Pasar saham Asia kembali bergerak hati-hati pada Senin (26/10/2026), ketika investor menghadapi tekanan dari saham teknologi dan menantikan keputusan sejumlah bank sentral. Di China, indeks saham unggulan CSI 300 kembali melemah sekitar 0,5 persen pada perdagangan pagi, setelah mencatat penurunan mingguan selama 11 pekan berturut-turut. Rentetan tersebut menjadi yang terpanjang sejak indeks itu dibentuk pada 2005.
Bursa Asia melemah terjadi ketika perekonomian China masih mencatat pertumbuhan, tetapi permintaan domestik belum menunjukkan kekuatan yang merata. Investor juga menilai prospek perusahaan teknologi, efektivitas stimulus pemerintah, dan ketidakpastian pasar global. Lantas, apa yang membuat saham China terus tertekan dan apa dampaknya bagi pasar Asia?
