Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekspor Thailand Melonjak 24 Persen Ditopang Sektor Elektronik

5 min read
Ekspor Thailand Melonjak 24 Persen Ditopang Sektor Elektronik
ilustrasi bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler)
  • Ekspor Thailand September 2026 naik 24 persen secara tahunan menjadi 38,4 miliar dolar AS, ditopang lonjakan elektronik 66,3 persen dan permintaan rantai pasok AI.
  • Impor melonjak 50,4 persen menjadi 44,3 miliar dolar AS, terutama barang modal untuk pusat data, sehingga defisit perdagangan melebar menjadi 5,9 miliar dolar AS.
  • Pemulihan ekonomi belum merata: kunjungan turis dan konsumsi swasta menurun, sementara prospek perdagangan menghadapi risiko tarif AS, konflik Timur Tengah, serta perlambatan investasi AI.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perekonomian Thailand secara keseluruhan membaik pada September 2026 secara bulanan, didorong oleh ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global yang mengangkat ekspor elektronik dan investasi pusat data. Bank of Thailand pada Jumat (30/10/2026) menyatakan bahwa ekspor barang di luar emas naik 3,7 persen secara bulanan berdasarkan penyesuaian musiman.

Kenaikan ekspor tersebut dipimpin oleh pengiriman peralatan telekomunikasi dan komputer. Namun, bank sentral menyebut pemulihan masih belum merata karena sektor pariwisata dan pengeluaran konsumen mengalami pelemahan.

  1. 1. Lonjakan ekspor elektronik dan rekor pengiriman ke Amerika Serikat

    ilustrasi bendera Amerika Serikat
    ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/D Goug)

    Berdasarkan data yang dihimpun Thailand Business News, nilai ekspor Thailand pada September 2026 mencapai 38,4 miliar dolar AS atau setara Rp696,5 triliun (kurs Rp18.132), tumbuh 24 persen secara tahunan. Capaian ini melampaui perkiraan awal SCB EIC sebesar 16,3 persen dan angka tengah jajak pendapat Reuters sebesar 17,9 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor Thailand selama sembilan bulan pertama 2026 tumbuh sebesar 19,5 persen.

    Ekspor produk elektronik melonjak tinggi sebesar 66,3 persen dan mencatatkan pertumbuhan selama 30 bulan berturut-turut. Komoditas ini didorong oleh siklus kenaikan elektronik serta tren global investasi industri elektronik dan pusat data. Sebagai bagian dari rantai pasok produk terkait AI, ekspor barang elektronik Thailand ke 15 mitra dagang utama tumbuh selama dua bulan beruntun.

    Ekspor ke Amerika Serikat menembus rekor 10,2 miliar dolar AS atau setara Rp185 triliun setelah tumbuh 50,1 persen. Sementara itu, ekspor ke pasar Asia naik 21,8 persen yang didorong lonjakan pengiriman mesin faks, telepon, komponen komputer, dan papan sirkuit cetak. Lonjakan di kawasan Asia terjadi karena naiknya permintaan barang rantai pasok AI untuk pusat data di ASEAN 5, Hong Kong, dan China.

  2. 2. Kenaikan impor barang modal dan pelebaran defisit dagang

    ilustrasi kapal kargo
    ilustrasi kapal kargo (pexels.com/William Liu)

    Nilai impor Thailand pada September 2026 tumbuh 50,4 persen menjadi 44,3 miliar dolar AS atau setara Rp803,5 triliun. Laju pertumbuhan impor ini tercatat dua kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Agustus 2026 yang sebesar 25,1 persen. Akibat impor yang melesat lebih cepat daripada ekspor, defisit neraca perdagangan Thailand pada bulan tersebut melebar menjadi 5,9 miliar dolar AS atau setara Rp107 triliun.

