Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BEI Cetak Laba Rp1,07 Triliun di 2025, Tertinggi Sepanjang Sejarah!

BEI Cetak Laba Rp1,07 Triliun di 2025, Tertinggi Sepanjang Sejarah!
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Intinya Sih
  • BEI mencatat laba bersih Rp1,07 triliun pada 2025, naik 59,4 persen dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
  • Pendapatan konsolidasi BEI mencapai Rp3,66 triliun didorong lonjakan nilai transaksi harian hingga Rp18,07 triliun serta pertumbuhan jasa transaksi dan kliring di atas 40 persen.
  • Sepanjang 2025 terdapat 26 perusahaan IPO dengan total dana terkumpul Rp18,1 triliun dan kapitalisasi pasar Rp155,2 triliun, menandai peningkatan aktivitas pendanaan lintas sektor.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membukukan laba bersih senilai Rp1,07 triliun sepanjang 2025, tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Hal itu disampaikan Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik dalam konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar secara daring, Senin (29/6/2026).

“Perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 59,4 persen menjadi Rp 1,07 triliun di tahun 2025 yang merupakan pencapaian laba bersih tertinggi dalam sejarah perseroan,” kata Jeffrey.

1. Cetak pendapatan Rp3,66 triliun

IMG_3027.jpeg
Konferensi pers Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang digelar Senin, (29/6/2026). (dok. Tangkapan Layar Zoom)

Capaian laba itu didorong pendapatan konsolidasi yang mencapai Rp3,66 triliun, tumbuh 29,8 persen. Faktor utama adalah peningkatan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) menjadi Rp18,07 triliun, yang terkerek oleh pertumbuhan Jasa Transaksi Efek sebesar 41 persen, dan Jasa Kliring sebesar 41,3 persen.

Perseroan juga melakukan diversifikasi sumber pendapatan melalui jasa informasi, pendapatan investasi, dan kontribusi anak usaha, sehingga pendapatan non-transaksi meningkat 14,6 persen, dan pendapatan lainnya tumbuh 17 persen.

Di sisi lain, jumlah beban meningkat 17,1 persen menjadi Rp2,37 triliun, terutama akibat meningkatnya kontribusi tahunan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) seiring bertambahnya aktivitas transaksi pasar modal.

2. Nilai transaksi harian tembus Rp18 triliun sepanjang 2025

Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang 2025, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun.

Pasar obligasi di BEI, melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), mencatat total volume transaksi mencapai Rp1.375 triliun, sementara nilai perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) tercatat sebesar Rp36,37 miliar.

3. Ada 26 perusahaan IPO selama 2025

Seorang pria memantau pergerakan saham melalui gawainya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (21/2/2025). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Seorang pria memantau pergerakan saham melalui gawainya di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (21/2/2025). (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Selama 2025, terdapat 26 perusahaan yang mencatatkan saham di bursa dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp 155,2 triliun pada saat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).

Dari sisi penghimpunan dana, perusahaan yang melakukan IPO berhasil menghimpun dana sekitar Rp18,1 triliun atau meningkat 26 persen dibandingkan 2024.

Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials, diikuti sektor keuangan (financials) dan infrastruktur.

Menurut Jeffrey, capaian tersebut menunjukkan aktivitas pendanaan melalui pasar modal tetap tersebar di berbagai sektor strategis dan tidak bergantung pada satu sektor tertentu.

Selain IPO saham, pasar juga menjalankan fungsinya sebagai sumber pembiayaan yang komprehensif melalui berbagai instrumen lainnya.

Pada 2025, penghimpunan dana melalui efek bersifat utang dan sukuk (EBUS) menyentuh Rp 217,4 triliun, sementara penghimpunan dana melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dan waran sebesar Rp 43,7 triliun.

Selama 2025, BEI juga memperkuat ekosistem pasar modal melalui berbagai inovasi produk, pengembangan layanan, serta penguatan infrastruktur pasar.

“Berbagai inisiatif tersebut kami hadirkan untuk meningkatkan kedalaman pasar, memperluas pilihan instrumen investasi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas bagi seluruh pelaku pasar,” tutur dia.

Pada saat yang sama, BEI juga memperluas inklusi pasar melalui penguatan edukasi dan digitalisasi. Hal itu tercermin dari meningkatnya jumlah pengguna aplikasi IDX Mobile menjadi 463 ribu pengguna, terselenggaranya lebih dari 49.000 kegiatan edukasi, serta bertambahnya jumlah galeri investasi menjadi 1.015 galeri yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Berbagai upaya itu disebut memperkuat perkembangan ekosistem pasar modal yang kini memiliki 20,3 juta investor, atau tumbuh 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dengan demikian, fokus Bursa Efek Indonesia tidak hanya pada pertumbuhan aktivitas perdagangan, tetapi juga pada pembangunan ekosistem pasar modal yang semakin dalam, inklusif, dan berkelanjutan,” ucap Jeffrey.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib

Related Articles

See More