AS Serang Iran, Ekonom Bank Mandiri Wanti-Wanti Harga Minyak

- Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari 2026, memicu peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
- Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai konflik ini bisa langsung berdampak pada volatilitas harga minyak mentah dunia.
- Risiko terbesar terletak pada potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20 persen perdagangan minyak global.
Jakarta, IDN Times – Ekonom Bank Mandiri menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian meningkat setelah Amerika Serikat terlibat dalam serangan militer terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak global.
Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, ketegangan yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama berpotensi langsung tercermin pada harga minyak mentah dunia.
"Pasar minyak global bersiap menghadapi volatilitas besar," ucapnya Sabtu (28/2/2026).
Menurut Asmo, dari sisi ekonomi global, perhatian utama tertuju pada potensi gangguan distribusi energi.
Ketegangan berisiko meluas ke kawasan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika jalur tersebut terdampak, harga minyak mentah berpotensi melonjak signifikan dalam waktu singkat.
"Selat Hormuz (yang dilalui oleh 20 persen minyak dunia) berpotensi menjadi zona perang, yang kemungkinan akan menyebabkan harga minyak melonjak," tegasnya.
















![[QUIZ] Cari Tahu Ide Bisnis yang Cocok dari Shio Kamu](https://image.idntimes.com/post/20240328/10817217-19406371-d1bc7980c62d880a91283408a334e32a.jpg)

