Kanal Pinglu (MspreilsCN, CC0, via Wikimedia Commons)
Sebelum kanal ini beroperasi, sungai-sungai utama di Guangxi mengalir ke arah timur, sehingga pergerakan kargo air dari Nanning dan daerah aliran Sungai Xijiang terpaksa memutar melalui Guangdong demi mencapai laut. Dilansir China Daily, Kanal Pinglu dirancang untuk dilayari kapal berkapasitas 5.000 tonase metrik agar muatan kargo bisa langsung berbelok ke selatan menuju Teluk Beibu melalui Pelabuhan Qinzhou. Kanal ini menjadi koridor penghubung bagi daerah pedalaman seperti Sichuan, Chongqing, dan Yunnan untuk mencapai Teluk Beibu, pintu keluar maritim terdekat bagi banyak wilayah barat daya China.
Salah satu tantangan rekayasa teknik terbesar selama pembangunan kanal adalah mengatasi perbedaan ketinggian muka air hingga 65 meter antara sisi utara dan permukaan laut. Pihak pengembang mengatasi perbedaan elevasi tersebut dengan membangun tiga simpul navigasi berpintu air ganda di Madao, Qishi, dan Qingnian. Ketiga fasilitas pengatur air tersebut berfungsi layaknya elevator raksasa yang menaikkan serta menurunkan kapal selama melintas.
Wakil Perdana Menteri China Ding Xuexiang yang hadir dalam peresmian meminta pemanfaatan penuh jalur baru ini untuk mengembangkan pelabuhan gerbang internasional kelas satu di Teluk Beibu dan mendukung keterbukaan wilayah barat China. Ding juga meminta kanal dioperasikan secara efisien.
Kanal tersebut merupakan infrastruktur utama transportasi multimoda yang mengintegrasikan sungai, rel, dan laut, serta proyek tulang punggung Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru. Sementara itu, Guru Besar Sejarah Universitas Sun Yat-sen Wu Tao menilai jalur air pedalaman tetap tidak tergantikan karena kapasitas angkutnya yang masif serta biayanya yang relatif murah untuk kargo curah.