Bos BI Beberkan Alasan Rupiah Nyaris Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS

- Aliran modal asing keluar tembus 1,6 miliar dolar AS
- Muncul persepsi pasar terkait proses pencalonan Deputi Gubernur BI
Jakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan, pergerakan rupiah yang melemah dalam akhir-akhir ini disebabkan oleh faktor global dan domestik.
Menurut dia, faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta imbal hasil US Treasury yang tinggi untuk tenor dua dan tiga tahun, turut memberikan dampak besar pada penguatan dolar AS.
"Pelemahan nilai tukar rupiah ini disebabkan oleh sejumlah faktor global, antara lain ketegangan geopolitik, kebijakan tarif dari Amerika, serta tingginya yield US Treasury, baik untuk tenor dua tahun maupun tiga tahun. Selain itu, kemungkinan kecilnya penurunan suku bunga Federal Reserve juga memberi tekanan," kata Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
1. Aliran modal asing keluar tembus 1,6 miliar dolar AS

Perry juga menyoroti adanya aliran arus modal keluar (net outflow) yang signifikan turut mempengaruhi nilai tukar rupiah. Data hingga 19 Januari 2026 menunjukkan, arus modal keluar bersih mencapai 1,6 miliar dolar AS. Hal ini, kata dia, sebagian besar dipicu oleh perpindahan modal dari pasar negara berkembang (emerging market) ke negara maju, termasuk Amerika Serikat.
Berdasarkan data pasar spot, nilai tukar rupiah masih menunjukkan tren pelemahan. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026) hingga tengah hari, rupiah tercatat di level Rp16.967 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp 16.956 per dolar AS.
Meski pada akhirnya rupiah ditutup menguat di level Rp16.936 per dolar AS pada akhir perdagangan Rabu dengan kenaikan 0,12 persen dibandingkan hari sebelumnya.
2. Muncul persepsi pasar terkait proses pencalonan Deputi Gubernur BI

Selain faktor global, Perry juga menjelaskan tekanan terhadap rupiah datang dari dalam negeri. Salah satunya adalah tingginya permintaan valuta asing (valas) dari perusahaan-perusahaan besar seperti Pertamina, PLN, dan Danantara yang turut berkontribusi pada aliran modal keluar.
Di samping itu, persepsi pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia dan proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia juga turut mempengaruhi sentimen pasar.
"Terkait dengan pencalonan Deputi Gubernur BI, kami tegaskan proses ini sudah sesuai dengan undang-undang tata kelola yang berlaku dan tidak mempengaruhi independensi Bank Indonesia. Kami tetap menjaga pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia dengan profesional dan tata kelola yang kuat," kata dia.
3. Cadangan devisa digunakan untuk intervensi stabilkan rupiah

Perry mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah juga bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami oleh banyak negara lainnya. Bank Indonesia pun tidak segan-segan melakukan intervensi besar-besaran guna menjaga stabilitas rupiah.
“Kami akan terus melakukan intervensi, baik melalui instrumen non-deliverable forward (NDF), domestik non-deliverable forward (DNDF), maupun intervensi di pasar spot domestik untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Meskipun ada tekanan, nilai tukar rupiah akan cenderung menguat seiring dengan solidnya fundamental ekonomi Indonesia yang didukung oleh imbal hasil menarik, inflasi rendah, serta prospek ekonomi yang membaik. Selain itu, Bank Indonesia juga memiliki cadangan devisa yang cukup besar dan siap digunakan untuk stabilisasi nilai tukar.
“Cadangan devisa kami saat ini cukup besar dan lebih dari memadai untuk melakukan intervensi. Kami akan terus menggunakannya tanpa ragu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry.
Dengan langkah-langkah stabilisasi yang terus diperkuat, Perry optimistis rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat dalam waktu dekat.

















