Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Serang Iran, Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.763

AS Serang Iran, Rupiah Kembali Melemah ke Rp17.763
ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)
  • Rupiah melemah 19 poin atau 0,11 persen menjadi Rp17.763 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu.
  • Eskalasi konflik AS-Iran dan pernyataan hawkish pejabat The Fed menjadi sentimen yang memengaruhi rupiah.
  • Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan Kamis di rentang Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah tercatat mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (2/9/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan sore ini, mata uang Garuda terkoreksi sebesar 19 poin atau 0,11 persen ke level Rp17.763 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.744 per dolar AS.

  1. 1. Konflik AS-Iran kembali memanas

    Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan eskalasi konflik AS dan Iran kembali menjadi perhatian pasar setelah militer AS menyelesaikan gelombang serangan terbaru terhadap Iran pada Selasa malam waktu setempat.

    Serangan tersebut menyasar sejumlah target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), di antaranya situs pertahanan udara, sistem radar, aset dan fasilitas maritim, kemampuan penebaran ranjau, serta fasilitas komunikasi.

    Ibrahim menyebut laporan Axios yang mengutip pejabat AS juga menyatakan bahwa militer AS menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran dalam serangan tersebut.

    Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui media sosial menyampaikan pernyataan yang menunjukkan sikap keras terhadap Iran dan mendorong masyarakat Iran untuk bangkit melawan pemerintahnya.

    "Iran membalas rentetan serangan AS pada hari Selasa. Aksi saling serang ini menandai eskalasi paling serius dalam beberapa pekan terakhir dalam konflik yang telah mendorong kenaikan harga energi global," kata Ibrahim.

  2. 2. Sinyal hawkish The Fed picu spekulasi kenaikan bunga

    Sentimen terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh pernyataan pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai inflasi. Retorika hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh terkait inflasi dalam Simposium Jackson Hole kembali memicu spekulasi pasar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga.

    "CME FedWatch Tool menunjukkan sekitar 65 persen kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 15-16 September, naik dari sekitar 40 persen seminggu yang lalu," tuturnya.

    Nada hawkish juga disampaikan Gubernur The Fed Michael Barr. Dia menilai inflasi yang bertahan di atas target dapat meningkatkan risiko terhadap perekonomian.

    Barr menyatakan dapat mendukung kebijakan mempertahankan suku bunga apabila inflasi menunjukkan perlambatan. Namun, menurutnya, suku bunga perlu kembali dinaikkan jika inflasi tidak kunjung turun.

  3. 3. Proyeksi pergerakan rupiah di perdagangan Kamis

    Ibrahim memaparkan mata uang rupiah pada perdagangan sore ini resmi ditutup melemah 19 poin di posisi Rp17.763 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS, setelah sempat terdepresiasi hingga 35 poin.

    Untuk perdagangan Kamis (3/9/2026), Ibrahim memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah akan cenderung fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah pada rentang Rp17.760 hingga Rp17.800 per dolar AS.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More