Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bursa Asia Melemah, Saham China Catat Penurunan 11 Pekan Beruntun
ilustrasi bendera Tiongkok (pexels.com/J.D. Books)
  • CSI 300 China turun sekitar 0,5% pada Senin setelah mencatat pelemahan mingguan 11 pekan beruntun, rentetan terpanjang sejak indeks dibentuk pada 2005.
  • Saham teknologi menekan pasar karena investor mempertanyakan valuasi dan prospek laba terkait AI; indeks STAR50 turun sekitar 1,9% pada perdagangan pagi.
  • Ekonomi China tumbuh 4,5% pada kuartal III, tetapi konsumsi lemah dengan penjualan ritel naik 1,1%; tekanan China turut memengaruhi sentimen bursa Asia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pasar saham Asia kembali bergerak hati-hati pada Senin (26/10/2026), ketika investor menghadapi tekanan dari saham teknologi dan menantikan keputusan sejumlah bank sentral. Di China, indeks saham unggulan CSI 300 kembali melemah sekitar 0,5 persen pada perdagangan pagi, setelah mencatat penurunan mingguan selama 11 pekan berturut-turut. Rentetan tersebut menjadi yang terpanjang sejak indeks itu dibentuk pada 2005.

Bursa Asia melemah terjadi ketika perekonomian China masih mencatat pertumbuhan, tetapi permintaan domestik belum menunjukkan kekuatan yang merata. Investor juga menilai prospek perusahaan teknologi, efektivitas stimulus pemerintah, dan ketidakpastian pasar global. Lantas, apa yang membuat saham China terus tertekan dan apa dampaknya bagi pasar Asia?

1. Indeks saham China turun selama 11 pekan berturut-turut

ilustrasi pergerakan harga (pexels.com/Rafael Minguet Delgado)

CSI 300 merupakan indeks yang melacak kinerja 300 saham besar yang diperdagangkan di bursa Shanghai dan Shenzhen. Indeks ini menjadi salah satu tolok ukur penting untuk melihat pergerakan saham unggulan China, terutama perusahaan besar dari berbagai sektor. Penurunan selama 11 pekan berturut-turut menunjukkan bahwa tekanan jual telah berlangsung cukup lama meskipun pasar sempat mengalami penguatan harian.

Pada Jumat, 23 Oktober 2026, CSI 300 menguat 1,7 persen dan Shanghai Composite naik 0,9 persen setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya. Namun, CSI 300 tetap mencatat penurunan 1,6 persen sepanjang pekan tersebut sehingga memperpanjang rentetan pelemahannya. Pada Senin, indeks CSI 300 kembali turun sekitar 0,5 persen pada perdagangan pagi, sedangkan Shanghai Composite melemah sekitar 0,2 persen.

2. Saham teknologi tertekan oleh kekhawatiran terhadap AI

ilustrasi artificial intelligence (magnific.com/DC Studio)

Saham teknologi menjadi salah satu sumber tekanan bagi pasar China karena investor mulai mempertanyakan keberlanjutan pertumbuhan dan valuasi perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Valuasi merupakan penilaian terhadap harga saham berdasarkan kondisi keuangan, laba, dan prospek pertumbuhan perusahaan. Ketika harga saham dinilai terlalu tinggi dibandingkan dengan potensi keuntungan yang realistis, investor dapat menjual saham untuk mengurangi risiko kerugian.

Pada perdagangan Kamis, 22 Oktober, indeks CSI 300 turun 1,8 persen hingga ditutup pada level 4.036,30, sementara saham teknologi mengalami tekanan yang lebih besar. Pada Senin berikutnya, indeks STAR50 yang berfokus pada saham teknologi di Shanghai turun sekitar 1,9 persen pada perdagangan pagi. Pergerakan ini menunjukkan bahwa optimisme terhadap AI belum cukup untuk menahan tekanan ketika investor mulai mempertanyakan valuasi dan prospek keuntungan perusahaan.

3. Pertumbuhan ekonomi belum menjamin saham ikut menguat

ilustrasi kenaikan (magnific.com/magnific)

Perekonomian China tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada kuartal III 2026, meningkat dari 4,3 persen pada kuartal sebelumnya. Namun, pertumbuhan ekonomi dan kenaikan harga saham tidak selalu bergerak searah karena investor juga mempertimbangkan prospek laba perusahaan, konsumsi masyarakat, dan kebijakan pemerintah. Pasar saham dapat melemah ketika investor menilai pertumbuhan ekonomi belum cukup kuat untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara berkelanjutan.

Data resmi China menunjukkan bahwa penjualan ritel barang konsumsi hanya tumbuh 1,1 persen selama Januari hingga September 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menghadapi tantangan meskipun sejumlah sektor industri dan ekspor mencatat pertumbuhan yang kuat. Investor juga menantikan stimulus fiskal yang lebih besar untuk mendorong permintaan domestik dan memperkuat prospek bisnis perusahaan.

4. Tekanan saham China menambah ketidakpastian pasar Asia

ilustrasi investasi saham (pexels.com/iam hogir)

Pelemahan saham China dapat memengaruhi sentimen pasar Asia karena negara tersebut memiliki peran besar dalam perdagangan, industri, dan rantai pasok regional. Investor yang khawatir terhadap prospek ekonomi China dapat mengurangi eksposur pada saham berisiko atau menunda pembelian aset di kawasan tersebut. Namun, pergerakan bursa Asia tidak selalu seragam karena setiap negara memiliki kondisi ekonomi, sektor unggulan, dan kebijakan yang berbeda.

Pada Senin, 26 Oktober 2026, indeks Nikkei Jepang turun sekitar 0,2 persen dan indeks saham Korea Selatan melemah sekitar 0,5 persen. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong menguat sekitar 0,4 persen pada perdagangan pagi meskipun saham teknologinya masih mengalami tekanan. Investor juga mencermati keputusan suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat, Bank of Japan, dan European Central Bank yang berpotensi memengaruhi arus modal serta selera risiko di pasar global.

Rentetan penurunan saham China serta bursa Asia melemah menunjukkan bahwa investor masih mengkhawatirkan valuasi perusahaan teknologi, lemahnya konsumsi domestik, dan efektivitas stimulus pemerintah. Meski perekonomian China tetap tumbuh, pasar saham membutuhkan keyakinan bahwa pertumbuhan tersebut dapat menghasilkan laba perusahaan yang lebih kuat. Perkembangan konsumsi, kebijakan ekonomi, dan laporan keuangan perusahaan akan menjadi faktor penting untuk menentukan apakah tekanan di pasar China dapat mereda.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article