Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Atasi Harga Pangan, Trump Resmi Tambah Impor Daging Sapi Argentina

Atasi Harga Pangan, Trump Resmi Tambah Impor Daging Sapi Argentina
ilustrasi daging sapi (freepik.com/bublikhaus)
Intinya sih...
  • Presiden AS, Donald Trump, menambah kuota impor daging sapi Argentina jadi 80 ribu ton untuk 2026.
  • Krisis pasokan sapi di AS memicu lonjakan harga daging giling hingga mencapai rekor tertinggi.
  • Keputusan pemerintah AS untuk meningkatkan impor daging dari Argentina memicu protes dari peternak nasional.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, resmi menandatangani proklamasi bertajuk "Ensuring Affordable Beef for the American Consumer", guna meningkatkan kuota impor daging sapi rendah tarif dari Argentina. Kebijakan eksekutif ini diambil sebagai respons strategis terhadap lonjakan harga pangan di pasar domestik serta krisis pasokan daging sapi giling yang telah mencapai titik kritis bagi stabilitas ekonomi rumah tangga di AS.

Langkah tersebut dilakukan di tengah penurunan drastis populasi ternak nasional yang dipicu oleh berbagai bencana alam serta kendala perdagangan internasional dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun diproyeksikan dapat memperkuat stok pangan nasional dan menekan inflasi, keputusan ini memicu perdebatan luas mengenai keseimbangan antara upaya stabilisasi harga bagi publik dengan perlindungan terhadap keberlangsungan mata pencaharian para peternak lokal.

Table of Content

1. AS tambah kuota impor daging sapi Argentina jadi 80 ribu ton

1. AS tambah kuota impor daging sapi Argentina jadi 80 ribu ton

Presiden Donald Trump secara resmi menetapkan penambahan kuota impor daging sapi tanpa lemak (lean beef trimmings) dari Argentina sebesar 80 ribu ton untuk 2026. Kebijakan ini merupakan perluasan dari alokasi kuota tarif yang sudah ada sebelumnya dan akan didistribusikan secara eksklusif kepada Argentina, dalam empat tahap mulai pertengahan Februari mendatang.

Langkah strategis ini bertujuan untuk mengamankan pasokan daging sapi giling yang terjangkau bagi konsumen Amerika di tengah defisit produksi domestik dan tingginya tekanan inflasi pangan. Keputusan eksekutif tersebut diambil berdasarkan data Departemen Pertanian yang menunjukkan kapasitas produksi dalam negeri saat ini tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan pasar.

"Saya menentukan bahwa perlu dan tepat untuk meningkatkan sementara jumlah impor daging sapi, dan lebih lanjut, saya memutuskan bahwa sangat tepat untuk mengalokasikan seluruh penambahan jumlah kuota daging sapi ini kepada Argentina," ujar Trump, dilansir CBS News.

Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer menambahkan, kolaborasi ini merupakan model kemitraan ekonomi yang krusial untuk memperkuat keamanan nasional melalui hubungan bilateral yang erat dengan Presiden Argentina, Javier Milei. Penambahan kuota ini diharapkan tidak hanya menstabilkan harga pangan di tingkat konsumen, tetapi juga mempertegas komitmen AS dalam menjalin kerja sama strategis dengan negara mitra di sektor komoditas pangan utama.

2. Krisis pasokan sapi AS picu lonjakan harga daging giling

Populasi ternak nasional AS saat ini merosot ke angka 86,2 juta ekor, level terendah sejak 1951. Penurunan drastis ini merupakan dampak kumulatif dari kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan yang menghancurkan lahan penggembalaan serta memicu lonjakan biaya pakan. Kondisi tersebut memaksa para peternak melakukan likuidasi kawanan ternak guna menghindari kerugian finansial yang lebih besar. Selain faktor alam, rantai pasokan semakin tertekan oleh pembatasan impor sapi hidup dari Meksiko akibat wabah ulat sekrup, yang secara signifikan mengurangi stok pakan ternak di tingkat domestik.

Ketidakseimbangan pasokan ini menyebabkan harga daging sapi giling melonjak hingga mencapai rekor tertinggi sebesar 6,69 dolar AS (Rp112,7 ribu) per pon pada Desember 2025. Menanggapi situasi tersebut, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa intervensi pemerintah melalui kebijakan impor tambahan sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.

"Sebagai Presiden, saya memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa warga Amerika yang bekerja keras mampu memberi makan diri mereka sendiri dan keluarga mereka," ujar Trump, dilansir Fox Business.

3. Peternak AS protes kebijakan peningkatan impor daging Argentina

Keputusan pemerintah AS untuk meningkatkan impor daging dari Argentina memicu gelombang protes dari berbagai organisasi peternak nasional. Para produsen domestik menilai langkah tersebut sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan ekonomi mereka, yang saat ini sedang berjuang menghadapi tingginya biaya operasional.

Selain kekhawatiran akan tertekannya harga di tingkat peternak lokal, muncul pula peringatan mengenai standar keamanan hayati terkait sejarah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Argentina yang dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan populasi ternak di AS jika protokol pengawasan tidak diperketat.

CEO National Cattlemen’s Beef Association (NCBA) Colin Woodall menyampaikan kritik keras dengan menyatakan bahwa pemerintah seharusnya memprioritaskan penguatan pasar domestik daripada bergantung pada pasokan luar negeri.

"Asosiasi Peternak Sapi Nasional dan anggotanya tidak dapat mendukung Presiden ketika ia melemahkan masa depan peternak dan petani dengan mengimpor daging Argentina, dalam upaya untuk mempengaruhi harga. Sangat penting bagi Presiden Trump dan Sekretaris Pertanian Brooke Rollins untuk membiarkan pasar ternak bekerja," ujar Woodall, dilansir The Guardian.

Di sisi lain, sejumlah pakar ekonomi memprediksi penambahan kuota sebesar 80 ribu ton tersebut tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap struktur harga eceran di pasar swalayan. Mengingat volume konsumsi daging sapi yang sangat masif di AS setiap tahunnya, pasokan tambahan ini dinilai terlalu kecil untuk mengubah tren harga secara drastis bagi konsumen akhir. Hal ini memperkuat kekhawatiran para peternak bahwa kebijakan tersebut berisiko merugikan produsen tanpa memberikan solusi penurunan harga yang nyata bagi masyarakat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in Business

See More

5 Kesalahan Sepele yang Bikin Pemula Gagal Berinvestasi

07 Feb 2026, 23:00 WIBBusiness