah saya berpikir bahwa harga minyak akan berada di posisi seperti sekarang ini — tidak. Secara pribadi, saya pikir kita berada pada titik tertinggi di sana, dan kita pada dasarnya melihat apa yang akan menjadi lonjakan temporal,” katanya, dikutip NPR.

  3. 3. Lonjakan harga bahan bakar memicu perdebatan politik AS

    ilustrasi bendera Amerika Serikat
    ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Mahalnya bahan bakar turut menjadi persoalan politik menjelang pemilihan paruh waktu di AS. Presiden Donald Trump menganggap kenaikan harga sebagai pengorbanan kecil yang harus diterima demi mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Survei Gallup menunjukkan 72 persen responden menempatkan harga bensin sebagai faktor sangat penting dalam menentukan pilihan mereka pada pekan depan, sementara sejumlah lembaga survei mencatat Partai Republik tertinggal delapan hingga sembilan poin dari Partai Demokrat secara nasional.

    Pemerintahan Trump juga mengambil sejumlah langkah untuk menambah pasokan dan meredam tekanan harga. Kebijakan tersebut mencakup pencabutan sanksi terhadap solar Rusia yang diikuti keberangkatan sedikitnya tiga kapal tanker menuju AS, desakan kepada pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky agar menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia, serta pelonggaran aturan federal mengenai penggunaan solar berwarna untuk sektor pertanian. Namun, langkah tersebut hanya mampu memenuhi sebagian kecil kebutuhan harian AS, terlebih solar berwarna belum tersedia bagi sebagian besar pengemudi.

    Persoalan keuntungan besar perusahaan minyak juga memicu pembahasan kebijakan di Kongres AS. Partai Demokrat mengusulkan pengenaan pajak atas laba berlebih yang berasal dari gejolak geopolitik, bukan hasil inovasi, melalui rancangan undang-undang yang bertujuan mengembalikan sebagian keuntungan kepada masyarakat dalam bentuk rabat pajak. Senator Sheldon Whitehouse dari Partai Demokrat Rhode Island, yang menjadi sponsor rancangan tersebut, menyebut energi angin, surya, dan baterai tidak mengalami kenaikan harga sehingga menawarkan biaya yang lebih kompetitif.

    Kritik terhadap besarnya keuntungan perusahaan di tengah krisis pasokan turut disampaikan ekonom University of Massachusetts Amherst, Isabella Weber. Ia menilai rekor laba ketika dunia menghadapi gangguan pasokan terburuk memunculkan pertanyaan mengenai pihak yang memperoleh keuntungan dan mereka yang harus menanggung kerugian, sebab perusahaan justru menikmati masa terbaik ketika keadaan darurat terjadi. Pandangan tersebut berbeda dengan sikap Woods yang sebelumnya menilai pajak laba berlebih sebagai kebijakan keliru karena memberikan hukuman kepada perusahaan yang berhasil berkembang di industri dengan tingkat volatilitas tinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More