Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bos OJK Soroti Proyeksi IMF soal Ekonomi Global Bakal Lesu
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi. (dok. YouTobe OJK)
  • OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah gejolak ekonomi global.
  • IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen akibat perang yang berkepanjangan.
  • Tekanan geopolitik, tarif AS, dan kondisi manufaktur dunia dibahas bersama investasi AI sebagai penyeimbang prospek global.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
akhir 2022

Rilis data kuartal II menunjukkan level pertumbuhan ekonomi terendah sejak akhir 2022, dengan konsumsi dan investasi swasta masih lemah.

24 Juli 2024

Tarif sementara yang digantikan kebijakan tarif baru AS terhadap 60 negara mitra dagang berakhir.

awal Juli 2026

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat setelah gagalnya gencatan senjata antara AS dan Iran.

Pada Juli 2026

IMF merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen akibat perang yang berkepanjangan.

Selasa (4/8/2026)

Kiki menyampaikan penilaian OJK dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    OJK menyoroti penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh IMF menjadi 3 persen pada 2026.
  • Who?
    Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi alias Kiki, IMF, Amerika Serikat, Iran, serta negara mitra dagang AS.
  • Where?
    Konferensi pers berlangsung di Jakarta, sementara tekanan ekonomi dibahas dalam konteks pasar dan perekonomian global.
  • When?
    Kiki menyampaikan hal ini dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Selasa (4/8/2026).
  • Why?
    Proyeksi dikoreksi akibat perang berkepanjangan, konflik geopolitik, tekanan pasar energi, dan kebijakan perdagangan negara maju.
  • How?
    Konflik dan tarif baru meningkatkan premi risiko serta volatilitas komoditas, sementara investasi AI disebut menjadi faktor penyeimbang prospek pertumbuhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

OJK bilang keuangan di Indonesia masih terjaga walau ekonomi dunia sedang banyak tekanan. Kiki dari OJK bilang IMF menurunkan perkiraan ekonomi dunia tahun 2026 menjadi 3 persen. Ada perang, harga minyak naik, dan tarif baru dari AS. Investasi AI disebut bisa membantu menahan ekonomi dunia agar tidak makin lemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Penilaian OJK bahwa stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga menunjukkan adanya ketahanan di tengah gejolak global. Di sisi lain, arus investasi yang masif pada teknologi kecerdasan buatan memberi sinyal positif karena disebut dapat menahan pelemahan ekonomi yang lebih dalam dan menyeimbangkan prospek pertumbuhan global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah gejolak perekonomian global. Meski demikian, OJK menyoroti tingginya tekanan ekonomi global yang memicu penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi alias Kiki mengatakan, proyeksi pertumbuhan ekonomi global mengalami koreksi menyusul memanasnya konflik geopolitik di berbagai wilayah, dan kebijakan perdagangan negara maju.

"Pada Juli 2026, IMF merevisi ke bawah outlook pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3 persen sebagai dampak perang yang berkepanjangan," kata Kiki dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Selasa (4/8/2026).

1. Konflik geopolitik dan tarif baru AS picu premi risiko global

ilustrasi konflik di Timur Tengah (pexels.com/Ahmed akacha)

Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat usai gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak serta menaikkan tekanan di pasar energi dunia.

Selain konflik geopolitik, AS juga memberlakukan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang untuk menggantikan tarif sementara yang berakhir pada 24 Juli 2024.

"Naiknya tekanan di pasar energi global serta pengenaan tarif baru membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas berpotensi berlanjut," ujar Kiki.

Dia menambahkan, kondisi ini menyebabkan outflow nonresiden di pasar keuangan global kembali terjadi, meskipun intensitasnya mulai menunjukkan moderasi.

2. Pertumbuhan manufaktur negara berkembang masih terbatas

ilustrasi produksi manufaktur (pexels.com/Freek Wolsink)

Indikator perekonomian dunia menunjukkan ketimpangan (divergensi) antarwilayah. Aktivitas manufaktur di negara-negara maju mencatatkan perbaikan yang lebih kuat, sedangkan pertumbuhan manufaktur di negara berkembang cenderung terbatas.

Di AS, inflasi bergerak termoderasi dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil. Tren penurunan inflasi juga terjadi di kawasan Eropa dan Inggris.

Kiki juga menyampaikan, kondisi perekonomian di China yang masih ditopang oleh kinerja ekspor, sementara konsumsi dan investasi belum sepenuhnya pulih.

"Rilis data kuartal II menunjukkan level pertumbuhan ekonomi terendah sejak akhir 2022 dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah dan ekspor tetap menjadi penopang utama," katanya.

3. Investasi AI jadi pendorong penyeimbang ekonomi dunia

Ilustrasi manusia dan kecerdasan buatan (Igor Omilaev / Unsplash.com)

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan pasar komoditas, sektor teknologi memberikan sinyal positif bagi prospek pertumbuhan global. Kiki mengungkapkan masifnya arus investasi pada teknologi akal imitasi (artificial intelligence/AI) menjadi faktor penahan pelemahan ekonomi yang lebih dalam.

"Namun, perkembangan investasi AI menjadi upside risk yang menyeimbangkan prospek pertumbuhan ekonomi global," ucap dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article