Begini Strategi Pertamina Patra Niaga Jaga Distribusi Energi di RI

- Pertamina Patra Niaga menerapkan standar global seperti SIRE dan TMSA untuk memastikan distribusi energi nasional berjalan aman, efisien, dan sesuai praktik terbaik industri maritim dunia.
- Armada PPN berperan penting menjaga pasokan energi hingga daerah 3T dengan pengawasan ketat, pelatihan awak kapal bersertifikasi, serta penerapan regulasi keselamatan dan lingkungan internasional.
- PPN memperkuat budaya keselamatan melalui inspeksi berkala, audit internal-eksternal, pemanfaatan teknologi real-time, serta kolaborasi dengan regulator demi kelancaran dan keberlanjutan distribusi energi nasional.
Jakarta, IDN Times – PT Pertamina Patra Niaga (PPN), Subholding Downstream Pertamina, terus memperkuat keandalan distribusi energi nasional melalui penerapan standar keselamatan dan kepatuhan berkelas global pada seluruh armadanya.
Standar seperti Ship Inspection Report Programme (SIRE) dan Tanker Management and Self Assessment (TMSA) menjadi fondasi dalam memastikan setiap operasional kapal berjalan aman, terkendali, dan selaras dengan praktik terbaik industri maritim dunia.
Direktur Armada Logistik PPN, Arif Yunianto menegaskan, konsistensi penerapan standar global tersebut menjadi kunci dalam menjaga kelancaran pasokan energi di berbagai wilayah Indonesia.
“Bagi kami, keselamatan dan kepatuhan bukan sekadar pemenuhan regulasi, tetapi bagian dari strategi untuk menjaga distribusi energi tetap andal. Dengan standar global seperti SIRE dan TMSA serta penguatan implementasi HSSE, kami memastikan setiap armada beroperasi dengan tingkat keamanan tinggi dan memenuhi standar industri internasional,” tutur Arif dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Kamis (2/4/2026).
1. Kepastian energi di daerah 3T

Peran armada PPN menjadi krusial dalam memastikan energi tetap tersedia di seluruh wilayah, termasuk kawasan kepulauan dan daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) yang memiliki tantangan logistik lebih kompleks. Oleh karena itu, setiap operasi dijalankan dengan pengawasan ketat dan standar keselamatan yang terukur guna meminimalkan potensi risiko.
Selain aspek operasional, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Seluruh awak kapal dibekali pelatihan dan sertifikasi sesuai regulasi nasional maupun internasional, mulai dari keselamatan kerja, penanganan kondisi darurat, hingga perlindungan lingkungan.
"Hal ini memastikan setiap personel memiliki kompetensi dan respons yang tepat dalam menghadapi dinamika operasional di laut," kata Arif.
2. Inspeksi berkala

Dalam praktiknya, PPN juga memperkuat sistem pengawasan melalui inspeksi berkala, audit internal dan eksternal, serta pemanfaatan teknologi monitoring secara real-time untuk meningkatkan visibilitas dan pengendalian operasional armada.
"Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan secara menyeluruh," ujar Arif.
Implementasi standar internasional seperti International Safety Management (ISM) Code dan pedoman dari Oil Companies International Marine Forum (OCIMF) turut menjadi bagian dari sistem yang dijalankan.
SIRE memastikan kapal memenuhi standar inspeksi global yang ketat, sementara TMSA mendorong peningkatan berkelanjutan melalui pendekatan manajemen risiko yang terstruktur.
3. Budaya keselamatan

Sejalan dengan itu, PPN juga terus membangun budaya keselamatan di seluruh lini organisasi melalui sosialisasi, kampanye internal, serta penguatan disiplin operasional. Sinergi dengan regulator, otoritas pelabuhan, dan mitra operasional juga terus diperkuat untuk memastikan distribusi energi berjalan lancar, aman, dan berkelanjutan.
“Ke depan, kami akan terus memperkuat standar keselamatan, meningkatkan kapabilitas SDM, serta mengoptimalkan teknologi guna memastikan distribusi energi nasional tetap terjaga dengan baik. Ini adalah bagian dari komitmen kami dalam menjaga kepercayaan masyarakat,” tutur Arif.


















