Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ingin Swasembada, Pemerintah Target Setop Impor Garam pada 2029

Ingin Swasembada, Pemerintah Target Setop Impor Garam pada 2029
Lahan tambak garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon terendam air rob. (IDN Times/Wildan Ibnu)
  • Pemerintah menargetkan swasembada garam pada 2029, dengan produksi nasional naik dari sekitar 1 juta ton menjadi 5 juta ton dan impor dihentikan.
  • KSIGN Rote Ndao dikembangkan seluas 2.000 hektare melalui investasi sekitar Rp2 triliun; tahap awal 616 hektare selesai dan panen perdana ditargetkan November 2026.
  • KKP memakai geomembran HDPE untuk meningkatkan mutu dan volume garam, sambil membuka pemanfaatan energi terbarukan serta keterlibatan masyarakat dan investor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah menargetkan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan garam dari produksi dalam negeri dalam beberapa tahun mendatang. Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan Sentra Industri Garam Nasional (KSIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), M. Qodari, menyampaikan pemerintah sedang memperluas kawasan produksi garam nasional untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

"Program tambak udang terintegrasi atau Integrated Shrimp Farming di Waingapu merupakan bagian dari upaya pemerataan pembangunan. Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu wilayah yang masih menghadapi tantangan kemiskinan di Indonesia, sehingga pembangunan Integrated Shrimp Farming atau ISF Waingapu diharapkan dapat memberikan efek pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan kerja, serta pengentasan kemiskinan di kawasan tersebut," ujar Qodari dalam konferensi pers di Kantor Bakom, Jakarta, Rabu (2/9/2026).

Pengembangan KSIGN Rote Ndao ditargetkan mencapai 2.000 hektare. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyelesaikan tahap pertama dengan cakupan 616 hektare dan sedang mengerjakan tahap kedua seluas 751 hektare. Uji coba produksi juga dilakukan di area 616 hektare yang telah selesai, dengan panen perdana ditargetkan pada November 2026.

  1. 1. Produksi garam digenjot bertahap

    Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)
    Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Qodari memaparkan, pemerintah memiliki target peningkatan produksi garam nasional secara bertahap. Produksi yang saat ini berada di kisaran 1 juta ton ditargetkan naik menjadi 2,5 juta ton pada 2026.

    Kapasitas tersebut kemudian diproyeksikan meningkat menjadi 3,5 juta ton pada 2027. Pemerintah menargetkan produksi garam nasional dapat mencapai 5 juta ton pada 2029.

    Kenaikan produksi dalam negeri tersebut berjalan beriringan dengan target penurunan impor. Volume impor garam diproyeksikan turun dari sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026 dan 1 juta ton pada 2027. Pada 2029, pemerintah menargetkan tidak ada lagi kebutuhan impor garam.

    “Jadi inilah realita pahit kita, Ibu Menteri, ternyata selama ini kita impor garam, walaupun kita negara kepulauan dengan panjang pantai mungkin yang terbanyak di dunia. Ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan swasembada garam nasional," ucap dia.

  2. 2. Kembangkan KSIGN Rote Ndao

    Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)
    Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari (IDN Times/Ilman Nafi'an)

    Pemerintah menyiapkan investasi sekitar Rp2 triliun untuk mengembangkan KSIGN seluas 2.000 hektare di Rote Ndao. Anggaran tersebut mencakup pembangunan tambak garam dan berbagai infrastruktur penunjang.

    Fasilitas pendukung yang disiapkan meliputi jalan, tempat penyimpanan dan pengolahan, pompa, serta infrastruktur lain yang diperlukan untuk menunjang aktivitas produksi garam.

    Secara keseluruhan, kawasan yang menjadi lokasi program prioritas nasional di Rote Ndao memiliki luas sekitar 10.764 hektare. Dari area tersebut, sekitar 2.000 hektare akan dikembangkan KKP melalui skema kerja sama pemanfaatan lahan masyarakat.

    Masyarakat nantinya memperoleh manfaat ekonomi dari pemanfaatan lahan tersebut. Sementara lebih dari 8.000 hektare kawasan lainnya akan dikembangkan investor melalui sejumlah pola kerja sama, termasuk skema bagi hasil.

  3. 3. Gunakan Geomembran untuk tingkatkan produksi

    IMG_20260901_112826.jpg
    Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Muhammad Qodari saat ditemui usai acara di Graha Marinir Panti Perwira, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026)(IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Dalam tahap awal pengembangan, KKP menggunakan metode tambak garam terbuka dengan geomembran atau High Density Polyethylene (HDPE). Teknologi tersebut digunakan untuk membantu meningkatkan jumlah sekaligus mutu garam yang dihasilkan.

    Pengembangan teknologi akan dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Pemerintah juga membuka peluang penggunaan energi terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), dalam pengembangan kawasan tersebut.

    Pemerintah berharap peningkatan produktivitas, kualitas, dan nilai tambah garam dapat meningkatkan pendapatan petambak. Keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai usaha garam juga akan diperluas seiring pengembangan kawasan.

    KSIGN Rote Ndao diharapkan turut menarik investasi baru, menciptakan lapangan pekerjaan, serta memunculkan usaha pendukung bagi masyarakat di sekitar kawasan.

    Pengembangan industri garam di Rote Ndao menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat produksi domestik. Target peningkatan produksi hingga 5 juta ton pada 2029 disiapkan untuk mengimbangi kebutuhan nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap garam impor.

    "Sejalan dengan itu, volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026, 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada tahun 2029," imbuhnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More