    Impor barang modal mencatatkan kenaikan tertinggi yakni 92,3 persen, terutama pasokan komputer, peralatan, dan komponen dari China serta Taiwan. Di sisi lain, indeks investasi swasta dari Bank of Thailand melonjak 21,6 persen secara bulanan pada September 2026 karena tingginya impor perlengkapan pusat data. Impor bahan baku dan barang setengah jadi juga bertumbuh 41,2 persen yang disokong oleh pengadaan papan sirkuit serta emas.

    Impor produk bahan bakar juga meningkat 45,7 persen menyusul lonjakan harga energi global imbas perang. Thailand tercatat mengalihkan pembelian gas alam dan produk minyak bumi ke Amerika Serikat, Australia, serta Kongo untuk menggantikan impor dari Qatar yang telah menyusut selama lima bulan berturut-turut. Penurunan impor minyak mentah dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga dialihkan melalui peningkatan pasokan dari Argentina, Brasil, dan Nigeria.

  3. 3. Penurunan kunjungan wisatawan asing dan konsumsi domestik

    Pattaya, Thailand
    Pattaya, Thailand (unsplash.com/Lin Kiu)

    Direktur Senior Departemen Makroekonomi Bank of Thailand, Pranee Sutthasri, menyatakan kedatangan turis asing menyusut 6,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pelemahan perjalanan jarak dekat terjadi setelah masa libur sekolah musim panas berakhir, ditambah kendala jadwal penerbangan dan naiknya biaya perjalanan akibat harga minyak. Kendati demikian, pendapatan dari sektor pariwisata tetap naik 12,5 persen secara bulanan karena durasi tinggal pelancong lebih lama dan porsi wisatawan jarak jauh bertambah.

    Konsumsi swasta di Thailand turun 2,2 persen dari bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh berkurangnya belanja pada sektor jasa perhotelan dan restoran. Pranee Sutthasri menyebut tingginya biaya hidup membuat kalangan rumah tangga menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Pengeluaran pemerintah juga terkontraksi 0,9 persen secara tahunan akibat lebih rendahnya realisasi pencairan anggaran pemerintah pusat dan badan usaha milik negara.

    Bank sentral mengungkapkan keuntungan pemulihan ekonomi saat ini sebagian besar hanya dirasakan oleh pelaku usaha dan pekerja di sektor terkait AI. Dilansir Xinhua, konsumsi rumah tangga diperkirakan baru akan pulih secara bertahap ke depan. Pemulihan konsumsi tersebut diharapkan mendapat topangan dari langkah-langkah pemerintah dan membaiknya pendapatan tenaga kerja.

  4. 4. Peluang perdagangan dunia dan sejumlah risiko tahun depan

    ilustrasi pesawat kargo
    ilustrasi pesawat kargo (unsplash.com/Patrick Campanale)

    Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi volume perdagangan global 2026 masing-masing menjadi 3,9 persen dan 4,6 persen. Prospek ini didorong oleh ketahanan ekonomi global serta tingginya permintaan produk AI dengan kawasan Asia sebagai penggerak utama. Aktivitas industri global juga masih berada di zona ekspansi selama 14 bulan berturut-turut, dengan Purchasing Managers' Index (PMI) menyentuh level 53,0—capaian tertinggi dalam 55 bulan terakhir.

    Pertumbuhan ekspor dan impor Thailand pada tahun depan berpotensi melambat signifikan akibat efek basis perbandingan yang tinggi pada sembilan bulan pertama 2026. Selain itu, terdapat ancaman penerapan tarif impor tambahan dari Amerika Serikat di bawah Section 301 dalam satu hingga dua bulan mendatang. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga dapat kembali meningkat apabila gencatan dagang tidak diperpanjang setelah batas waktu 10 Januari 2027.

    Potensi eskalasi konflik di Timur Tengah turut menjadi risiko lanjutan yang dapat memengaruhi harga minyak, biaya angkut kargo, rute perdagangan, dan menekan permintaan global. Ekspor Thailand juga rentan terhadap risiko stagnasi investasi AI global yang menjadi produk andalan negara-negara Asia. Risiko lain yang perlu diwaspadai mencakup kenaikan suku bunga jangka panjang global serta volatilitas pergerakan nilai tukar mata uang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More